
Rasa trauma itu kembali menyelimuti badan Anya, 7 tahun lalu saat dirinya hilang ia mengalami sesuatu yang sampai sekarang belum ia ceritakan kepada siapapun. Anya melihat Devan yang terkena tonjokan semakin membuat tubuhnya bergetar.
"Lo gapapa ?". Tanya Devan
Dirinya langsung memeluk Devan dan sepertinya dia cukup terkejut dengan sikap dirinya, sebentar. Sebentar saja begini, sedikit menyalurkan rasa hangat bagi Anya. Dari dulu dirinya selalu menyimpan segala sesuatu sendiri.
Devan memberikan tepukan sekilas pada bahu Anya, membuat dirinya merasa mempunyai sandaran. Ia melewati semuanya sendiri untuk sampai bisa sampai sekuat ini. Tertatih, berlari, terjatuh, orang lain tidak akan perduli itu.
Devan melepaskan pelukannya "Gue anterin lo pulang". Anya hanya mengangguk.
Setelah sampai di gerbang kost-an Anya mengucapkan terima kasih "Sorry gara-gara gue lo jadi begini". Anya hanya tersenyum lalu masuk ke dalam kost-an meninggalkan Devan yang mematung di depan sana.
Devan merasa bersalah telah menyuruh Anya untuk datang ke rumahnya, sudahlah besok ia akan menebus ini dengan yang dirinya sendiri pun tidak tahu. Devan kembali ke rumah menggunakan mobilnya yang terparkir di depan.
Masa ospek telah selesai sekarang mereka bisa mempunyai kelas tanpa harus ber panas-panasan.
"Untung ospek udah beres kalo ga sia-sia gue perawatan selama ini". Naya duduk sambil mengoceh dari tadi Anya yang mendengarkan hanya acuh, berteman dengan Naya membuat dirinya terbiasa dengan sifatnya.
Kejadian kemarin langsung melintas dalam pikiran Anya, apa sekarang saja ia bertanya pada Naya? Anya berbalik badan ke arah Naya. Naya yang melihat Anya langsung menaikkan alisnya.
"Nya, Lo punya pacar?". Anya bisa melihat perubahan wajah Naya tapi Naya berusaha terlihat biasa saja.
Naya mengangguk "Punya !".
"Gue kemarin ngeliat lo di jalan". Naya terkejut sambil memandang ke arahnya. Naya harus menjawab seperti apa ? Tapi untuk saat ini ia belum siap untuk menceritakan masalahnya kepada siapapun.
"Anggap aja lo kemarin ga liat apa-apa". Anya memegang tangan Naya ia bisa merasakan betapa tegangnya Naya saat ini.
"Meskipun gue baru kenal lo, gue mau jadi pendengar yang baik walaupun lo ga butuh solusi pasti lo butuh sandaran, nanti kalo lo udah siap lo bisa cerita ke gue !". Naya memandang Anya sambil tersenyum lalu mengangguk.
"Pulang kampus gue boleh ikut ga ke rumah lo ?".
"Mau ngapain ?".
__ADS_1
"Mau main aja Nya, gue kesel aja di rumah sekalian gue mau tau rumah lo jadi kalo ada tugas tinggal dateng aja". Jawab Naya.
"Itu emang tujuan lo !". Naya cengengesan kemudian di balas anggukan oleh Anya.
Satu kelas tiba-tiba hening, Anya yang penasaran langsung berbalik badan ke depan, di sana Devan sedang berbicara dengan Irana di pintu ruangan.
Anya tahu kalau Irana menyukai Devan sudah jelas dari gelagat cewek tersebut menampakkan wajah tak suka pada dirinya, Anya memandang ke arah lain lagian ia tak perduli, Anya tidak menyukai Devan untuk saat ini.
Entah kenapa saat bersama ia selalu merasa akan ada kisah di antara dirinya dan Devan, Anya mengalihkan kembali perhatiannya kepada Devan lalu menumpukkan tangan di dagunya.
Jika sudah begini aura wibawa Devan begitu terlihat pantas saja telinga Anya sudah merasa berisik, Devan dan irana berjalan ke tengah kelas dan mengambil atensinya. Devan melihat Anya yang sedang melihatnya entah kenapa dirinya merasa sedikit senang karena Anya memusatkan perhatian padanya.
