Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
MABA 22


__ADS_3

Ibunda Anya ada di dalam kost-an setelah pulang mengurus keperluan rumah sakit, pasalnya anaknya ini enggan untuk pulang ke rumahnya di Bandung.


Anya yang terlihat capek saat di ambang pintu membuat Arin kesal, anaknya ini baru sembuh tapi selalu bermain layaknya orang normal yang tidak sakit.


Di belakang terlihat Devan yang menyusul Anya, "Kamu ini baru sembuh Anya udah capek begitu ?". Devan yang merasa tidak enak mencoba meluruskan.


"Maaf tante Anya pulang telat barusan soalnya ada sesuatu di mobil". Ucap Devan polos.


Seketika Anya mencubit pinggang Devan, Arin yang bingung langsung meminta penjelasan pada Anya, "Itu mah, tadi ada kecoa pas Anya turun dari mobil jadinya Anya lari deh".


Mereka saling melirik, "Ya udah sekarang kamu istirahat terus minum obatnya !". Anya tersenyum mamahnya ini sangat lucu sampai tidak tahu kalau ini hanya alibi dirinya.


"Devan juga izin pulang tante".


"Kamu mau kemana ? Mending ngopi dulu di sini". Ucap Arin.


Anya sepertinya sedang mentertawakan Devan dia itu calon dokter pasti tahulah kalau meminum banyak kafein tidak baik untuk tubuhnya.


"Kapan-kapan lagi aja Tan, soalnya Devan lagi ada tugas di rumah". Arin mengangguk lalu tersenyum kemudian Devan pergi meninggalkan keduanya.


Setelah sampai di rumah Devan langsung membersihkan diri lalu kebiasaannya itu selalu minum susu di malam hari entahlah dirinya begitu menyukai ini rasanya selalu menemani malamnya sesaat sebelum mengerjakan tugasnya yang sudah menumpuk apalagi besok ada ujian.


Di atas nakas handphone Devan berbunyi, setelah ia menghampiri tertera nama Anya di ponselnya, senyumannya terbit seketika sepertinya nama Anya akan menjadi mood booster untuk kedepannya.


Karena sekarang Anya sudah menjadi pacarnya Devan mencoba mengganti nama itu menjadi by.


^^^by^^^


^^^Uda sampe ?^^^


Devan


Udah by


^^^by^^^


^^^Jangan lupa makan ya ? Selamat belajar ?^^^

__ADS_1


Devan tersenyum lagi rasanya Anya aneh dan berbeda tapi jika sedang begini terlihat lucu apalagi jika Devan bisa melihat wajahnya.


Devan


Kamu juga, jangan lupa minum obat ? terus tidur


^^^by^^^


^^^iya sayang, dahh^^^


Devan menutup ponselnya, segera ia menuju laptopnya, tugas sudah menantinya jika belajar sebenarnya Devan tipe orang yang tidak perlu karena ia sudah mempelajarinya saat sedang praktik atau dosen menjelaskan apalagi jurusan kedokteran yang menuntut pemahaman yang mendalam membuat Devan cukup paham.


Di sebrang sana Anya memukul boneka kesayangan hanya karena Devan tidak membalas pesannya bukannya dia bisa membalas dengan dah sayang atau setidaknya dah saja, tapi ini tidak ada dan hanya di read.


Menatap langit-langit kamar, dirinya seketika tersadar bagaimana sosial medianya Devan, Anya langsung mencari nama Devan di kolom pencarian ternyata tidak susah karena Devan menulis dengan nama aslinya.


Dari profilnya hanya ada sebuah foto kamera digital yang aesthetic saat di scroll ke bawah hanya ada 3 foto, dirinya cukup penasaran dengan gambar bayangan orang di pinggir pantai dengan sunset yang cantik.


Anya tahu itu adalah foto perempuan, tapi kenapa Devan mempostingnya ? Atau belum menghapusnya ? Anya langsung menggelengkan kepalanya kenapa ia menjadi posesif seperti ini.


