Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
32 MABA


__ADS_3

Dari tadi malam hingga sekarang Irana sudah di kampus ia terus berdiam diri. Otaknya terus saja memunculkan perspektif yang membuat dirinya menduga-duga hal yang mustahil.


Tapi apakah benar Karen hidup kembali ? Lebih tepatnya apakah Karen itu belum meninggal ?. Di letakkannya tas yang ia bawa ke atas meja, tangannya ia gunakan untuk menumpu dagu.


Atau ia salah menduga ? mungkin saja itu adalah orang yang mirip ?. Jika memang itu Karen pasti dia akan ingat padanya tapi kenapa saat tadi malam dia seperti menganggap dirinya orang asing.


Ia jadi penasaran, jika itu benar Karen pasti kampus ini akan gempar dengan keberadaan dia, dan mungkin yang akan lebih tidak percaya adalah Devan.


Lagi lagi dirinya seperti di beri ide oleh semesta untuk menghancurkan hubungan Devan dengan Anya. Entah kenapa selalu ada rasa tidak suka dalam diri Irana jika Devan bersama dengan Anya tapi dengan Karen anehnya ia malah mendukung.


Apakah Devan akan kembali pada Karen dan meninggalkan Anya ? Atau Devan akan menjadi orang yang egois karena mendapatkan keduanya ? Lagipula Karen adalah orang yang sentimental pastinya ia akan merebut kembali Devan dari tangan Anya.


Jauh di sana hujan terus melanda, langit seolah bersahabat dengan sendunya Bandung saat ini. Tangannya sedang ia rapatkan akibat semilir angin yang menyapu kulitnya.


Entah bagaimana juga dirinya pulang karena mamahnya sedang tidak ada di rumah dan harus menemani papahnya yang sedang keluar kota. Banyak orang yang memilih untuk menunggu sampai hujan reda, banyak juga yang memilih untuk menerobos derasnya hujan.


"Apa gue nyari taksi aja ya di depan ?". Dialognya.


Karena ia merasa hujan seperti ini sangat lama untuk reda. Bisa mati kedinginan jika dirinya harus menunggu sampai malam di sini.


Di angkatnya tas yang ia bawa untuk menutupi kepala agar tidak basah, ya percuma walaupun baju yang di pakai pun akan terkena hujan semua.


Ia berlari ke depan kampus dengan hati-hati, matanya sudah mulai perih akibat percikan air yang menerpanya. Ternyata jalanan pun cukup senggang dan jarang ada taksi maupun ojek saat ini.


Anya terus menoleh dan memperhatikan mobil dan motor yang melaju. Sekarang bajunya telah basah semua, mata pun di rasanya sudah merah. Di rasa kepalanya mulai pusing akibat hujan yang deras di susul dengan penglihatan yang semakin buram.


Mobil Honda Jazz merah berhenti di hadapan Anya, saat di perhatikan ternyata itu adalah mobil Reyhan.


"Nya lo lagi ngapain disini ?". Tanyanya sambil menutup kepala menggunakan jaketnya.


Yang di tanya hanya diam tanpa menjawab, Reyhan yang melihat Anya sangat pucat khawatir dan langsung memindahkan jaket itu pada kepala Anya, di bawanya ia ke dalam mobil.

__ADS_1


Di dalam mobil Reyhan bingung apa yang harus ia lakukan karena bibir Anya yang bergetar menahan dinginnya hujan. Ia memilih untuk membuka tas dan memakaikan Anya jas kampus yang ia hanya bawa hari ini.


"Nya ?". Ucapnya lembut.


"Di-dingin Rey". Jelasnya terbata.


"Lo tadi ngapain Nya. Padahal kalo enggak ada yang jemput Lo bisa telpon gue ?".


Semakin Anya kedinginan Reyhan terlebih dahulu untuk melakukan sesuatu. Di pegangnya tangan Anya, "Sebentar Nya, gue gak tega liat lo begini".


Anya hanya terdiam karena ucapannya, Reyhan mulai menangkup kedua lengannya sambil ia gosokkan dengan lengan miliknya. Mudah-mudahan dengan begini ia bisa menyalurkan kehangatan pada Anya.