"Sorry gue ganggu waktu kalian sebentar, sebelumnya dari panitia yang bertugas untuk ospek, kami merencanakan untuk mengadakan semacam kemping tentunya dengan tugas dan sedikit peraturan". penerangan dari Irana
Seseorang mengangkat tangan "Waktunya kapan kak ?".
"Lusa ?". Jawab Devan.
"Hah".
Satu kelas mengangguk.
"Bawa aja apa yang perlu di bawa, terus yang punya penyakit tertentu boleh bawa obat, Apa ada yang mau di tanyain lagi ?". Ucap Devan.
Anya mengacungkan tangannya "Kalau yang gak ikut gimana ?".
"Ini wajib bagi kalian yang tidak ikut kegiatan kampus akan di beri tugas tambahan dari dosen dan panitia". Naya mengangguk-ngangguk.
"Ya udah terima kasih". Ucap Irana.
Kelas pertama sudah selesai sekarang waktunya istirahat tetapi Anya tidak merasa lapar sama sekali. Naya sedang ada urusan pribadi, dirinya merasa jenuh, Anya baru teringat bahwa kampus ini terkenal juga dengan rooftopnya yang indah.
Anya menuju ke luar kelas banyak orang yang sepertinya akan menuju kantin tapi ia malah berbelok ke arah tangga untuk naik ke atas. Saat membuka pintu semilir angin menerpa rambutnya.
__ADS_1
Dirinya merasa tenang suasana seperti ini yang selalu ia inginkan Anya berjalan ke arah tembok pembatas hamparan jalan terbentang luas. Anya tersenyum sepertinya di malam hari akan lebih seru jika dirinya datangi.
"Ngapain lo di sini ?". Anya sepeti familiar dengan suara itu, ia berbalik ternyata ada Devan yang sedang duduk di kursi kosong.
"Lo ?".
"Di kampus kak di luar terserah lo deh". Anya tidak menggubris hirauan Devan ia malah memperhatikan almamater yang sandarkan di bahu Devan, sejak dulu ia sangat ingin memakai almamater, tapi kampus membaginya setelah pulang kamping.
"Gue boleh pinjem itu ga ?". Kening Devan mengerut sambil memperhatikan arah pandang Anya "Maksud lo ini ?". Sambil memegang almamater itu, kemudian Anya mengangguk.
"Gak". Tegas Devan
"Gue ga suka barang gue di pake orang lain". bibir Anya mengerucut.
"Buat foto doang pliss". Ucap Anya sambil memperhatikan senyum manisnya "Anggap aja ngebales dosa lo semalem".
Sebenarnya Devan tidak sudi meminjamkan itu pada Anya tapi entah kenapa senyuman itu membuat dirinya tak berdaya, Devan memberikannya pada Anya membuat Anya tersenyum bahagia.
Anya memakai almamater Devan, sambil duduk ia bisa melihat kecantikan yang keluar pada wajah gadis itu, Anya terlihat tegas menggunakan almamater tersebut di tambah angin yang membuat rambut panjangnya berterbangan.
Devan bukan tanpa alasan menjadikan Anya sebagai seseorang yang ia percaya dapat mengembalikkan ingatannya karena yang ia ingat hanya wajah Karen semua hal tentang Karen ada pada Anya.
"Kak boleh tolong fotoin gak ?".
"Lo udah minjem nyuruh lagi !". Anya tersenyum sambil memberikan handponenya pada Devan .
Berbagai pose sudah Anya dapatkan dan ternyata cowok ini pandai juga mengambil gambar, Anya semakin bersemangat untuk membagikan di sosial media miliknya.
"Pertanyaan gue belom di jawab ?".
Anya menyimpan ponsel di sakunya lalu menghadap lagi ke hamparan langit di atas "Pengen aja !". Anya melepaskan almamater yang ia pakai lalu memberikannya pada Devan.
Devan tidak menerima itu, lalu bangkit "Lo cuci dulu baru kasih ke gue". Ucap Devan sambil pergi.
__ADS_1
"Jijik amat lagian gue ga keringetan juga". Anya juga bergegas turun untuk memulai kelas selanjutnya.