
"Saya sedang baik dan berniat membantu kamu, kalau kamu tidak mau tidak apa-apa. Saya pergi dulu, permisi".
Mana hari sudah malam, lagipula Anya pun tidak tahu akan tidur dimana. Di jaman sekarang masih adakah orang yang memberi tumpangan dengan gratis ?. Bukankah itu lebih termasuk ke dalam jebakan.
Tapi otaknya terus menyuruh untuk ia menerima ajakan itu.
"Tunggu". Teriaknya.
Lelaki itu berhenti tepat di depan mobilnya, dengan ragu Anya menghampiri cowok tersebut.
"Maaf sebelumnya, apakah kamu bisa kasih saya pekerjaan". Tanyanya sambil mengigit bibir bawah, "Hmm, soalnya saya baru ke Jakarta". Anya langsung menutup rapat matanya. Persetan lah dia berbohong, Anya hanya tidak ingin membicarakan keluarganya untuk saat ini.
Cowok di hadapannya tidak bergeming, "Apakah saya suami kamu yang memberikan tempat tinggal dan pekerjaan ?".
Mendengar itu Anya langsung menatap matanya, tapi seketika ia langsung terdiam melihat pahatan tuhan yang sangat sempurna. Cowok di hadapannya sangat gagah dan terlihat baik.
Pikiran itu segera Anya tepis, bukankah Farrel dan Devan terlihat seperti itu. Tampan dan berwibawa tidak menjamin seseorang baik.
"Bukan gitu, gue gak minta tempat tinggal cuma minta kerjaan aja". Ucapnya mencoba tersenyum selebar mungkin.
Tidak salah Anya meminta pekerjaan pada orang seperti ini. Dia terlihat kaya dengan mobil mewah di hadapannya. Mungkin ini peluang bagi Anya untuk memulai hidup yang baru.
"Saya akan memberi kamu pekerjaan tanpa kamu tersenyum panjang".
__ADS_1
Seketika senyuman itu luntur, lelaki ini kenapa sangat dingin. Jadi Anya malu dengan perilakunya, "Tapi kok lo mau sih ngasih gue pekerjaan ? Bukannya jaman sekarang gak ada yang gratis ya".
"Bukannya kita di ajarkan untuk saling tolong menolong". Ucapnya datar.
Otaknya berputar lebih lamban dari biasanya, apa masih ada orang baik seperti dia di zaman seperti ini. Anya jadi ragu dan takut bagaimana kalau dirinya jatuh ke dalam lubang yang salah lagi.
"Dari pada otak kamu buat prasangka yang negatif mending pikirin gimana caranya buat bertahan hidup". Hilmi melangkah dan masuk ke dalam mobilnya.
Entah kemana orang di sampingnya akan membawa dirinya pergi. Tidak ada perbincangan di antara mereka yang terdengar hanya deru motor dan mobil yang saling membunyikan klakson.
Mobil Hilmi berhenti tepat di depan sebuah toko. Hilmi turun tanpa menoleh kepadanya, karena penasaran Anya pun ikut turun dan membuntuti Hilmi dari belakang. Saat Hilmi masuk semua orang langsung menunduk dan tersenyum.
"Enggak usah berlebihan kayak gitu, saya gak suka". Titahnya.
Semuanya mengangguk patuh, "Rima bantu dia". Ucapnya sambil menunjuk arah pada Anya, "Sekarang dia karyawan juga di sini".
"Ikutin aku ya". Rima mengajak Anya ke belakang untuk memberikan baju karyawan.
Anya menerima itu dengan senang hati. Dari tampilan warna dan bahannya cukup bagus untuk sebuah toko kue, ia jadi tidak sabar untuk memulai pekerjaan barunya.
"Terus aku kerja di bagian apa ?". Tanya Anya.
Rima yang mendengar itu terlihat bingung, "Emangnya kamu gak di kasih tahu sama pak Hilmi ?".
__ADS_1
Anya menggeleng, Hilmi tidak mengatakan apapun. Ia hanya di bawa ke sini tanpa persiapan apapun, jadi sangat wajar kalau dirinya pun bingung dengan keadaannya.
"Kamu bisa masak ?". Rima mencoba mencari cara dan langsung di balas anggukan oleh Anya.
"Masak mie, masak telor". Mencoba mengingat-ingat Anya menghitung dengan menggunakan tangannya, "Oh satu lagi, sama masak air". Terangnya.
Sampai detik ini pun Rima masih tidak mengerti dengan tujuan pak Hilmi mengerjakan seseorang yang tidak bisa memasak. Bagaimana bisa ia membuat kue jika masak saja tidak bisa. Bukankah pak Hilmi sangat selektif dalam mencari pegawainya ?.
Hilmi menyusul Rima yang berada di belakang, "Rima bantu dia berkerja soalnya saya menemukan dia di jalan dan dia langsung meminta pekerjaan".
Rima menatap keduanya cengo, lalu mengangguk cepat. Di pinggir jalan ? Meminta pekerjaan ?. Mungkin Hilmi hanya ingin berbuat baik, makanya ia membawa seorang perempuan ke sini.
Anya yang mendengar kata menemukan di jalan membuat wajahnya berubah menjadi masam. Bukanya dia yang menawarkan tempat tinggal pada Anya tapi kenapa sekarang seolah-olah dirinya yang memang membutuhkan.
"Kamu mulai bekerja besok ya, soalnya sebentar lagi toko ini tutup". Jawab Rima
Tuhan dimana dia harus tidur sekarang ? Mana sekarang sudah hampir jam sepuluh lagi. Tidak mungkinkan ia mencari kontrakan di saat seperti ini.
"Kamu bisa pakai kamar di belakang".
Anya langsung menoleh, "Sendiri di sini ?".
"Itupun kalau kamu mau kalau tidak mau sekarang kamu bisa pulang".
__ADS_1
Perkataan Hilmi selalu saja membuat Anya kesal, sudahlah mau bagaimana lagi. Segini pun seharusnya Anya bersyukur masih ada orang yang mau memberikan dirinya pekerjaan dan tumpangan.
Rima yang berdiri di sana merasa aneh pasalnya pak Hilmi selalu tidak memperbolehkan pegawainya tidur dikamar yang selalu ia pakai untuk berganti pakaian. Hilmi terkadang memakai kamar itu saat keadaan di kantor sedang senggang karena di sana tidak hanya ada kasur tetapi ada meja kerjanya juga.