Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
81 MABA


__ADS_3

Devan, di undang ke pernikahannya ? Bahkan Anya sudah lupa tentang lelaki itu. Hilmi terlalu baik sampai mau menerima Devan, seharusnya Hilmi tidak suka pada lelaki brengsek seperti Devan. Tapi lihatlah dia malah begini.


Bukan begitu Anya hanya tidak ingin berurusan lagi dengan Devan. Lelaki picik dan licik itu pasti merasa puas tentang apa yang sudah dia lakukan di masa lalu.


"Kalo gak mau gapapa kok". Anya tersadar saat lengannya di genggam oleh Hilmi.


"Gapapa kok, kita undang aja"


Kenapa dirinya harus mengiyakan, bodoh sekali Anya menyetujui Devan datang. Kalau di pikir lagi memang tidak ada salahnya, justru itu membuat Anya terlihat semakin baik-baik saja tanpa Devan bersusah payah bertanggungjawab.


Benar, Anya harus menunjukkan ini pada orang lain bahwa dirinya bisa hidup layaknya orang lain. Dirinya juga berhak mendapat kebahagiaan, sejatinya orang lain ingin terlihat sempurna di mata tetangga dan dunia bukan ?.


"Bener ?". Devan juga bingung dengan respon Anya yang langsung mengiyakan.

__ADS_1


Tidak ada maksud apapun dirinya mau mengundang Devan. Terlepas dari apapun yang terjadi, kita harus tetap menjaga tali silaturahmi dan Hilmi tahu kalau Devan pasti akan datang.


Anya mengangguk mantap, "Bener, bukannya semua udah baik-baik aja. Kenapa harus mempermasalahkan sesuatu yang dari sananya udah jelas".


Hilmi paham itu hanya dusta yang di ucapkan Anya tentang masa lalunya. Tidak ada orang yang benar-benar lupa akan sesuatu yang sudah terjadi. Semua orang punya truma dan rasa intuisinya masing-masing.


"Kamu udah gak cinta sama dia ?".


Gerakan tubuhnya seketika terhenti, pertanyaan macam apa yang Hilmi ucapkan barusan. Lagipula jika dirinya masih cinta dengan Devan kenapa Anya mengatakan iya atas pernikahan mereka.


"Aku bercanda, aku yakin kamu udah cinta sama aku". Ucapnya tegas.


"Pede banget sih". Cibir Anya.

__ADS_1


"Pede lah sebentar lagi kamu jadi istri aku".


"Kalo kamu, apa masih mencintai istri kamu ?".


Pergerakan tangannya langsung terhenti mendengar mantan istri yang di tanyakan oleh calon istrinya, "Sandra pernah ada di hidup aku Nya".


Anya mengangguk, "Sampai kapanpun aku gak akan lupa sama Sandra". Jelasnya.


Anya terus memperhatikan wajah Hilmi yang memperlihatkan rasa tulus pada mantan istrinya itu. Mata memang tidak bisa berbohong, jelas itu adalah sebuah kecelakaan dan tidak semua orang menerima itu dengan cepat.


"Bukan berarti aku cinta sama dia dalam arti hidup. Sandra punya tempat tersendiri di hati aku Nya. Kamu juga sama ?". Hilmi menolehkan kepalanya pada Anya. "Kamu punya posisi yang sama seperti Sandra dalam arti yang sesungguhnya". Lanjutnya.


Anya tersenyum, entah dengan cara apalagi ia bersyukur pada Tuhan telah menghadirkan Hilmi dalam hidupnya. Jika dulu Anya selalu menuntut hidup tidak adil ternyata sekarang dirinya yang merasa malu. Kelakuan dirinya dulu adalah bentuk rasa tidak terima atas kebahagiaan orang lain.

__ADS_1


Hilmi menggenggam lengan Anya lalu mengusapnya dengan pelan. "Aku janji akan selalu ada buat kamu Nya". Ucapnya sambil mencium lengan Anya.


"Makasih ya Hil, udah mau nerima aku di hidup kamu". Hilmi mengangguk.


__ADS_2