Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
29 MABA


__ADS_3

Ia berusaha tenang supaya Irana Ryan tidak terlihat seperti orang yang memang sangat mencintai seorang wanita.


"Emangnya kenapa kalo gue suka sama lo ?".


Irana melirik setiap sudut ruangan itu, "Gue juga suka Yan sama lo. Semenjak Lo selalu bantuin gue, gue merasa pikiran gue jadi terbuka karena rasa tulus Lo ke gue !".


Rasanya Ryan sangat ingin terbang mengelilingi angkasa sekarang juga. Apa katanya, Irana juga mencintai dirinya ? Sungguh ini sangat mustahil untuk di percaya.


Ia hanya mengangguk sebagai respon, "Makan lagi yang banyak Ran?".


Irana melanjutkan makannya, di sela-sela keheningan Irana sengaja bertanya pada Ryan.


"Yan boleh ga gue lebih dekat sama lo ?".


Ryan tersedak yang mendengar itu langsung di beri minum oleh Irana. Apa maksud dari lebih dekat ? Tapi ini juga sebagai langkah bagus untuk dirinya menyatakan perasaan.


Meskipun dirinya tahu Irana mempunyai rasa yang sama terhadapnya tapi ia harus mempersiapkan waktu yang pas untuk mengungkapkan ini semua.


Ryan mengangguk, "Emang lo mau sedekat apa sama gue ?".


"Hmm, apa aja gitu ?".


Terserah wanita itu yang penting sekarang Ryan merasa mood nya sedang baik, itu pun berkat Irana.


...***...


Mulai dari baju hingga surat keterangan pindah universitas sudah Anya siapkan, sekarang sudah pukul 5 sore dan pesawat yang akan ia naiki berangkat sekitar 2 jam lagi.


Mamahnya Arin pun sedang menyiapkan seluruh barang yang akan mereka bawa untuk pindah, Ayahnya akan menjemputnya di bandara nanti.

__ADS_1


Padahal Anya akan kembali pada kota kelahirannya tapi kenapa rasanya berat sekali mungkin karena ini adalah tempat ia mencari jati diri yang sebenarnya.


Terlalu banyak kenangan yang sebenarnya ia tidak ingin ingat tapi tempat ini juga yang menjadikannya Anya yang sekarang. Mungkin ini terakhir kalinya ia melihat dinding kost-an yang selalu menemaninya saat kesepian.


Yuna ! Teman samping kamarnya tidak tahu kalau dirinya pindah karena dia sedang pergi pulang kampung menemui orang tuanya, jika di bandingkan dengan dirinya seharusnya Anya bisa lebih bersyukur.


Yuna harus menghidupi dirinya sendiri dan keluarga, dia yang selalu ceria ternyata selalu menyimpan banyak beban di pundaknya, ingat dulu saat Yuna di marahi ibu kost karena telat membayar saat itu pun dirinya yang membantu membayar.


Yuna langsung membersihkan kamarnya dengan alibi hutang Budi. Tak kerasa air mata itu menetes lagi, sekarang tidak perlu lagi dirinya menangisi hal seperti ini karena pikirannya harus berorientasi pada masa depan.


Tentang kuliahnya, lalu ia akan melanjutkan kemana perlu perencanaan yang matang dari sekarang.


"Anya bantuin mama bawain ini keluar ?". Anya yang tersadar langsung membawa barang tersebut dan ternyata di luar sudah ada Devan dengan mobil miliknya.


Berbicara tentang Devan mereka berdua telah sepakat untuk menjalani hubungan jarak jauh. Entah ini akan berhasil atau tidak yang pasti dirinya merasa ada keraguan saat menjalankannya.


Jika di pikirkan lagi, kita tidak akan tahu bagaimana kelakuan dia di luar sana walaupun Anya sangat percaya tapi rasa takut pasti selalu menghampirinya.


Anya mengangguk, semua barang sudah di masukkan ke dalam bagasi. Sekarang mereka sedang menuju bandara, Anya mengecek kembali tiket takut nanti hilang atau apa karena ia orang yang pelupa.


Setelah di cari ternyata ada di tasnya, Anya menghela nafas. Ia duduk di depan bersama Devan, mamahnya berada di kursi belakang.


Melihat ke arah jendela seperti ada rasa tak rela dalam dirinya. Kenapa ia berharap tiketnya hilang, tangan Devan menggenggam tangan Anya hangat.


Sepertinya Devan tahu apa yang Anya rasakan sekarang, Anya memandang Devan dari samping terlihatlah sosok tampan itu, ia pasti akan sangat merindukan orang ini orang yang selalu menguatkan dirinya di saat keadaan sedang tidak mendukung.


Devan lupa jika dirinya tadi membeli makanan untuk keberangkatan mereka karena Devan pasti tahu Anya akan lupa makan jika dalam keadaan seperti ini.


"Tante sama Anya udah makan belum ? Devan tadi beli roti Najla katanya tante suka sama roti ini ?".

__ADS_1


"Kamu beli ? Makasih ya, tante emang suka banget gak tau nih sekarang Anya juga udah pindah gak bakal ke toko roti ini lagi !".


Devan tersenyum lalu memberikan satu lagi pada Anya yang di terima lemah oleh Anya membuat Devan khawatir.


"Makan Nya kamu belum makan ?". Suruhnya.


Ia malah memperhatikan bungkusan roti itu dan beralih pada Devan jika tidak ada mamahnya di sini sudah ia peluk Devan dari tadi untuk melepaskan rindu yang mungkin akan berat nantinya.


Mereka sudah sampai di bandara tepat setengah jam lagi Anya dan mamahnya akan naik pesawat, semua barang sudah di keluarkan di bawa dengan troli.


Duduk di kursi tunggu membuat Anya hanya pasrah dengan semua ini, dari tadi Devan juga merasakan hal yang sama seperti Anya.


Berat tentu iya, sulit baginya menemukan wanita seperti Anya, terlepas dari mantannya Devan memang mencintai Anya dengan tulus dan sekarang kekasihnya akan pergi dan mereka akan melakukan hubungan jauh.


Entah bagaimana dan kapan mereka akan bertemu tapi dirinya akan berusaha selalu berkomunikasi dan menyempatkan waktu bertemu untuk sekedar melepas kerinduan.


"Tante Devan izin ke cafe sebentar mau ada yang di bicarain sama Anya ?". Arin mengangguk, ia juga mengerti untuk kedua orang yang saling menjalin hubungan harus terpisah oleh jarak.


Mereka juga telah dewasa mungkin dengan saling di beri pengertian akan paham tentang hal yang harus mereka lakukan kedepannya.


Keduanya duduk di cafe yang berada di bandara, Anya sedari tadi diam termenung jika begini dirinya lah yang harus memberi pengertian.


"Nya ?". Ucapnya lembut.


Anya menoleh, "Gak usah takut, inget kan ? Gue akan selalu ada buat lo". Semoga dengan begini membuat Anya paham dengan segala problematika yang ada di pikirannya.


"Lo bisa ke sini kapan aja, kalaupun lo yang gak bisa ke sini gue yang bakal susul Lo kesana, tentang gue lo gak usah khawatir gue akan berusaha supaya selalu inget kalo lo selalu ada di samping gue".


Air mata itu menetes lagi, Devan yang melihat langsung beralih posisi lebih dekat dan memeluk Anya untuk terakhir selama mereka akan berpisah.

__ADS_1


"Gue sayang lo Nya". Ucap Devan sambil mengelus rambut Anya.


__ADS_2