
"Ini makanan buat lo Nya, mending lo makan dulu deh nanti lanjut lagi nulisnya".
"Makasih Rey, tapi gue bawa". Anya merasa kalau perhatian Reyhan sudah melewati batas lebih.
"Kenapa ?".
"Kenapa apanya ?". Ucapnya sambil lanjut menulis.
"Apa pacar lo tau tentang ini ?". Ia mengerti sepertinya Reyhan paham apa yang tengah ia rasakan sekarang.
"Bukan tau tapi gue lebih ngejaga perasaan dia, meskipun dia jauh setidaknya gue harus setia".
Reyhan berdecih, "Jaman sekarang lo gak usah terlalu percaya sama orang lain. Lo juga gak tau kan gimana kelakuan dia di luar sana ?".
Pertanyaan Reyhan membuat Anya terdiam, jika otaknya mengatakan iya atas itu tapi hatinya menolak keras.
"Ga papa Rey, mungkin nanti gue yang bakal sakit hati". Jawaban itu keluar begitu saja dari bibirnya.
"Tapi gue gak mau liat lo sakit ?".
"Kenapa ?".
"Gue suka sama lo Nya ?".
Ia terdiam mendengar penuturan Reyhan, bukankah ini sangat spontan ? Lagipula kenapa Reyhan membicarakan ini pada dirinya bukankah ia tahu Anya sudah memiliki kekasih?.
"Tapi gue tau Lo udah punya pacar, jangan jadiin perasaan gue sebagai beban Nya. Gue cuman mau ungkapin itu doang dan lo gak perlu bales dengan apapun".
"Jangan lupa ini dimakan". Ucapnya sambil berdiri dan pergi keluar ruangan.
Jika begini Anya menjadi tidak enak hati, bukankah niat Reyhan itu baik agar Anya tidak lupa sarapan.
Tapi mau bagaimana lagi. Biarlah, toh memang ini kan yang Anya inginkan ? Anya hanya sedang ingin memperbaiki hubungannya dengan Devan karena keduanya sudah berkomitmen untuk saling menjaga hati.
...***...
Setelah mengetahui Devan sudah mempunyai pacar hatinya menjadi tidak menentu seperti ini. Ekspetasi Karen terlalu tinggi hingga menyangka bahwa Devan terlalu mencintainya.
Sekarang Karen tengah berjalan untuk mencari Devan entahlah ia merasa hanya ingin mendengar itu langsung dari Devan. Ternyata Devan sedang berada di kelas bersama Ryan.
Segera ia mendekati keduanya, "Dev aku mau nanya ?".
Devan melirik sekilas, "Nanya apa ?".
"Emang bener kamu udah punya pacar ? Namanya Anya dan dia mirip banget sama aku ?".
__ADS_1
Devan diam
Karen terkekeh pelan, kekecewaan ini terlalu dalam ia terima.
"Jawab Dev ?". Teriaknya, bahkan satu kelas pun sudah memandang mereka.
Ryan yang di sampingnya pun merasa takut terkena amukan Karen, ia memilih bangkit untuk tidak campur urusan ini. Tapi lengannya malah di cekal oleh Devan.
"Lo di sini aja !". Titahnya.
Ryan duduk kembali, "Iya gue pacaran sama Anya ?". Tegas Devan.
Jawaban Devan justru membuat rasa sakit dalam hatinya semakin nyata, "Aku kira kamu masih cinta sama aku Dev ?". Lirihnya.
"Maaf Kar ?".
"Maaf ? Enak banget kamu ngomong kayak gitu, di sana aku berjuang buat hidup lagi itu buat siapa Dev ? Buat kamu Dev cuman kamu ".
Jedanya "Kalau tau kejadiannya bakal begini aku milih buat mati aja sekalian !".
"Kar".
Devan berdiri dan mencoba untuk menggapai pundak wanita di hadapannya, "Cinta itu gak bisa di paksain Kar, Lo masih bisa jadi temen gue.. ?".
Lengan Devan di tepis, "Tapi gue maunya lo Dev ?". Ucapnya kekeh.
