
Akad pernikahan akan di laksanakan besok lusa, semua sudah di persiapkan mulai dari dekor, tempat sampai gaun pun mereka tidak perlu khawatir. Rencananya mereka akan melangsungkan akad dengan sederhana tapi Anya merasa tidak enak pada koleganya Hilmi.
Dulu pas dirinya di ajak oleh Hilmi ke pernikahan kliennya hingga dirinya bertemu dengan Devan saja tempatnya jauh dari kata sederhana. Jadi mereka memutuskan untuk menyewa hotel untuk 2 hari.
"Udah siap ?". Kata seseorang di sebrang sana.
"Udah, kamu dimana ?".
"Di depan rumah kamu".
Anya membelalakkan matanya, buru-buru ia memakai sepatu dan pergi ke bawah. Benar saja di sana Hilmi tengah berbicara dengan mamanya.
"Kamu kok gak bilang udah di sini". Kesal Anya
"Barusan kan bilang".
"Ya gak gitu dong, harusnya kamu bilang dari rumah".
"Udah ah. Mending kalian berangkat sekarang dari pada kejebak macet". Arin menyela perdebatan mereka jadi ia mengusulkan agar mereka segera berangkat.
__ADS_1
"Anya pamit ma". Keduanya menyalimi Arin secara bergantian.
"Hati-hati ya".
Di pertengahan jalan menuju mobil Anya merasa ada yang lupa, "Oh iya, kamu tunggu di mobil aku mau ambil sesuatu". Anya balik badan dan berjalan menuju dapur sedangkan Hilmi menunggu Anya di mobil.
Selang beberapa menit Anya masuk kembali dan membawa bunga serta air, "Kamu nyiapin itu". Tanya Hilmi.
Kemarin sengaja Anya membeli bunga untuk nyekar ke pemakaman Sandra. Ia pernah melihat orang melakukan itu saat di pemakaman.
Anya mengangguk lalu memindahkan barang tersebut ke jok belakang, "Ya udah ayo". Anya bingung dengan Hilmi yang tiba-tiba terdiam.
Hilmi tersadar lalu mulai menstrater mobil dan pergi menuju pemakaman mantan istrinya.
Sengaja mereka pergi ke makam Sandra untuk meminta restu tentang Hilmi yang akan meminang Anya. Anya ingin pernikahannya pun membuat Sandra tidak lagi penasaran dengan dirinya.
Untung saja jalanan saat ini tidak terlalu macet. Karena mereka tahu jika berangkat sedikit lebih siang pasti akan terasa sangat panas.
Mereka telah sampai di pemakaman, Anya turun dan melihat betapa banyaknya batu nisan yang berjajar di antara rerumput. Anya yakin jika dirinya meninggal pun ia tidak akan mengingat letak pemakamannya.
__ADS_1
Hilmi menuntun agar Anya mengikuti dirinya dari belakang, cukup jauh memang mereka menyusuri setiap langkah yang di pijak. Entah sudah berapa nama Anya membaca orang yang meninggal.
Tak sadar kalau Hilmi sudah berjongkok membuat Anya menghentikan langkahnya. Dirinya pun ikut berjongkok di samping Hilmi.
Di sana tertera nama Sandra Ghana dengan tanggal meninggal juga. Anya menoleh pada Hilmi, ia paham bagaimana perasaannya sekarang. Lelaki itu cukup kuat untuk ukuran cowok yang di tinggal istri saat sedang hamil.
Anya menggenggam lengan Hilmi lalu menampakkan senyum indahnya, "Sandra cantik banget ya, dia pasti udah bahagia di sana". Hilmi melihat Anya dengan seksama, mencoba mencari sesuatu dari sana dan ia menemukannya.
Lengannya beralih memegang batu nisan itu, "Halo Sandra ini aku Anya, aku datang ke sini buat minta restu sama kamu tentang pernikahan kita. Tenang aja aku gak akan ngebuat Hilmi lupa sama kamu kok, izinin aku buat ganti posisi kamu di hidup Hilmi ya. Di hati Hilmi kamu selalu ada dan pastinya Hilmi akan selalu inget sama kamu".
Hilmi tersenyum melihat percakapan antara Anya yang sangat sungguh-sungguh dalam menyampaikan informasinya pada Sandra walaupun itu entah akan sampai atau tidak tapi cukup membuat Hilmi merasa lega. Lega karena dirinya tidak salah dalam memilih pasangan hidup kembali.
"Kita doa ya buat Sandra". Ucap Hilmi lalu mengadahkan kedua tangannya ke atas. Begitu pula dengan Anya mereka memberikan doa semoga Sandra di terima di sisi yang maha kuasa.
Setelah itu Anya menuangkan air ke atas tanah dan menaburkan bunga. Setelah di rasa selesai Hilmi berdiri.
"Pulang".
Anya mengangguk, sebelum itu ia mengusap nisan Sandra sekali lagi dan pergi meninggalkan pemakaman.
__ADS_1