
Sejak tadi Arin pusing dengan rengekan anaknya yang meminta pulang, papahnya sudah izin pulang ke kantor duluan karena harus ada meeting mendadak.
"Nya kamu masih sakit loh, jahitannya aja belum kering". Tapi tetap saja Anya merengek minta pulang.
"Mamah Anya udah sembuh liat nih !". Dia memperlihatkan dengan mencoba melompat-lompat, "Yah mah plis". Anya mengeluarkan puppy eyes untuk merayu.
Arin menghela nafas "Terus kamu mau balik ke kost-an?". Anya mengangguk cepat.
"Enggak, gak mamah izinin kamu pulang ke sana kalau kamu mau ikut pindah sama mamah baru di izinin". Bibir Anya semakin maju ke depan.
Jika begini percuma saja, Anya sudah betah tinggal di kost-an nya, ia hanya bosan di rumah sakit dan ingin menikmati kebebasan seperti biasa.
Pintu di ketuk saat di buka ternyata ada Devan yang datang menemuinya, "Kenapa di beresin Tante ?". Ucap Devan sambil menyalimi Arin.
"Anya tuh Devan baru sehari di rumah sakit udah minta pulang !". Devan menoleh.
"Gak mau tau Anya pokonya pengen balik ke kost-an". Jika begini sifat kekanak-kanakannya mulai keluar, kenapa tidak ada yang mengerti dirinya ?.
"Emangnya udah sembuh ?". Tanyanya.
Anya mengangguk semangat, "Mah Anya izin pengen jalan-jalan sebentar sama Devan, sebentar aja ?".
Arin berkacak pinggang anaknya ini sebenarnya mau apa sih ? tadi Anya mengamuk minta pulang sekarang malah ingin jalan-jalan.
Devan berpikir sejenak ini adalah kesempatan untuk dirinya agar lebih dekat dengan gadis ini tapi kenapa Anya menjadi seseorang yang berbeda, kemarin-kemarin sifat dan perlakuannya tidak begini sekarang malah seperti orang yang saling menginginkan.
"Dev jaga Anya yah, temenin aja sebentar". Devan mengangguk lalu mendekati Anya untuk membantunya berjalan.
"Mah Anya pergi dulu !". Izin keduanya kemudian pergi meninggalkan ruangan, ada beberapa keperluan yang harus Arin lakukan sekarang ia akan beberes perlengkapan Anya dahulu kemudian pergi ke meja administrasi.
Pegangan Devan pada bahunya menyalurkan sensasi aneh dalam hatinya, kenapa dirinya menjadi begini ? Anya memejamkan mata rasa malu itu mulai muncul di ujung pikirannya.
Sampai di parkiran Devan membukakan pintu mobil untuknya, di dalam mobil suasana terasa canggung, "Mau ke mana Nya ?". Tanya Devan sambil menghadap ke arahnya.
"Enggak tau kak". Jawab Anya santai.
Devan tersenyum kata Kak terasa aneh di dengarnya jika dulu Devan merasa marah karena dia berkata seperti itu tapi kenapa sekarang dirinya merasa aneh Anya berbicara begini ?.
Anya sedikit terpaku dengan senyuman yang memabukkan itu tapi ia harus berusaha bersikap biasa saja, "Kenapa senyum ?". Tanya Anya.
Devan menggeleng lemah kemudian ia mendekatkan dirinya ke arah Anya. Anya yang kaget karena Devan mendekat refleks memejamkan matanya.
Devan membantu memasangkan selbheat dan itu membuat Anya malu bukan kepalang di lihatnya Devan yang tersenyum lagi karena melihat tingkahnya.
Sepanjang jalan dirinya hanya menghadap pada kaca mobil jangankan untuk memulai pembicaraan untuk menoleh saja rasanya ia tak bisa.
__ADS_1
"Udah makan ?". Tanyanya.
Anya hanya mengangguk, Devan merasa gemas dengan tingkah cewek di sampingnya ini, dari tadi Anya tidak menyadari bahwa Devan sedang mencuri pandang.
Devan memarkirkan mobilnya di cafetaria, ini adalah tempat yang Devan sangat sering datangi bersama Karen dulu, jika ke sini Devan selalu teringat dengannya tapi kali ini tidak seolah Anya perlahan-lahan sudah menggeser posisi itu.
"Kan gue bilang gue gak laper kak ?". Devan melepaskan selbheatnya, "Gue laper temenin bentar ya ?". Untuk kedua kalinya Anya menanggung malu.
Devan tertawa cukup keras, wajah Anya sudah seperti kepiting rebus sekarang, "Gue tau Lo belom makan, gue gak mau Lo sakit lagi jadinya gue ngajak Lo ke sini".
Keduanya turun, kesan pertama yang Anya dapat saat masuk ke kafe ini adalah nyaman entahlah Anya hanya merasa begitu, lukisan esthetic di tambah dengan nuansa coklat yang mendominasi menambah rasa hangat dalam hatinya.
"Mau pesen apa ?". Sepertinya Anya bingung, Devan berinisiatif untuk memesan makanan yang enak menurutnya.
"Kak ?". Tanya Anya, Devan menjawab dengan pandangan yang mengarah kepadanya.
"Kenapa Kak Devan suka sama aku ?".
