Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
44 MABA


__ADS_3

Afra dan Fani nekat untuk menemui Devan tentang kondisi Anya di kampus, keduanya belum tahu jika Anya dan Devan sudah putus makanya mereka nekat menunggu Devan di parkiran.


Dari ujung terlihat Devan, Karen, Ryan dan Irana tengah berjalan ke arah parkiran, "Ayo Ra samperin". Ucap Fani sambil menggenggam tangan Afra.


Keduanya menghadang jalan yang akan di lalui, "Siapa lo, kita mau lewat juga". Sarkas Karen.


"Maaf sebelumnya tapi gue ada urusan sama dia". Ucap Afra sambil menunjuk Devan.


Keempatnya bingung, wajah dua anak ini seperti bukan berasal dari kampus Airlangga. Ada urusan apa mereka dengan Devan ?.


Yang merasa di cari hanya menaikkan satu alisnya.


"Gue Fani dan dia Afra, kita temennya Anya dari Bandung". Jelasnya.


"Terus hubungannya sama gue ?".


"Gue cuman mau bilangin kalau Anya lagi kritis di rumah sakit, barangkali lo belom tau jadi kita ke sini".


Devan sama sekali tidak terkejut dengan penuturan cewek di hadapannya. Ryan yang melihat ekspresi Devan merasa aneh, anak itu biasanya selalu riweh jika menyangkut urusan Anya.


"Dia udah gak ada lagi hubungannya sama gue, gue udah putus". Ucapnya datar.


Ketiganya terkejut apalagi Karen yang mendengar itu langsung merasa bahagia.


Afra dan Fani saling pandang, mereka tidak tahu mengenai ini tapi Fani berfikir tidak seharusnya juga Devan secepat ini lupa dengan Anya.


Devan lanjut berjalan tanpa melihat wajah keduanya, tapi Fani malah menyusul Devan sepertinya ada yang janggal pada hubungan Anya.


"Lo gak ada niat buat jengukin dia gitu ?". Tanyanya.


"Buat apa ?".


"Heh, lo lo pada kalo orang gak mau jangan di paksa. Percuma mau si Anya mati pun Devan gak akan perduli". Bentak Karen.


Irana yang mendengar penuturan Karen mengerutkan dahi, "Kalo ngomong di jaga Kar, gimana kalo saat itu keadaannya lo yang mati apa lo udah tobat sama keadaan lo sekarang".

__ADS_1


Fani mengepalkan tangannya, jawaban Karen memang keterlaluan. Dia malah menyumpahi Anya meninggal dan itu membuat Fani naik pitam.


"Salah dia sendiri yang gak terbuka sama gue, udah coba gue tanya tapi dianya malah bohong. Apa itu salah gue ? Gue gak suka cewek kayak begitu, kayak bocah tau gak ?".


Devan rasa penjelasan itu sudah cukup, "Lo yang seharusnya ngerti dia, udah tau Anya orangnya kayak gitu malah lo giniin". Jawab Afra.


Devan terkekeh, "Emang kurang gimana lagi gue ngertiin dia ?".


"Lo pikir Anya juga suka sama cowok ninggalin cewek dalam keadaan sekarat, giliran udah sehat aja balikan lagi sama mantannya. Inget perkataan gue, lo gak akan pernah dapet perempuan semau dan sesuka lo tanpa lo menerima diri secara utuh".


"Ayo Ra kita balik". Fani menarik lengan Afra untuk menjauhi mereka, biarlah sesekali ia seperti ini lagi pula perkataan ia tadi tidak sebanding dengan rasa sakit yang Anya rasakan.


Devan terdiam mendengar perkataan cewek tadi. Dasar cewek gila emang dia lelaki brengsek yang meninggalkan perempuan karena penyakit. Devan hanya cape dengan perlakuan Anya yang selalu menurutnya benar sendiri.


"Udah Dev jangan di pikirin kan ada aku". Karen menggenggam lengan Devan manja, rasanya sangat bebas sekarang karena tidak ada pengganggu lagi.


"Dev bisa ngomong sebentar".


