Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
21 MABA


__ADS_3

Anya membeku, ini seperti mimpi yang mustahil, dari pancaran matanya mengisyaratkan kalau dia memang tulus mencintai dirinya.


"Ya meskipun gue bukan anak SMA lagi yang bucin soal cinta gue akan berusaha buat ngelindungin lo dan buat lo bahagia atas gue, gue udah kuliah tar gue lulus terus kerja terus nikahin lo". Ucap Devan


Anya tersenyum dan langsung mencubit pinggangnya, "Apaan sih lo".


"Ih benar Nya, gue niatnya jadi dokter bedah aja deh di Jakarta". Ucap Devan.


"Emang tadinya kakak mau dimana kerjanya ?".


"Di luar". Tangkasnya.


"Kenapa di luar, di Indonesia juga banyak rumah sakit bagus ?". Tanyanya lagi


"Di indo emang banyak tapi gue pengen lebih mendalami lagi ilmu kedokteran gue di luar sana". Anya mengangguk paham.


"Kejar apa yang emang harus di kejar, mumpung hidup lo harus berusaha atas apa yang lo impikan, kakak gak harus jadikan gue penghalang buat karir kakak ke depannya".


Devan tersenyum, "Yakin".


Saat matanya melirik, "Yakin apa ?". Ucap Anya.


"Yakin bisa jauh dari gue ?". Anya memukul bahu Devan, sangat menyebalkan orang di sampingnya ini.

__ADS_1


Devan berdiri, "Gimana nih, Lo gak mau ? ya udah gue batalin aja deh". Devan berjalan pergi meninggalkan Anya yang membulatkan matanya.


Bisa-bisanya orang ini menarik ucapan yang membuat dirinya mabuk bukan kepalang. Kemudian dirinya mengangguk pelan, Devan tersenyum lebar lalu memeluk tubuh yang sekarang menjadi kekasihnya itu.


Anya pun sama tersenyum bahagia sekarang ia sudah mempunyai Devan, pelukan ini menyadarkan dirinya jika mereka sedang di tempat keramaian.


"Dev !". Anya mendorong bahu Anya, Devan yang terheran langsung bertanya, "Kenapa nya ?".


"Anya malu ih, ini di tempat rame". Devan tersenyum lagi lagi pacarnya ini sangat gemas, "Gak papa kali". Ucapnya sambil mencubit pipi Anya.


"Pulang Nya! tadi kan kata Tante cuman sebentar ?". Anya mengangguk, Devan menarik Anya dan menautkan tangan keduanya.


Entah kenapa hanya dengan melihat Devan menautkan tangannya membuat Anya merasa di lindungi, jika boleh ia meminta pada Tuhan Anya ingin begini selamanya.


Mereka berdua sudah ada di dalam mobil, sepanjang perjalanan dirinya selalu memperhatikan wajah Devan dari samping, Devan yang menyadari itu langsung menoleh.


"Terus ?". Tanyanya lagi.


"Besok kamu ada kegiatan apa ?". Anya sebenarnya malu harus berbicara aku-kamu tapi ya sudahlah lagipula sudah terlanjur di ucapkan.


Devan terlihat berfikir sejenak, "Besok ada ujian blok terus baliknya ada kumpulan BEM, emangnya kenapa ?".


"Kalo besok aku siapin makanan buat kamu, kamu mau gak ?".

__ADS_1


"Kan masih sakit sayang, lagi pun kamu mau ngasih ke mana ? ke kampus ?". Anya senang bukan main saat kata sayang terlontar dari bibirnya Devan, kemudian dirinya mengangguk.


"Sebentar doang abis ada kelas kamu telpon aku nanti aku ke kampus di anterin supir rumah".


"Bener kamu gak kecapean entar ?". Tanyanya pasti.


"Bener by".


Devan menoleh, "by apa sayang ?".


"Sayang kan kepanjangan jadi aku singkat aja jadi by". Devan menggeleng, Anya ini selalu ingin simple dan instan dalam hal apa pun itu.


"Kenapa kamu gak suka ?". Devan mengusap puncak kepalanya, "Suka ko by". Anya tersenyum, merasa geli ia mendengar ucapan Devan barusan.


"Yu turun !". Anya menoleh ternyata mereka telah sampai, "Boleh peluk bentar gak ?". Tanya Anya.


Devan bingung, ia tak percaya Anya akan mengatakan hal ini, "Boleh kok, bentar doang ya ?".


Dirinya membawa Anya pada pelukannya, hanya karena begini rasa sayangnya semakin menjadi pada gadis di dekapannya. Dulu Anya menunjukkan sikap cueknya karena dia adalah orang yang memang butuh orang lain untuk perduli dengan dirinya.


"Yu by anterin !". Anya mengangguk.


"Bentar ada yang ketinggalan by". Devan kaget sepertinya, Anya langsung mencium bibir Devan dengan amat sangat lembut dan itu hanya kecupan sesaat.

__ADS_1


Anya yang tertawa dan langsung pergi keluar mobil


"Nakal ya sekarang". Ucapnya.


__ADS_2