Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
98 MABA


__ADS_3

Mobil mereka telah terparkir di depan rumah sakit, Anya menoleh pada Hilmi dan memusatkan tubuhnya. "Kamu harus jaga emosi, kan kamu yang bilang dia masih remaja yang labil".


"Gak gitu juga sayang, dia emang masih remaja tapi pikirannya harus dewasa. Clara bukan anak TK tapi kelakuannya persis kayak anak kecil".


Hilmi membuang wajahnya ke sembarang arah. Ia tahu Clara akan melakukan sesuatu di luar nalar manusia. Dia itu terlalu terobsesi oleh hal konyol makannya Hilmi selalu berusaha bersikap baik agar Clara tidak melakukan hal nekat.


Tapi dasarnya manusia, sudah di kasih hati malah minta jantung. Dia itu anak manja yang jauh akan kata menghargai orang lain. Jika dirinya membiarkan hal ini pasti dia akan menanyakan hal yang jauh lagi.


"Sayang" Panggilannya


"Gimana kalau kita tinggal di luar kota untuk sementara waktu"


"Mendadak begini ?".


Hilmi mengangguk, ia sudah kehilangan akal agar menjauh dari Clara. Mungkin ini satu-satunya cara, karena mau bagaimana lagi semuanya telah ia pikirkan baik-buruknya.


"Terus mama gimana ?"


"Mama biar sama mama Arin di rumah kamu dulu, lagian kita gak akan netap kok cuman sementara".


Anya mengangguk mengiyakan ajakan suaminya. Anya pun sudah muak dengan tingkah Clara yang sangat menggangu hidupnya.

__ADS_1


"Ya udah mau turun gak ?".


"Ayo"


Mereka turun dan melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Kata rumah sakit sebenarnya adalah truma bagi Anya. Di sinilah semua lukanya di mulai, tiba-tiba pikirannya jadi ingat pada Devan. Lelaki itu pasti tengah meringkuk di dalam tahanan. Kasihan memang, tapi setimpal dengan apa yang telah dia perbuat dulu.


"Anya, kamu kenapa". Tanya Hilmi saat mereka tengah berjalan menuju ruang Anggrek tempat pemeriksaan kandungan.


"Enggak, aku jadi Inget saja sama Devan. Dia apa kabar ya".


"Kamu masih ingat sama dia ?".


Pertanyaan itu seperti sindiran bagi dirinya, "Kamu marah".


"Itu nada bicaranya kayak orang gak terima"


"Mau ketemu"


Bingung dengan Hilmi, Anya tidak mengerti apa suaminya katakan. Entah dia marah atau sebaliknya jelas membuat Anya tidak mengerti.


"Lagi baik lho, mau ketemu gak". Sindirnya

__ADS_1


"Enggak"


"Yakin ?". Kekeh Hilmi, bagaimanapun anak yang di kandung Anya adalah anak Devan. Sebenci apapun ia pada lelaki itu tetap saja Hilmi tidak bisa


"Lagi kosong mau masuk aja". Tanya Hilmi pada Anya, Ia melihat kalau ruangan itu sedang kosong karena belum ada pasien.


"Boleh, bagus dong jadi gak perlu ngantri".


Setelah masuk Anya di suruh berbaring dan di hubungkan dengan alat di samping. Beberapa tahapan dokter itu melakukan hal untuk melihat jenis kelaminnya.


"Bapak suaminya ?" Tanya dokter itu


Hilmi menganguk, "Mau pegang".


Hilmi yang bingung pun mengikuti instruksi dokter dengan memegang alat yang dia pun tidak tahu. Kemudian alat itu di tempelkan pada perut Anya di samping alat itu beraksi dengan memperlihatkan pergerakan janin.


Tak sadar air mata Anya jatuh begitu saja, sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ibu. Betapa bahagianya juga Hilmi sekarang, meskipun anak itu bukan anak darinya tapi Hilmi ikut terhanyut. Mau bagaimanapun dia akan menjadi ayah secepatnya.


"Jenis kelaminnya laki-laki". Ucap dokter tersebut


"Mas laki-laki".

__ADS_1


Hilmi tersenyum pada Anya lalu mengusap pipinya dengan lembut. Perempuan ini memang hebat, Hilmi tidak pernah salah memilih istri. Baik Sandra maupun Anya keduanya telah berkorban besar atas hidupnya.


__ADS_2