Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
33 MABA


__ADS_3

Sejak tadi siang Anya tidak juga membalas WhatsApp, dirinya telpon pun tidak aktif. Sampai sekarang sore sudah berganti malam handphone Anya tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan membalas.


Wajar saja Devan khawatir dengan keadaan Anya di sana, ia hanya takut ada hal yang tidak di inginkan. Bagaimana jika Anya sakit ? Karena Devan tahu Anya orang yang sangat pelupa dalam hal sarapan.


Sejak dari kampus ia memang belum pulang karena gusar dengan keadaan kekasihnya. Baru kali ini Anya tidak aktif dalam jangka waktu lama tapi kekhawatirannya sirna akibat dering telpon yang berbunyi.


"Halo, ada apa Bun ?".


"Devan kamu ada dimana ?". Ucap Femi di sebrang sana.


"Devan lagi di cafe Bun, tumben nanyain ?".


"Pulang dulu sayang, ada temen kamu di sini".


"Temen ?".


"Iya cepet ya, bunda tunggu di rumah".


Telponnya sudah terputus kemudian Devan berfikir, biasanya jika itu Ryan pasti langsung menemui dirinya di sini. Tapi ini siapa ? Anya kah ?.


Devan langsung keluar cafe dan menaiki motor ninjanya untuk pulang ke rumah. Tidak butuh waktu lama karena sekarang bukan Sabtu malam jadi jalanan tidak cukup ramai.


Ia sudah sampai di pekarangan gerbang rumahnya tapi yang aneh ada mobil berwarna putih yang terparkir di garasi. dalam batinnya ia seperti tidak asing dengan mobil itu.


Tidak ambil pusing Devan langsung masuk ke dalam rumah, saat membuka pintu di ruang tengah bundanya sedang berbicara dan sepertinya bersama seorang perempuan karena rambutnya yang terlihat terurai.


Saat mulai mendekat, terdengar candaan dari keduanya tapi suara itu tidak aneh bagi Devan. Jantungnya mulai berpacu lebih cepat, mendekati perempuan yang sedang membelakangi dirinya sambil tertawa renyah.


Tawa itu


Devan mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya. Tubuhnya seolah bereaksi dengan cepat, nadi darahnya pun seolah memberi sinyal untuk menampik sesuatu yang tidak mungkin terjadi.


Dia menoleh. Detik selanjutnya hanya pandangan mata keduanya yang bisa berbicara. Ini seperti mimpi yang jadi nyata.


Dia. Sangat sama dan tidak berubah.

__ADS_1


"Karen !".


"Devan !".


Ia merasa kakinya sudah sangat lemas seperti jelly. Bagaimana bisa orang yang sudah meninggal hidup kembali ?. Devan menahan keseimbangan agar pelukan Karen secara langsung ini tidak membuatnya oleng.


"Gue kangen banget sama lo ?".


Keterkejutan ini mulai di cerna dengan baik oleh Devan, ia melepaskan pelukan Karen sambil mencoba berfikir. Semua seperti lelucon yang sangat tidak lucu.


Wajah Karen terlihat sangat kaget dengan perlakuan mantan pacarnya itu, "Kita bicara di belakang ?".


Terlebih dahulu Devan berjalan menuju taman di belakang rumahnya. ia yang bingung di balas anggukan oleh Femi, kemudian di susul oleh Karen di belakangnya.


"Jelasin Ren".


"Ren !". Tanyanya.


Bahkan saat ini Karen belum duduk sama sekali tapi pertanyaan Devan membuat Karen tidak mengerti.


Pandangan Devan sejak tadi lurus ke depan, pusing bagi dirinya untuk bisa menerima ini semua dan sekarang ia hanya butuh penjelasan.


"Jawab aja Ren ?".


Tetap sama.


Ia hanya bisa menghela nafas lalu menceritakan bagaimana ia berjuang melawan penyakit yang sangat menyakitkan. Dulu rumah sakit di Jakarta sudah tidak bisa menanganinya jadi ia di bawa ke los angles untuk pengobatan dan terapi yang lebih baik.


