
Sebelum izin pada orang tua Anya tentu Hilmi meminta restu dulu dari mamanya. Riri tidak percaya kalau ia akan segera menjadi menantu dan tentunya mempunyai teman di rumah. Mengenai anak yang di kandung Anya, Riri menerimanya setengah hati. Jelas ia kaget anak sebaik dan secantik Anya sudah melakukan hal yang menurunkan harga dirinya sebagai wanita.
"Mama nerima Anya ?". Tanya Hilmi.
"Toh yang akan ngejalanin hidup kan kamu. Mama sebagai orang tua harusnya mendukung setiap langkah dan pilihan anaknya. Justru mama yang nanya sama kamu, apa kamu nerima dia sepenuhnya ? Masalahnya bukan cuma Anya yang akan kamu tanggung kedepannya tapi anak yang ada dalam kandungannya juga harus kamu terima".
Apa yang di ucapkan mamanya memang benar, tidak mungkin ia egois hanya menerima ibunya saja sedangkan anaknya ia telantarkan. Hilmi tidak menyangka akan jatuh cinta pada orang yang sedang mengandung yang bukan darah dagingnya.
"Hilmi coba buat nerima bukan cuman kelebihannya tapi juga kekurangan ma".
Riri tersenyum anaknya ini memang sangat pintar dalam mengambil setiap keputusan yang akan di jalani kedepannya. Hilmi sudah sangat dewasa konsekuensi apa yang akan ia hadapi nanti pasti sudah di perhitungkan.
Anya datang dari kamar menuju arah keduanya yang pasti tengah membicarakan dirinya, Hilmi menoleh lalu tersenyum singkat.
Dari matanya saja ia tahu jawaban apanya di berikan Riri padanya. "Sini Nak". Titah Riri.
Anya melangkah dan mendekat pada Riri, Riri menyuruh dirinya untuk duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Kamu suka sama Hilmi ?".
Bola matanya bergulir antara Hilmi dan mamanya, keadaan saat ini memang sangat awwkrd menurutnya. "Jawabannya ada di hati kamu, jadi gapapa coba bicara sama mama".
Anya mengangguk lemah ucapan syukur keluar dari bibir Tante Riri. Rasanya sangat terharu bisa di terima di keluarga baik seperti mereka.
Anya janji ia tidak akan menyia-nyiakan pria yang mau berkorban hanya karena seorang perempuan seperti dirinya. Riri memeluk Anya dengan erat, di sana Hilmi juga ikut merasakan apa yang tengah terjadi saat ini.
Saat ini Hilmi dan Anya sudah di depan rumah tempat tinggalnya dulu. Tempat yang sangat ia rindukan, tempat yang menyimpan berbagai kenangan dengan mama dan papanya.
Di dalam mobil Hilmi melihat Anya yang sepertinya ia paham apa yang di rasakan. Hilmi menggenggam lengan Anya untuk memberikan kekuatan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Anya turun dan menyeimbangi langkah Hilmi, entah kenapa rasanya sangat berat padahal ini rumahnya. Anya hanya takut, takut kalau mamanya masih marah pada dirinya.
Sebelum menekan bel Anya terdiam beberapa saat dan menghembuskan nafas panjang. Baru setelah beberapa saat ada orang yang membukakan pintu untuk mereka.
"Mama". Lirih Anya.
__ADS_1
Arin yang berdiri pun tak percaya jika anaknya sudah kembali. Mereka berpelukan untuk melepaskan rasa rindu di antara keduanya.
"Maafin mama ya Nya, harusnya mama gak begini".
Anya menganguk ia pun paham mengapa dulu mamanya semarah ini pada dirinya. Arin melepaskan pelukannya dan beralih menatap seseorang di belakang.
"Silahkan masuk".
Ah rasanya sangat senang bisa kembali ke rumah apalagi sekarang mamanya sudah mengerti akan perasaan Anya.
"Biar Anya aja mah yang siapin minum". Arin tersenyum sambil mengangguk, Anya memberi ruang pada Hilmi untuk berbicara dengan mamanya.
"Oh iya ma, papa dimana ?".
"Papa masih di luar kota sayang, besok dia pulang".
Anya hanya mengangguk kemudian melangkah menuju dapur. Tapi sifat jahilnya muncul untuk lebih mendengarkan pembicaraan mereka dari pada membuat minuman.
__ADS_1
Rasa terimakasih ia panjatkan beberapa kali pada tuhan, dengan ia bersabar semua seperti terbayar lunas. Saat Hilmi mengucap akan menikahi dirinya semakin rasa cinta dalam hatinya tumbuh.
Baru langkah pertama Anya berjalan ia tidak tahu kalau lantai itu sangat licin alhasil dirinya jatuh ke lantai dan penglihatannya langsung memburam yang terakhir ia ingat adalah jeritan mamanya.