
"Kenapa milih rumah sakit di sini buat koas ?".
"Ngikut kampus aja Dok".
"Oh iya jangan panggil Dok, panggil aja Rena".
Devan melirik sebentar, bukankah terdengar tidak sopan berbicara seperti itu.
"Maksud saya kalau lagi di luar jam kerja panggil Rena aja". Jelasnya.
Pelayan kantin di rumah sakit menghampiri mereka yang baru saja duduk. Lalu memberikan selembaran menu untuk mereka pilih.
"Saya Pesen nasi goreng sama jus jeruk". Ucap Devan.
"Saya sama aja deh tapi jangan pakai micin ya". Pelayan tersebut menganguk lalu menyuruh keduanya untuk mengangguk.
Tidak ada pembicaraan di antara keduanya, sangat ingin Devan memainkan ponselnya tapi ia takut di sangka tidak sopan dan tidak lulus koas.
Renata sedang memandang ke arah lain, jika di lihat doker Renata memang cantik apalagi jika menggunakan hijab. Entahlah tapi hatinya merasa tidak tertarik dengan rupa wanita di hadapannya.
"Dokter Renata lagi ngapain di sini". Lelaki yang lewat ke arah mereka berdua terlihat seperti kebingungan.
Renata tersenyum, "Saya lagi makan siang, dokter Gran dari mana". Tanyanya balik.
"Ini habis bayar kopi, kamu jarang banget Ren di sini tumben ?". Lelaki yang di sebut Gran menoleh ke arah Devan.
"Ahh, tadi lupa bawa makan soalnya buru-buru".
Gran hanya ber-oh ria, biasanya dokter Renata tidak pernah mau di ajak ke kantin rumah sakit tapi kenapa dengan koas baru dia mau saja.
"Ya udah saya duluan ya". Keduanya mengangguk. Setelah Gran pergi makanan yang mereka pesan sudah ada di hadapan.
Sejak melihat Devan Renata merasakan sesuatu yang berbeda. Entah hanya dirinya yang merasakan itu atau Devan juga sama. Menurutnya Devan adalah tipe orang yang tidak terlalu banyak bicara dan mau belajar sesuatu.
Dari itu semua memang kriteria Renata dalam menyukai cowok. Jarang ia melihat lelaki yang tidak mau menatap dirinya seperti sekarang.
Lihat sekarang, Devan tengah menyantap makanannya dengan lahap tanpa memperdulikan Renata yang sejak tadi menatapnya.
"Kenapa kamu ngebolehin aku ikut makan sama kamu ?". Tanyanya di sela makan.
Kata aku-kamu terdengar risih di telinga Devan, Sambil mengunyah ia juga mengiyakan kalau dokter ini menyukainya.
"Gak sopan aja kalau nolak". Jawab Devan santai.
"Biasanya cowok jaman sekarang jarang banget tuh yang mau di ajak makan sama dokter, kalau sama pacar sih gak tau".
Dokter ini meminta dirinya untuk menolak Renata untuk ikut makan atau memberi kode kalau dirinya mempunyai rasa yang sama. Sangat malas memang meladeni hal seperti ini. Bukannya dia cantik, banyak pula cowok di sini yang statusnya memang sudah menjadi dokter.
__ADS_1
"Berapa lama lagi kamu koas di sini ?".
"Dua bulan". Singkatnya.
"Ehh dokter Rena tumben ada di sini".
Sedikit memalukan memang, berdua makan dengan dokter yang usia jaraknya berbeda. Nanti Devan di kira-kira pendofil yang menyukai tante-tante.
"Sama siapa ini ?". Tanya perempuan sambil menghadap ke arah Devan.
Renata menoleh, "Dia Devan koas di sini". Jelasnya.
Seorang cewek berusia paruh baya hanya mengangguk, "Makin cantik aja, kapan nikah ?".
Renata terkekeh pasti saja setiap ia bertemu dengan orang selalu bertanya kapan nikah dan mana tunangannya. Bukankah menikah adalah sesuatu yang sakral, Renata hanya ingin tidak salah dalam memilih pasangan. Baginya menikah hanya satu kali di hidupnya.