Dan itu pun butuh waktu berbulan-bulan untuk ia bisa bangun dari tidurnya yang panjang. Ia menceritakan bagaimana senangnya saat Karen bisa siuman pasca operasi karena dengan ini ia merasa bahwa Karen bisa cepat-cepat bertemu dengan Devan.


Air mata itu tak sengaja menetes, baginya kisah seperti ini ingin ia hapus secara permanen dalam ingatan.


"Dev kamu masih ngedengerin aku kan ?".


Yang di tanya hanya mengangguk lemah, Ia paham bahwa Devan memang ingin mendengar penjelasan darinya. Maklum tiga tahun memang bukan waktu yang sebentar.

__ADS_1


Ia melanjutkan ceritanya ternyata semua pengobatan dan operasi saja tidak cukup bagi Karen karena mereka takut penyakit itu akan menyebar dan mematikan fungsi organ dalamnya. Benar saja baru saja beberapa bulan dirinya melakukan kemoterapi penyakit itu menggerogoti tubuhnya lagi.


Sampai di mana dokter memvonis bahwa Karen hanya bisa hidup untuk beberapa hari ke depan saja. Orang tuanya sangat terpukul dengan kenyataan ini bahkan mereka sempat putus asa untuk Karen bisa hidup dan kembali ke Indonesia bersama mereka.


Baru kali ini Devan menoleh dan menatap manik mata kecoklatan itu. Ada perasaan senang dalam hatinya saat seseorang yang sudah lama ia rindukan mau menatap wajahnya. Ia pun tahu pasti Devan mengkhawatirkan dirinya.


"Terus dengan lo bilang lo meninggal gegara apa ?".


"Aku tau Dev di saat itu kamu terus nelpon ke nomor aku kan ? Tapi semua emang udah terjadi lagipula itu bukan salah kamu".


Ambigu.


Pernyataan Karen justru membuat Devan semakin tidak paham. Dan di saat itu Devan terus menelpon pada nomor telpon yang jarang dia bahkan keluarganya buka. Kebetulan saat itulah detak jantung Karen sudah tak terdeteksi lagi oleh alat rumah sakit dan ia di nyatakan meninggal dunia.


"Kamu tau aku meninggal dari bunda kan Dev ? Itu emang bener terjadi malah bunda sama ayah udah nyiapin keperluan pesawat buat aku di bawa ke Indonesia". Jelasnya.


Raut wajahnya sangat tertekan untuk mengucapkan ini semua, mungkin karena kejadian itu masih baru dan masih tercetak jelas dalam ingatannya.


"Tapi Tuhan masih baik Dev, dia masih mau ngasih aku kesempatan buat hidup. Dan sekarang aku bakal gunain hidup kedua ini sama hal yang buat aku bahagia dan itu kamu !". Lanjutnya.


Bibirnya terasa sangat kering sekarang. Ini memang bukan kesalahan Devan maupun Karen, ini hanya kesalahan informasi yang membuat dirinya harus menyiksa dengan menyalahi diri sendiri semenjak kematian Karen.


"Terus kenapa lo gak langsung hubungi gue aja, dengan lo bilang lo masih hidup mungkin sekarang gak bakal kayak gini kejadiannya ?".


Cewek di sampingnya hanya menunduk sebagai jawaban dari pertanyaan dirinya, "Ini emang salah aku Dev ! Karena saat itu bunda jadi mulai protektif dan membatasi ruang aku buat berinteraksi sama orang banyak".


"Aku pikir dengan kamu tau aku meninggal ngebuat kamu jadi lupa sama aku, tapi salah Dev ! Justru aku yang malah gak bisa lupain kamu ?".


"Dev !".


Ia menoleh, raut wajahnya terlihat sangat frustasi dengan kenyataan ini, "Aku kangen banget sama kamu, boleh peluk aku sebentar gak ?".


Devan terdiam sebentar karena keinginan Karen lalu mengangguk singkat.


Karen tersenyum lalu memeluk tubuh Devan dengan sangat erat, yang di pelukannya pun sama membalasnya dengan hangat. Ia rasa ini semua hanya kesalahan kecil.

__ADS_1


__ADS_2