Anya langsung mengembalikan ponselnya lalu mematikannya, jika di pikirkan ia memang belum terlalu banyak mengenal Devan jikapun kenal hanya karena permasalahan antara mereka.


Kepala Anya terasa sangat pusing ia lebih memilih untuk tidur dari pada memikirkan hal-hal yang tidak penting, seharusnya ia memikirkan akan masak apa dirinya untuk Devan besok.


Sudahlah besok saja sekarang dirinya hanya butuh tidur dan ketenangan.


...***...


"Ini pa saya mengirim makanan yang bernama Irana ?". Bapak penjaga itu menerima kemudian mengangguk.


"Terimakasih pa". Pria itu mengangguk lalu pergi meninggalkan tempatnya.


Ryan masih setia ia selalu mengirimkan Irana setiap harinya makanan karena ia takut perempuan yang di cintainya itu akan sakit.


Untuk orang tuanya, mereka benar-benar tidak perduli bahkan sampai di penjara pun tidak pernah sekalipun mereka menjenguk Irana, mereka terlalu rakus mencari uang hanya untuk pangkatnya.


Ryan berfikir ia harus menemui Anya dan memohon untuk mengeluarkan Irana dari tempat ini, iya benar menurutnya hanya Anya yang dapat membantunya.

__ADS_1


Ryan mengambil kunci motor di sakunya dan berniat untuk mendatangi rumah Anya.


Di dalam ruangan Devan sedang memainkan pulpen yang di pegangnya sekarang ia sedang mengikuti ujian blok ke-3 berbasis tulis yang berisi 100 soal, memang tidak heran kedokteran menjadi salah satu jurusan dengan tingkat kesulitan tertinggi.


sedari tadi Devan malas meladeni semua cewek yang mempertanyakan hubungannya dengan Anya karena mereka melihat video yang tersebar luas tentang kejadian di mana dirinya menembak Anya.


Tapi Devan merasa tidak perduli bukan ia tidak mengakui Anya sebagai kekasihnya hanya untuk menjaga Anya dari korban perempuan yang memang tidak punya malu.


Akhirnya kertas ujiannya sudah selesai Devan bisa terlebih dahulu keluar untuk pulang ke ruang BEM yang ada di fakultas Manajemen, baru saja Devan berjalan di lorong kampus Niana sudah menghampiri Devan dengan embel-embel temennya.


"Dev lo jadian sama mahasiswa baru itu ?". Ucap Niana, Devan tetap berjalan tanpa menghiraukan mereka.


"Bener Van lo jadian sama dia ?".


Mereka mencoba menyeimbangi langkah Devan dengan cepat, Niana tersenyum.


"Mana mungkin Devan jadian sama maba gembel itu !". Ucapnya meremehkan.


"Jadi maba udah kayak udah jadi profesor banyak bacotnya". Tangan Devan mulai mengepal, justru mulut mereka yang selalu berbicara tapi tidak pernah ada isinya.


Mereka bertiga tertawa dengan keras, "Gue emang udah jadian sama dia ?". Niana menoleh dengan raut wajah tak percaya, mana mungkin seorang Devan ingin berpacaran dengan cewek seperti itu.


Irana saja yang sudah lama seperti menyukai Devan tidak pernah di sukai balik tapi ini seperti mustahil rasanya.


Tepat di depan gedung Devan berhenti ketiganya pun berhenti.


"Tapi Dev, mana mungkin lo jadian sama cewek yang begitu ?". Tanya Niana.


"Begitu gimana maksud Lo ?".


Niana mencoba berfikir, "Cewek gembel kayak dia ?".


Devan memijit hidungnya sebentar, cewek di hadapannya ini sangat ribet hanya perihal pacar.


"Terus gue harus sama lo gitu yang kecentilan, Lo yang kegatelan tiap ketemu gue apa Lo juga gitu ke semua cowok ?". Tanyanya datar.


"Apaan sih lo Dev, jangan mentang-mentang Lo ganteng lo bisa seenaknya". Ucap temannya.

__ADS_1


__ADS_2