
"Tuh kan pak Hilmi aja terpesona". Kata mba yang terus menggoda keduanya.
Anya dari tadi hanya menunduk karena malu. Hilmi yang tersadar langsung berdiri dan merasa salah tingkah. "Suka bajunya ?".
Anya mengangguk, "Ambil yang ini aja". Jawab Hilmi pada mba yang berdiri.
Setelah di rasa semuanya telah mereka beli. Keduanya beriringan berjalan menuju lantai bawah mall. Mata Anya menangkap permainan yang sangat ia sukai.
"Ke sana bentar yu".
"Ngapain ?".
"Main itu". Hilmi mengikuti arah pandang Anya. Anya menunjuk sebuah permainan menangkap boneka menggunakan capitan dan koin.
"Kayak bocah tau gak".
"Plis ya, gue pengen banget. Sekali aja".
Percuma Hilmi menolak karena Anya terus merengek seperti anak kecil. Biarlah sesuka wanita itu Hilmi hanya berniat mengantar.
"Ah, susah banget".
Sudah belasan koin yang masuk tapi Anya belum juga mendapatkan satu pun boneka. Hilmi sedang berdiri sambil memandang Anya dengan tatapan geli. Ternyata Anya adalah anak yang ambisius, terlihat dia tidak akan selesai sebelum mendapatkan apa yang dia mau.
"Bukan gitu mainnya". Kata Hilmi, "Terus gimana". Jawab Anya yang sepertinya telah frustasi.
Hilmi memasukkan koin ke dalam mainan itu kemudian ia menuntun lengan Anya di atas pergerakan tombolnya. Ragu Hilmi meletakkan tangannya di atas lengan Anya tapi ia mencoba menetralkan setiap desiran aneh di hatinya.
"Hilmi".
"Diem"
Capitan itu mulai bergerak mencari mangsa. Bukannya Anya memperhatikan, pikirannya malah salah fokus pada tangan mereka yang saling menggenggam.
Hilmi memang baik, terkadang suka menyebalkan tapi Anya suka itu. Apakah ini jawaban tuhan atas ujian yang di berikan kepadanya. Jika iya, Anya sangat berterimakasih karena telah mengirimkan seseorang yang sangat baik padanya.
"Tuh dapet".
__ADS_1
Kedua mata langsung membola, ia sangat senang karena mendapat boneka yang dari tadi ia incar.
"Coba sekali lagi". Perintahnya.
Anya menoleh dari wajahnya mengungkapkan kalau ia tidak bisa, "Coba dulu kan udah ngeliatin gue barusan".
Mana Hilmi tahu jika tadi pikirannya sedang berkeliaran. Tak mau menyerah Anya mulai memasukan koin lagi dan mencoba sendiri. Mata dan lengannya fokus mencari target, karena keberuntungan boneka itu bisa pas jatuh tepat di samping.
"Mi dapet". Jelas Anya di depannya sambil berjingkrak-jingkrak.
Hilmi ikut senang melihat Anya padahal ini mainan sederhana tapi mampu membuat keduanya merasa sangat bahagia.
"Hilmi". Ucap seseorang yang menghampiri keduanya, "Ngapain di sini ?".
"Om Braun". Kaget Hilmi melihat om-nya ada di sini, "Hmm Hilmi lagi..."
"Alhamdulillah ya Hilmi udah mau membuka hati lagi". Ucap Sintia, istri Braun.
Braun menoleh di sana ia memandang wanita yang sedang berdiri di samping Hilmi.
"Begitu dong Hil, om dukung kamu".
Hilmi menggeleng, merasa dirinya di perbincangkan Anya menyalimi keduanya. Canggung memang bertemu dengan keluarga orang lain yang bahkan Anya tidak mengenalnya sama sekali.
"Kok gitu, mama kamu pasti seneng anaknya bisa nemuin lagi calon pendamping hidup".
Sepertinya mereka salah paham, bagaimana Hilmi menjelaskan jika dirinya dan Anya hanya sebatas orang asing. Om-Braun dan Tante Sintia pun pasti tidak akan percaya jika Hilmi menyanggah ucapnya.
"Jangan lupa loh undangannya, Om sama Tante pulang dulu ya". Ucap Braun sambil menepuk bahu Hilmi.
Sepeninggal mereka keduanya hanya terdiam, sepertinya mereka tahu situasi dari masing-masing yang memang jika di lihat lagi orang lain tidak salah berprasangka seperti itu.
"Pulang".
"Emang pulang, ngapain lagi". Sarkas Anya.
Hilmi berjalan terlebih dahulu sedangkan Anya berjalan di belakangnya sambil mendengus. Tapi hari ini cukup menyenangkan bagi Anya ia mendapat boneka yang sangat lucu.
__ADS_1
Perjalanan menuju toko tidak terasa tapi yang membuat Anya heran adalah toko tempat tinggal sementaranya sudah tutup dan di gembok.
"Pasti Rima gak tau". Hilmi mengambil ponsel di saku dan menelpon pegawainya. Tiga kali ia menelpon tapi tidak di angkat oleh pemiliknya.
"Terus saya gimana pa ?". Jelas ia bingung, gaji belum ia terima apalagi tempat berteduh saja ia tidak ada.
Hilmi mengehela nafas dan keluar dari bibirnya. Ia melihat jam yang bertengger di lengannya, sekarang sudah jam 9 jelas saja toko sudah tutup. Kemudian Hilmi menepuk jidatnya, lupa kalau ia sudah janji akan pulang segera.
Sudah pasti mamanya akan marah, Hilmi menolehkan pandangannya ke Anya terlihat jelas kalau wanita itu sedang khawatir karena bingung akan tidur dimana.
Tidak ada pilihan lain, Hilmi menghidupkan kembali mobil dan melaju membelah kota Jakarta.
"Mau kemana ?". Tanya Anya.
"Rumah".
"Rumah bapak ?".
"Siapa lagi".
Anya memejamkan matanya, sudah jelas sekarang ia seperti wanita tak tahu diri. Mengikuti laki-laki yang bahkan baru mengenal kemarin saja masih ia ragukan sekarang Hilmi malah akan membawa dirinya ke rumah.
Mau bagaimana lagi ? Untuk sekarang tidak ada tempat kembali bagi dirinya. Anya menoleh pada bangunan tinggi yang menjulang di depan matanya. Ia menjadi ingat mama dan papanya, Anya hanya ingin tahu apakah mereka merindukan dirinya sebagaimana Anya sangat merindukan mereka.
Mobil Hilmi memasuki sebuah rumah megah, kedua satpam membukakan gerbang untuk mereka lebih tepatnya untuk majikan.
"Turun". Titahnya.
Anya turun dan hanya mematung. Sebenarnya Anya mempunyai truma jika hanya berdua dengan Hilmi di rumah yang sebesar ini.
"Di dalam ada mama, lo gak usah takut".
Sepertinya Hilmi bisa membaca pikirannya, tetap saja Anya merasa tidak enak. Dia hanya orang asing di sini.
Hilmi mengerutkan kening melihat Anya yang melamun tak jelas. Genggaman tangan Hilmi membuat Anya tersadar, "Hilmi, padahal gue cuman orang lain tapi kenapa lo bawa gue kesini ?".
Hilmi terdiam beberapa saat, ia juga tidak mengerti dengan perilakunya sendiri. Tatapan mereka beradu, Anya mencoba mencari jawaban dari sana semoga apa yang ia harapkan tidak terjadi.
__ADS_1
"Gue takut lo kenapa-kenapa".