Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
47 MABA


__ADS_3

Menjalani ko-as sangat menguras tenaga, pikiran dan waktu. Selain itu para koas harus berganti siff berjaga setiap harinya, seperti melihat teman yang baru datang pagi hari untuk mulai bergantian seperti melihat uang ratusan juta rupiah.


Sudah terhitung tiga bulan Devan menjalankan koas bersama dengan Ryan di rumah sakit yang sama.


Devan berjalan menuju meja jaga di sana wajah Ryan memang seperti orang yang butuh jam tidur terlihat dari matanya yang sudah sangat merah.


"Gila lu Dev, sengaja apa jalannya di pelanin biar gue di sini ngerasa tersiksa gegara ngantuk parah".


Devan terkekeh, "Lebay Lo".


"Cepet nih gue udah gak sabar menanti kasur di rumah". Devan gantian memberikan seragam pada Devan.


"Oh iya Dev laporan bulan ini lo udah beres ?". Tanya Ryan.


Devan menganguk dan itu membuat Ryan kelimpungan, "Gue berasa di neraka tau gak, udah cape jaga, tugas juga banyak lagi".


"Lo tuh banyak ngeluh tau gak, mending lo pulang sekarang". Suruhnya.


"Iya Dev ini mau gue juga". Ryan berlagak ngambek karena Devan tidak peka dengan pertanyaan tadi. Ia hanya ingin melihat bagaimana laporan yang seharusnya karena jujur Ryan merasa tidak kuat lagi.


Setelah Ryan berlalu pergi sekarang hanya ada Devan dan satu orang lelaki di sampingnya yang bagian berjaga. Ia tidak mengenal lelaki di sampingnya dan sepertinya cowok itu berbeda univ dengan dirinya.


"Ini data pasien kemarin malam, dan lo bisa salin itu lagi". Ucap cowok di sampingnya.


Kertas berjumlah sekitar 6 lembar harus Devan salin, sungguh tidak ada gunanya. Belajar kedokteran selama hampir 4 tahun hanya belajar bagaimana caranya menyalin dengan benar saja terkadang Devan selalu salah.


"Gue ke belakang dulu". Devan hanya mengangguk cowok tadi berdiri dan meninggalkan tempat jaga sedangkan Devan melanjutkan tugasnya.


Tangannya seperti akan putus, bahkan punggungnya pun sudah terasa panas. Akhirnya kegiatan menulis sudah selesai, dari arah berlawanan ada seorang dokter perempuan yang menghampirinya.


"Kamu koas di sini ?". Tanyanya.


Devan mengangguk, "Ikut saya". Titahnya.


Devan hanya mengangguk kemudian ia mengekor dokter tersebut dari belakang.


"Catat data pasien, dan bantu saya memeriksa".

__ADS_1


Lagi lagi Devan hanya mengangguk, "Sekali lagi kamu hanya mengangguk saya pulangkan kamu ke kampus lagi". Ucapnya.


Meskipun dokter di hadapannya perempuan tapi cara dia berbicara sangat tegas, "Kamu sudah baca kode etik dalam praktek ?".


"Sudah dok". Jawab Devan tegas.


Dokter itu mengangguk sekilas lalu masuk ke dalam ruangan dengan penderita penyakit yang cukup berat.


"Halo". Sapa manisnya, "Gimana sekarang keadaannya ?". Tanyanya pada seseorang yang tengah berbaring


Devan hanya menunduk, bagaimana bisa dokter ini bersikap ramah pada orang lain sedangkan pada dirinya bersikap tegas.


"Saya periksa dulu ya". Pasien di hadapannya tersenyum kemudian mengangguk.


Devan kemudian mengeluarkan kertas dan bolpoin untuk mencatat data beserta keluhan pasien. Tapi matanya seolah tidak bisa bergerak karena sosok di hadapannya.


Anya


Devan jadi teringat Anya, bagaimana keadaan wanita itu sekarang ? Apakah Anya akan kembali dan ingat padanya. Devan hanya bisa menghela nafas, saat ini ia tengah belajar untuk tidak menyalakan diri sendiri dalam keadaan ini.


