Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
87 MABA


__ADS_3

Tubuh Anya seketika menegang, Hilmi berdiri dan menghalau pistol yang mengarah pada istrinya.


Penjaga keamanan mendekat ke arah Devan namun sebelah tangannya di angkat pertanda dia akan melakukan sesuatu. Hilmi menganggukan kepala dan memberikan ruang bagi Devan.


Suasana mendadak tegang seketika, Anya merasa aneh dengan tingkah Devan yang tidak tahu malu.


"Gue suka sama dia". Teriak Devan.


Semua orang terkejut, termasuk Hilmi dia mengerutkan keningnya.


"Anya lagi ngandung anak gue dan gue calon ayahnya bukan lo".


Mendengar itu banyak orang langsung berbisik satu sama lain. Mereka tahu jika perut Anya sedikit buncit, perkiraan itu adalah anak Hilmi tapi ternyata anak dari Devan.


"Apa lo pantes di sebut sebagai ayah dengan apa yang udah lo perbuat ke Anya ?". Tanya Hilmi.

__ADS_1


Devan memang masih menyimpan cinta itu untuk Anya, ia terlalu gengsi untuk mengungkapkan anak yang di kandung Anya. Devan mencoba melupakan dan memendam rasa itu sejauh mungkin. Tapi justru cinta itu yang membuatnya menjadi senjata makan tuan. Semakin dirinya mencoba bodoh amat akan Anya semakin hatinya menarik lebih kuat. Apalagi di tambah mendengar pernikahan mereka membuat keputusannya berada di ujung tanduk.


"Gue emang brengsek tapi gue berhak atas dia".


Tatapan Hilmi mulai menajam, sekarang ia jadi paham apa tujuan Devan datang ke sini. Orang ini memang tidak tahu diri. Lebih dari brengsek Devan sangat menganggu hidup Hilmi apalagi sekarang mulai merebut Anya darinya.


"Emang lo berhak atas apa ? Setelah lo mencampakkan Anya di hari Anya ngasih tau soal kandungannya, apa yang lo lakuin ? Apa kabar dengan lo yang gak peduli keadaannya ?".


Jelas sudah, aib yang Anya pendam selama ini terbuka dan menjadi tontonan publik. Tak sengaja air matanya mengalir begitu saja. Dinda, Ryan dan Irana masih di sana mereka melihat bagaimana drama cinta antara Anya, Hilmi dan Devan yang tak semulus kisah di telivisi.


Nafas Devan memburu ia benar-benar merasa di rendahkan sebagai laki-laki. Oke dia mengakui hal yang sangat bodoh pada Anya tapi dia juga ada alasannya. Mengapa hanya Anya yang memiliki ruang untuk bersuara sedangkan dirinya tidak.


"DEVAN". Suara bariton itu berasal dari luar, di sana ada papanya Devan dengan wajah merah padam.


"Apa-apaan kamu ini, pulang". Titahnya.

__ADS_1


Devan menghentikan cekalan papahnya, "Ini gak ada urusannya sama papa". Ucap Devan.


"Jadi anak susah banget di atur sih, papa itu malu sama kelakuan kamu yang kayak begini".


Persetan, Devan tidak perduli dengan ocehan papanya. Semua orang membuat dirinya pusing, tidak ada satu orang pun yang mau memahami dirinya. Devan selalu di salahkan dan di acuhkan ia merasa di dunia ini tidak mempunyai tempat pulang.


"Gue gak takut meskipun lo bakal cabut gue sebagai dokter atau narik saham papa gue, KARENA GUE BENER-BENER GAK PERDULI".


Ini adalah acara pernikahan terkacau yang pernah ada dan penyebabnya adalah Devan. Cowok egois dan angkuh itu merusak acara sakral Anya dan Devan.


"Devan". Papanya Devan sangat marah karena menyangkut bisnis di atas urusan pribadi.


"Dan lo". Mata Devan menghunus tajam ke arah Hilmi. "Gue berharap lo mati".


Dor

__ADS_1


Anya membelalakkan matanya melihat Hilmi berlumur darah di sana. Devan, lelaki brengsek telah melukai suaminya. Suasana langsung gaduh karena tembakan Devan pada Hilmi yang tanpa aba-aba


__ADS_2