"Lagi nyaman aja sama yang sekarang".
"Yang sekarang ?". Perempuan itu menoleh kepada Devan, meneliti setiap wajah dan gerakan Devan.
Renata sepertinya salah menjelaskan, "Maksudnya lagi Nyaman sendiri dulu". Baru perempuan itu paham, ia kira Rena berpacaran dengan laki-laki di hadapannya.
"Ya udah saya pulang dulu Ren". Renata mengangguk, Devan yang sudah menyelesaikan makan pun paham tentang apa yang mereka bicarakan.
"Nikah itu soal kesiapan bukan tentang orang lain".
"Kalo emang belom siap jangan di paksain karena yang bakal ngejalanin ya diri sendiri bukan orang lain". Tuturnya.
Renata terdiam, bahkan usia tidak menjamin seseorang menjadi dewasa. Pikiran itu Renata memang setuju, hidup ini selalu tentang ekspetasi. Sekolah, kuliah, punya kerja bagus, nikah dan punya anak.
Jika begini pikiran orang lain lah yang terlalu kolot, dirinya hanya sedang mencari teman hidup yang memang selalu mendukung Renata dalam setiap langkah bukan orang yang justru menghambat perjalanan hidupnya.
"Kalau kamu gimana ? Udah punya pacar ?".
Sejenak Devan memandang ke arah sekitar, hubungannya sendiri tidak jelas.
"Gak". Tegasnya.
"Tapi gue masih cinta sama dia". Lanjutnya.
Jelaslah Devan sudah mempunyai pacar secara dia tampan dan mempunyai pikiran terbuka. Ia jadi penasaran kenapa Devan masih mencintai mantannya.
Dari tatapan mata terlihat ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Renata membenarkan cara duduknya, tidak seharusnya ia menanyakan terlalu dalam tentang Devan.
Devan melihat jam arloji yang bertengger di tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 2 ia harus mulai berjaga kembali. Menuju warung di sana Devan membayar makanan keduanya.
"Maaf, gue harus balik jaga lagi".
__ADS_1
"Oh iya, semangat Dev". Ucap Rena.
Devan melengos begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Renata. Saling berbicara dengan dokter itu sebentar membuat semua aibnya terbongkar.
Setelah sampai pada meja jaga Devan melihat wajah Gandi yang di tekuk kusut.
"Kenapa lo ?". Tanya Devan
"Lo yang dari mana, gue laper juga. Ni tempat gak boleh kosong Dev mau di omelin pendamping".
Devan terkekeh, "Sorry Gan gue tadi laper".
"Lah lo enak di sana makan, gue malah kayak cacing kepanasan".
"Udah lah besok gue traktir lo makan".
Mata Gandi berbinar mendengar kata traktiran, "Bener lo ?".
Devan mengangguk, "Gue tagih loh besok. Btw lo tadi makan sama dokter Rena ya". Ucap Gandi sambil menaik-turunkan alisnya.
"Tau dari mana lo ?". Ucap Devan sambil merekap data pasien hari ini.
"Loh tuh gak tau apa bego sih Dev, dari sini keliatan tau". Gandi menunjuk belokan di mana Devan dan dokter Rena bertemu.
Di toyornya kepala Gandi hingga membuat si empunya kesakitan, "Sakit tau Dev,". Kemudian di dekatkan kepalanya pada Devan yang sedang menulis.
"Bener kan apa yang gue bilang tadi".
"Bener apa".
"Ihh lo mah, soal dokter Rena yang suka sama lo".
Devan hanya berdehem membuat Gandi heboh seketika. Bahkan orang yang sedang lewat pun sempat terhenti akibat teriakkan Gandi.
"Berisik tau gak lo, kalo di marahin gak usah bawa-bawa gue".
"Wah gila sih, pencetak rekor lo Dev. Dokter secantik dia harus lo pacarin".
"Gue gak minat".
"Dokter secantik dia lo gak minat ?". Teriaknya di samping telinga Devan.
Baru Devan akan memaki Gandi tapi Ryan datang pada mejanya dengan terengah-engah.
"Dev ?". Panggil Ryan.
Devan mengadah, "Karen mau bunuh diri".
__ADS_1