Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
63 MABA


__ADS_3

"Lo ngehamilin anak orang dan itu Anya !". Tanya Ryan tak percaya, "Wah parah sih Lo".


Mereka berdua sedang berada di ruangan Devan, lebih tepatnya Ryan penasaran dengan sikap Anya tadi yang seperti orang kehilangan harapan hidup.


Dan itu benar, awalnya Ryan tidak percaya dengan apa yang di katakan Devan. Lelaki ini terlalu baik untuk di sebut sebagai brengsek.


"Salah dia bukan gue". Sarkasnya.


Ryan berfikir sejenak, apa yang membuat Devan tidak menerima kehadiran bayi tersebut. Bukankah mereka melakukan itu atas dasar keinginan keduanya. Lalu kenapa Devan seolah sangat membenci Anya.


"Apa kalian ada masalah sampe segini nya ?".


"Gak". Singkatnya.


"Bukannya dia anak lo, kenapa lo kayak gedek banget sih sama Anya".


"Gue gak perduli".


"Kalo gini lo yang egois Dev".


Kata egois membuat Devan menoleh, atas dasar apa Ryan mengatakan dirinya egois.


"Lo tau dengan begitu dia ngorbanin banyak hal. Lo mah cowok, gak keliatan soalnya kan gak hamil".


Seketika pulpen di mejanya melayang di dahi Ryan, Ryan yang mendapati itu langsung meringis. Devan memang ingin enak sendiri, tidak memikirkan bagaimana perasaan Anya saat ini.

__ADS_1


"Maksud gue, coba bayangin dia ngurus anak sendiri, bahkan gue juga gak tau Tante Arin bakal nerima anak lo itu apa enggak. Apalagi calon tunangannya, ngamuk-ngamuk kali dengernya".


"Gue udah suruh dia aborsi". Di tekannya setiap kalimat yang Devan ucapkan.


Lagi-lagi Ryan terkejut, Devan ini apa dia sudah tidak waras atau bagaimana ?.


"Gue gak ngerti lagi sama jalan pikiran Lo, bukannya lo harus lebih ngerti karena Lo dokter. Gugurin kehamilan di usia muda itu rentan banget Dev". Ucap Ryan terengah-engah, ia sudah tidak tahu harus memberi tahu Devan dengan cara seperti apa lagi.


Yang di tanya hanya menganggukkan kepala. Ryan tidak mengerti tentang apa yang terjadi waktu itu takkala mereka berdua.


"Kasian Dev anak orang, coba deh lo pikirin lagi. Bukannya usia lo sekarang juga udah mapan buat nikah ?".


"Gue gak mau".


"Kenapa".


Kerutan gelombang muncul di atas dahinya, sempat berfikir jika Devan ini homo tapi dia pernah menghamili seorang perempuan.


Tok Tok


Keduanya menoleh di sana ada seorang perempuan yang tengah berdiri sambil mencoba bersikap sopan dengan kehadiran Ryan.


"Dokter Rena mau ke siapa ?". Tanya Ryan.


"Ah, udah selesai". Tanya Devan pada Renata.

__ADS_1


Renata mengangguk, "Dia ada perlu sama gue". Jelas Devan sambil berdiri.


Ryan yang tengah terduduk menatap pada keduanya secara bergantian. Untuk apa dokter Renata mencari Devan ?.


"Lo mau keluar apa di sini".


Ryan langsung berdiri dan mengekor keduanya dari belakang. Tiba-tiba saja Devan mengusap rambut belakang Renata, mereka seperti sedang menunjukkan rasa sayangnya pada pasangan.


Oh tuhan, apa Devan berpacaran dengan Renata ?. Ryan tahu jika dulu dokter Renata pernah mencintai Devan tapi bukankah Devan malah sebaliknya sangat tidak menyukainya.


"Dev bisa ngomong sebentar". Ryan menarik lengan Devan dan menjauh sedikit dari Renata.


"Apaan sih Lo". Devan langsung menarik cekalan lengan Ryan


"Lo pacaran sama dia". Ucapnya sambil menunjuk Renata yang tengah menatap keduanya dari kejauhan.


"Emang kenapa ?".


"Setelah apa yang lo lakuin ke Anya sekarang Lo pacaran sama dia".


"Udahlah Yan gue males ngebahas cewek murahan kayak dia".


Ryan menyeritkan dahi, "Gue rasa lo bukan orang yang kayak begini".


"Kenapa emang kalo gue begini. Setiap manusia berubah itu wajah Yan, yang gak wajar itu mainin perasaan orang lain".

__ADS_1


"Terserah lo deh Dev". Ryan langsung pergi meninggalkan Devan dan melangkah menuju kantin.


__ADS_2