Ryan membawa Devan pada samping parkiran dekat taman di rasanya sudah jauh dari pendengaran Karen dan Irana Ryan mulai membuka suara.


"Terus siapa ? Roh lo masuk ke gue ?".


Ryan menggeleng, "Maksud gue bukan gitu, kenapa lo jadi begini sama Anya".


Yang di tanya malah membuang muka, "Udahlah Yan gue males ngebahas ini, mending pulang aja gue cape".


"Gue gak tau masalah apa yang terjadi sama lo tapi gue rasa sebagai teman harus mengingatkan, Anya lagi kritis loh Dev. Lo harusnya ngasih semangat ke dia bukan malah uring-uringan begini".


"Gue gak uring-uringan Yan, gue cuman...".


"Cuman ?". Devan terlihat sangat frustasi sekarang, Ryan tahu jika Devan masih mencintai Anya tapi entah kenapa mereka malah berjauhan seperti ini.


"Gue ngerti kok men ini berat, tapi lo harus kuat. Saat Karen koma aja lo kuat masa sekarang engga".


Ia mencoba menguatkan Devan dengan menepuk bahu sahabatnya, Bukankah perjalanan cinta memang serumit ini. Lebih tepatnya yang rumit itu bukan hubungan tapi orangnya.

__ADS_1


"Mending lo anterin dulu Karen pulang deh dari pada dia ngamuk-ngamuk".


Devan mengangguk lalu mereka melangkah menuju parkiran, Devan mengantar pulang Karen sedangkan Ryan mengantar Irana.


Sampai rumah Devan sengaja melempar tasnya ke sembarang arah. Tidak bisa berbohong jika Devan sedang khawatir karena keadaan Anya, tapi rasa itu selalu tertutup oleh sikap Anya yang selalu ingin benar sendiri.


Devan berjalan untuk mengambil tas yang ia lempar tadi, di kampus Ryan memberikan sebuah kotak yang tak sengaja Anya jatuhkan saat melihat dirinya bersama Karen.


Di keluarkannya paperbag kecil itu berisi kotak panjang berwarna abu. Saat di buka ternyata itu adalah sebuah kalung, saat Devan amati ternyata kalung ini saling melengkapi satu sama lain. Jika saja yang satunya hilang maka mereka hanya mempunyai setengah dari itu.


Di sana Anya juga menyelipkan sebuah surat, Devan ragu untuk membacanya tapi rasa penasaran dalam dirinya lebih besar.


Dear bubu


Dev kalau kamu percaya sama aku dengan jarak yang memisahkan harusnya aku juga percaya sama kamu. Percayalah Dev setiap hari aku selalu berharap bertemu kamu, aku selalu berfikir sampai mana hubungan jarak ini akan berakhir.


Nanti kalau aku jauh dari kamu lagi jaga pemberian ini ya terserah mau kamu pakai atau simpan yang penting kamu tau kalau aku sayang kamu Dev.


Tak terasa cairan bening itu sudah menggenang di pelupuk matanya. Devan sadar Anya memang mencintai dirinya dengan sikap bebalnya tapi kenapa dirinya malah menghakimi dia dengan berlaku seperti ini.


Bukankah dirinya bisa belajar dari kejadian seperti ini sebelumnya ? Jika begini Devan lah yang jahat terhadap Anya ?.


...***...


Di rumah sakit keadaan sedang tegang karena kondisi Anya yang belum pulih juga, Arin dari kemarin hanya diam dan menunggu. Dia tidak mau pulang karena takut Anya siuman katanya.


Afra dan Fani cemas karena melihat banyak dokter dan perawat yang masuk ke dalam ruangan yang Anya tempati.


"Orang tua pasien".


"Saya sus ada apa sama Anya ?". Tanya Femi khawatir.


"Begini bu, dokter dan alat rumah sakit yang ada di Jakarta sudah tidak bisa lagi menangani pengobatan pasien. Lebih baik pasien di bawa keluar negeri untuk pengobatan yang lebih memadai". Jelasnya.


"Seterah sus, lakukan yang terbaik agar anak saya sembuh. Biar saya yang tanggung semua biayanya". Tegas Femi.

__ADS_1


__ADS_2