Devan mengangkat bahunya, "Gue juga gak tau, gue rasa nggak ada alasan seseorang buat suka sama orang lain".
"Terus kak Devan bakal gantung gue terus gitu ?". Tanyanya jelas.
"Ngebet banget sih pengen jadi pacar gue". Lagi lagi Devan tersenyum, senyum yang membuat orang lain betah menatapnya.
Dirinya langsung tersadar saat makanan yang mereka pesan sudah datang, Anya makan dengan sangat lahap sampai tidak sengaja telinganya mendengar orang lain saling berbisik.
Jika di lihat Devan memang cowok yang hampir mendekati sempurna mulai dari wajah, penampilan sampai dengan finansial tapi tetap saja sebagai seorang manusia mempunyai kekurangan yang tidak bisa di lihat oleh orang lain.
Tapi tetap saja Anya tidak suka orang mendambakan Devan seperti ini, Devan menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Anya.
"Sini biar gue bantuin". Ucap Devan, ia menyelipkan beberapa rambut yang terurai agar tidak mengenai makanan, Devan menyendokan nasi goreng dan memberikan suapan untuk Anya.
Anya yang kaget merasa oksigen dalam hidungnya mulai kurang tapi ia tetap memakan dan mengunyahnya.
Devan tersenyum tipis saat orang lain berteriak iri melihat mereka sebenarnya tujuan dirinya bukan itu ia hanya ingin Anya merasa bahagia atas dirinya.
Saat makanan mereka sudah habis, Devan membayar bill dan keduanya keluar dari cafe ternyata sore sudah berganti malam, keduanya memasuki mobil untuk pulang ke rumah.
"Kak Devan ke pasar malem bentar yu, ada pasar malem yang baru di buka kemarin malem soalnya ?".
"Gak boleh Nya kan gue udah janji sama Tante Arin buat gak boleh bawa Lo lama".
Anya memajukan bibirnya lagi, "Plis kak bentar doang, janji". Ucapnya sambil mengeluarkan jari kelingkingnya.
"Bentar doang". Anya tersenyum senang akhirnya ia bisa ke pasar malem setelah sekian lama.
__ADS_1
Di pasar malam mereka melihat banyak sekali wahana yang tersedia, Anya tertarik untuk menaiki wahana kora-kora seperti perahu yang bergerak maju mundur.
Bukan hanya Anya Devan pun merasa menikmati permainan ini, banyak orang yang merasa ketakutan bahkan sampai muntah berbeda dengan dua orang ini yang sepertinya ketagihan mereka mencoba untuk keduanya kalinya karena memang terlalu asik.
Kedua orang itu tertawa dengan lepas seolah kejadian dahulu yang saling bermusuhan mulai menyatukan mereka, Devan tidak menyangka akan menemui gadis semanis dan se arogan ini.
Lanjut dari itu mereka membeli arumanis untuk menemani cemilan malam ini, Anya terlihat pergi menjauhi Devan.
Saat di susul ternyata Anya sedang melihat banyak balon yang di pegang oleh badut yang berjualan, "Mauu". Ucap Anya sambil memegang tangan Devan.
Badut itu memberi satu balon helium pada Anya, ia yang menerimanya terlihat senang seperti anak kecil.
"Berapa mas ?".
"Sepuluh ribu aja". Ucap mas dalam badutnya.
Devan langsung mengeluarkan uang dan di berikannya pada badut itu.
"Makasih mas, semoga ngidamnya yang gampang-gampang aja ya mas ?". Anya dan Devan seketika terdiam.
Ngidam ?
Anya tersenyum menanggapi saat menoleh ke arah Devan sepertinya ia sedikit shock dengan ucapannya, Anya langsung menggandeng lengan Devan, "Suami saya emang sedikit pemalu, permisi ya".
Anya membawa Devan duduk di antara orang yang sedang menikmati malam minggu ini.
Setelah duduk pun Devan masih terdiam ucapan badut tadi masih menjalarkan rasa aneh dalam hatinya, belum pernah ia memikirkan untuk menikah apalagi mempunyai anak.
Dari samping sosok Anya terlihat lembut dan sayu apakah ia akan mempunyai anak dari rahim seorang yang ia cintai di sampingnya ? Meskipun Anya sedikit angkuh mungkin dengan dia mempunyai anak apakah keangkuhan akan kalah ?.
Anya menoleh ia kaget karena Devan sedang memandangnya, "Kenapa kak ?".
Devan menggeleng, "Enggak".
"Terus itu ngeliatin gue kenapa ?".
"Emang kenapa, gak boleh mandangin pacar sendiri ?".
Pacar tidak bisa di elakan bahwa perkataan Devan barusan membuat Anya merasa terbang.
"Pacar ?". Beo Anya, pasalnya di rumah sakit yang menganggap Devan sebagai pacar adalah sebagai bentuk rasa senang dalam dirinya.
Devan terdiam lalu menunduk sengaja ia mendekatkan duduknya pada Anya, ia mencoba merangkai kata tentang apa yang akan di ungkapkannya.
Mata keduanya saling bertemu, mencoba mengungkapkan rasa yang ada dalam keduanya. Anya meremas tangannya tatapan Devan sangat teduh untuk ia lihat jika begini ia benar-benar ingin langsung menikah sekarang saja.
__ADS_1
"Lo mau jadi pacar gue ?".