Cairan bening yang ada pada pelupuk mata lebur begitu saja. Sejak tadi Karen berusaha mati-matian agar tidak cengeng tapi buktinya apa ? Bahkan ia masih lemah dengan bersikap seperti ini.
"Oke gue tanya sekali lagi sama lo Dev, lo cinta sama Anya karena lo bener cinta sama dia apa itu cuman bayangan gue semenjak gue gak ada ?".
"Maksud lo ?".
"Gue tau pacar lo itu katanya mirip banget sama gue, gue jadi ragu mungkin lo pacarin dia gegara dia mirip gue bukan karena hati".
Irana yang baru masuk pun bingung dengan hebohnya mahasiswa yang tengah melihat perdebatan yang sangat seru.
"Dasar Karen gak berubah". Ejeknya.
Anak ini tetap sama, selalu saja keras kepala. Tapi jika di pikirkan lagi dirinya pun sama saja seperti Karen.
Harus mendapatkan apa yang dia mau.
Ia memilih untuk mengedikan bahu, lebih baik memusatkan perhatiannya dengan menonton drama nyata di hadapannya.
Pertanyaan itu seolah Devan tanyakan pada dirinya sendiri. Tak menampik jika pertama kali melihat Anya itulah yang Devan rasakan seolah ia nyaman dengan hadirnya Anya sebagai pengganti Karen.
__ADS_1
"Kamu gak bisa jawab kan Dev ? dia itu beda Dev ?".
Meskipun Karen belum tahu bahkan mengenal Anya tapi bisa ia pastikan untuk menarik lagi perhatian Devan agar bisa mencintainya kembali.
"Jelas lo sama Anya beda Kar, kalian punya sifat dengan mengungkapkan rasa sayang yang berbeda".
"Terus, apa gak ada kesempatan lagi buat gue Dev ? Bahkan gue siap ngorbanin hidup gue buat lo ?".
Devan menggeleng lemah.
"ARRGGHHH".
Di bantingnya kursi dan meja yang ada di sampingnya, sekarang kelas telah ricuh oleh amukan Karen yang tak terkendali.
Tapi sama. Bahkan Devan hanya diam melihat Karen yang menangisi dirinya, sepertinya Devan perlu berfikir lagi untuk masalah ini.
Sambil menangis dan memegang kaki Devan Karen memohon sangat supaya Devan menerima kembali dirinya.
"Dev, mending lo pikirin lagi deh. Gue cuman takut dia bunuh diri cuman gegara masalah ini ! Menurut gue gak ada salahnya kan nerima dia kembali dan mencoba buat pastiin lagi perasaan lo ?". Ucap Ryan menenangkan.
Benar apa yang Ryan katakan. Harusnya juga ia lebih berfikir jauh tentang ini.
"Tolong Dev".
Ia jadi tak tega melihat Karen, Devan berjongkok lalu membantu Karen buat berdiri.
"Kita obrolin ini nanti lagi ya ? Sekarang gue anter lo pulang". Sambil tersedu-sedu Karen mengangguk lalu membawa tas yang ia bawa sambil di iringi oleh Devan.
Sengaja Devan mengantar Karen pulang, di lanjutkan pun Karen tidak akan konsen dengan apa yang dosen jelaskan malah yang ada keadaan makin parah menurutnya.
Saat di perjalanan menuju parkiran mobil, Karen mencoba untuk memegang lengan Devan lembut.
"Aku sayang banget sama kamu Dev ?".
"Udah Nya nanti aja kita bahasnya ya ?".
"Nya !". Ucapnya lemah.
Kenapa harus salah bicara saat keadaan sedang seperti ini, "Maksud gue nanti Kar ?".
"Apa gak ada ruang buat aku lagi Dev di hati kamu ?".
Matanya lurus ke depan, seolah semuanya sudah berjalan mundur menjauhi dirinya. Saat itu juga penglihatannya mulai memburam dan ia tidak ingat apa-apa lagi.
Ada satu kalimat yang membuat Karen seolah ada harapan untuk kedepannya.
__ADS_1
Gue akan mencoba buat nerima kehadiran lo lagi Kar.