
Di perjalanan tidak ada pembicaraan di antara mereka yang ada hanya suara klakson yang saling menyahut. Clara yang duduk di belakang tiba-tiba teringat dengan pernikahan Hilmi dan Anya yang belum lama.
Clara masih ingat kalau dirinya di telpon oleh papahnya dan di ajak ikut ke pernikahan. Dan itu belum lama, matanya beralih pada kedua orang tua yang tengah duduk berdua di depan.
Perut Anya seperti sudah memasuki delapan bulan. Pikirannya menolak kalau Hilmi melakukan hal yang tidak seharusnya sebelum mereka resmi terikat janji. Clara semakin penasaran, selama jauh dari Hilmi banyak hal yang tidak ia ketahui darinya.
"Kalian baru beberapa bulan menikah tapi kenapa perut kak Anya sudah besar ?". Tanya Clara
"Emangnya kenapa ?" Tanya Hilmi tegas
Hilmi sedikit tidak suka dengan pertanyaan Clara karena jelas itu menyinggung tentangnya.
"Ya gak kenapa-napa sih tapi Clara aneh aja"
Anya menoleh pada Hilmi sekilas, tangannya ia remas hingga mengeluarkan keringat. Dirinya takut kalau Clara mengetahui hal ini karena itu bisa jadi peluru baginya untuk mencela Anya.
"Clara". Panggil Hilmi
"Iya"
Clara memperhatikan Hilmi dari kaca spion di depan. "Abang punya aib kamu apa boleh di bilang ke orang lain ?"
Dahi Clara mengerut, "Kok gitu ? Itu kan privasi kak".
__ADS_1
"Kamu tau cara menghargai orang lain kan ? Aib sendiri aja gak pengen di umbar sama juga yang lain kamu udah nanya hal yang gak sepatutnya kamu tanya".
"Tapi ini kan beda..."
"SAMA AJA".
Anya dan Clara kaget karena teriakan Hilmi, "Sabar sayang". Anya mengusap bahu Hilmi agar tenang karena dia sedang menyetir.
"Kamu sebagai orang yang berpendidikan gak pantes ngomong kayak begitu, mending cari tau masalah orang lain ya ? Jangan kita"
"Ngapain nyari urusan orang lain gak ada kerjaan".
Hilmi sejak tadi menahan amarahnya agar tidak keluar. Karena bagaimanapun Clara sudah sangat keterlaluan. Lihatlah bahkan orang ini tidak menyadari ucapannya.
"Enggak". Ucapnya datar
Hilmi langsung menutup kaca mobil dan pergi meninggalkan Clara yang jengah menatap mereka berdua.
"Drama banget sih, najis".
Clara mengacuhkan sikap mereka yang sepertinya telah marah. Clara masuk ke dalam rumah tetapi di ruang tengah tidak ada siapapun. Ia mencari ke tempat biasanya papanya bekerja. Matanya melihat papanya yang sedang bertungku di depan meja kerjanya.
"Papa". Teriaknya
__ADS_1
Clara langsung memeluk tubuh Dean dengan erat.
"Aduh aduh anak papa, makin cantik aja".
"Iya dong".
"Gimana kuliah di sana kamu betah ?".
Clara mengangguk, "Betah kok Pah, apalagi kalo papah nemenin Clara di sana makin betah pastinya".
"Gak bisa gitu dong sayang, harusnya kamu yang pindah ke sini dan temenin papa. Papa kesepian loh gak ada kamu".
"Masa sih". Ejek Clara.
Dean mengangguk seolah-olah ia memang kesepian. Masalah Hilmi kenapa tidak ia tanyakan saja ke papanya, siapa tahu aja dia tahu.
"Pah, kan Clara ke rumahnya bang Hilmi dulu dan di sana ada Anya istrinya. Udah hamil lho, perasaan bukannya mereka baru nikah ya ?"
"Bener". Jawab Dean, "Kalo masalah itu papa denger Hilmi nikahin Anya saat dia hamil anak orang lain".
Clara semakin bingung dengan penjelasan papanya, "Anak orang lain maksudnya gimana ?".
"Gak tau papa juga, pokoknya anak yang lagi di kandung Anya bukan anak Hilmi. Anya menikah di luar nikah dan Hilmi nerima itu semua".
__ADS_1
Semakin kaget lagi dengan pernyataan ini membuat Clara semakin puas. Dengan begini akan ada hal yang bisa membuat Hilmi menjauh dari Anya. Tapi kenapa bang Hilmi mau nerima Anya sebagai istrinya sedangkan dia lagi ngandung anak orang lain.