Senyuman pasien itu sangat mirip dengan Anya, ah rasanya rindu dalam hatinya semakin menjadi. Jika saja Anya melihat dirinya yang akan menjadi dokter mungkin ia akan sangat senang.


"Apa kamu mendengar saya ?".


Devan tersadar, keduanya seperti sedang memperhatikan dirinya dari tadi. Devan merutuki dirinya yang tidak fokus karena terlalu memikirkan Anya.


"Maaf dokter saya kurang fokus barusan, bisa di jelaskan lagi".


Dokter itu kemudian mengulangi penjelasan tentang pasien tersebut dan Devan menulisnya dengan baik. Ia berbalik arah dan kembali pada meja penjaga tapi langkahnya terhenti akibat ucapan dokternya lagi.


"Apa kamu sudah bertanya tentang data pasien".


Sungguh bawa saja Devan ke antartika, karena ia lupa juga menanyakan ini. Devan berbalik arah dan menghampiri keduanya dengan mencoba sambil tersenyum.


Setelah semuanya benar-benar selesai keduanya keluar dari ruangan.


"Saya tidak bisa bekerja dengan orang teledor dan pelupa seperti kamu. Jika begini saya ragu kamu bakal menjadi seorang dokter".

__ADS_1


Setelah berbicara, dokter itu meninggalkan Devan yang termenung sambil mengusap wajahnya kasar. Pagi hari yang sangat menyebalkan baru pasien pertama tetapi ia sudah kena semprot.


Setelah itu Devan hanya kembali duduk di meja tunggu sampai waktu berjaga sudah waktunya berganti.


"Dev bagian gue ya ?". Ucap seseorang yang memang bagian siff sore.


Devan mengangguk lemah, "Kenapa muka lo kusut banget ? Kena marah lo ?". Tanya Malvin.


Devan menoleh, "Kok Lo tau ?".


Malvin terkekeh, "Jadi bener lo kena semprot ?".


Tidak menjawab tapi Devan malah melengos, "Gue tau wajah-wajah begini, kalo gak cape ya di marahin pendamping".


"Tapi parah sih gue tadi di bantu dokter langsung tapi malah gak fokus".


"Wah posisi Lo terancam dong Dev, mending lo lupain deh masalah kalo lagi begini".


Devan hanya mengiyakan melupakan tidak semudah mengucapkan, tadinya ia pun berniat begitu tapi apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur.


"Ya udah gue balik ya ?". Ucap Devan sambil menepuk bahu Malvin.


Di mobil perasaan Devan menjadi labil hanya perkara ucapan dokter tadi. Setelah sampai rumah ia melihat mobil Karen yang terparkir di garasi rumahnya.


Raut wajahnya berubah menjadi masam, Karen adalah perempuan yang tidak tahu malu. Devan sudah memperingati dia untuk tidak selalu datang kerumahnya tapi lihat sekarang.


"Udah pulang sayang". Ucap Femi yang melihat Devan melintas di depannya.


Devan mengangguk, "Ke sini dulu bentar ada Karen loh".


"Devan capek Bun, mending suruh dia pulang".


"Gak boleh gitu Dev, Karen udah bawain makanan kesukaan kamu loh".


Devan hanya melengos tanpa menghiraukan bundanya, jika di pikirkan lagi bundanya pun selalu saja memihak pada Karen. Mungkin karena Karen terlanjur dekat dengan Femi sejak dulu.


"Gak papa Tante, Devan pasti capek abis jaga". Sambil menahan lengan Femi, Karen mencoba mengerti keadaan Devan sekarang yang suka mengusirnya secara terang-terangan.

__ADS_1


Sampai di kamar Devan menutup pintu dengan keras. Entah kenapa semenjak Anya tidak ada rasa tidak suka dirinya terhadap Karen semakin menjadi. Seperti Karen yang memang berniat baik dengan memberikan makanan ke rumah sakit. Semua itu Devan tolak dengan keras.


Otaknya semakin tidak waras hanya karena masalah perempuan, Devan menamakan dalam hati untuk tidak berurusan dengan cewek mulai sekarang. Baik Anya maupun Karen ia ingin melupakannya.


__ADS_2