Jantung Reyhan berdetak dua kali lebih cepat. Entah kenapa sensasi yang ia dapatkan malah membuat dirinya semakin tidak normal. Hatinya kecilnya selalu ingin melindungi Anya dari apapun yang dapat menggangu dia.


Ia mulai membuka dan meniup perlahan agar lengannya semakin hangat, "Gimana Nya ?".


Manik matanya menatap lemah seolah apa yang Reyhan lakukan barusan tidak memiliki pengaruh apapun. Ia mencari cara agar Anya lebih merasa nyaman tapi apa yang harus dirinya lakukan ?.


Reyhan mendekatkan dirinya pada Anya dan di pelukannya tubuh mungil itu. Reyhan merasakan kalau Anya cukup kaget karena perilaku dirinya. Tapi yang ia aneh adalah Anya tidak mengeluh maupun melepaskan.


Ia tersenyum, bila saja Anya masih sendiri ia akan perjuangkan cinta ini sampai titik terakhir.


Cinta ?


Memang Reyhan mencintai Anya sejak di mana Anya pindah ke kampusnya dan perasaan ini mulai jelas karena sekarang apa yang tengah ia rasakan.


Walaupun Anya tidak membalas pelukan Reyhan tapi ini sudah cukup bagi dirinya. Setidaknya ada sedikit kesempatan untuk Anya menerima dirinya.


Reyhan tahu kalau Anya sudah mempunyai pacar sebelum ia pindah kemari. Dan bukannya Reyhan ingin menganggu hubungan mereka, tapi ia merasa jika rasa ini terlalu kuat untuk ia abaikan.


Sebelumnya Reyhan pernah dekat dengan beberapa perempuan yang menurut dirinya cukup tertarik, tapi hatinya selalu tidak pernah tergerak untuk melanjutkan pada hubungan yang lebih serius. Baru saat ia mengerjakan tugas bersama dan pertama kalinya bertemu Anya tatapan sayu itu membuat Reyhan menginginkan lebih.

__ADS_1


Persetan dengan pacarnya lagipula mereka sedang melakukan pacaran jarak jauh, jadi ia tidak perlu bersusah-susah bertengkar dengan kekasihnya.


Mobil yang mereka pakai telah di parkiran di samping jalan. Anya yang bingung karena Reyhan akan turun lantas bertanya, "Mau kemana ?".


"Tunggu bentar ya, gue mau beli teh anget dulu di warung sana". Ucapnya sambil menunjuk warung di samping jalan.


Ia mengangguk pelan. Di usapnya pelan pipi Anya lalu Reyhan keluar sambil menutupi wajahnya dari percikan air hujan.


Dari mobil pandangan Anya tidak lepas dari perhatian Reyhan padanya. Ia tersenyum singkat berbeda dengan hatinya yang gusar karena mengkhawatirkan sesuatu.


ya tuhan aku harus gimana ?


kalau Devan melihat dirinya yang seperti ini ia pasti akan marah besar kepadanya. Hubungan jarak jauh memang pelik dan kalian tidak tahu bagaimana kelakuan dia di belakang.


Karena hujan sudah mulai reda ia mengalihkan pandangannya pada samping jalan. Anya selalu berfikir bagaimana hubungan mereka kedepannya ? Sampai kapan jarak menjadi penghalang bagi keduanya ?.


Pintu mobil di buka dan itu pertanda bahwa Reyhan sudah kembali, di lihatnya ia membawa secarik teh hangat dan tissue.


"Minum dulu Nya ?".


Tangannya merasa sangat hangat saat bersentuhan dengan cangkir yang ia pegang. Di minumnya teh itu sedikit demi sedikit, sensasinya membuat tubuh Anya menjadi lebih enak dari sebelumnya.


"Makasih Rey ?".


Reyhan tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, ia lupa bahwa tissue yang ia bawa untuk mengelap wajah Anya yang kusut akibat hujan tadi.


Baru saja ia akan mengelap wajahnya tissue itu sudah beralih di tangan Anya, "Biar gue aja ya !".


Ia mengangguk kikuk, "Udah Nya ? Apa mau langsung pulang ?".


"Pulang aja deh Rey".

__ADS_1


Mobil itu melaju lagi dengan kecepatan sedang dan membelah kota. Mereka berbicara juga terkadang tertawa akibat lelucon yang Reyhan di lontarkan.


__ADS_2