
"Bagian saya di mana ?". Tanyanya.
"Pasien ruangan anggrek bad B3 dokter". Jelasnya.
Devan mengangguk kemudian memakai jas dokternya. Siapapun bisa melihat kalau Devan sangat gagah dan tampan, bahkan nurse yang mengikutinya pun sempat gugup.
Tugas dan izin praktek sudah ia bereskan sampai tuntas. Baru 4 bulan ia bekerja tapi popularitas Devan sudah terkenal seantero rumah sakit. Sekarang status dirinya sudah menyandang seorang dokter yang berarti ia harus siap membantu pasien tentunya dengan tanggung jawab yang besar.
Langkah kakinya mengetuk setiap lantai yang ia lewati. Padangan matanya lurus ke depan tak lupa juga ia sesekali tersenyum pada orang lain yang menyapanya.
Tapi tiba-tiba matanya menangkap sosok seseorang yang membuat dirinya terpaku. Sosok itu sedang berdiri menyamping yang entah sedang menunggu apa.
Apa itu Anya
Ingin rasanya Devan menghampiri dan memastikan tapi logika seolah menolaknya. Anya tidak pulang selama beberapa tahun lamanya. Mana mungkin sekarang dia ada di rumah sakit tempat Devan bekerja.
"Dok ada apa... ". Ucap nurse yang melihat ke arah sama di mana Devan memandang.
Devan tersadar, "Ah, enggak". Devan lanjut berjalan, mungkin ini hanya perasaannya saja.
Masuk dan memeriksa pasien adalah sesuatu yang menyenangkan bagi Devan, bagaimana ini sudah menjadi impiannya sejak kecil.
"Gimana pa kondisinya sekarang, udah baikan ?". Devan bertanya sambil mengecek keadaan bapak di hadapannya menggunakan stetoskop dan sentimeter.
"Alhamdulillah dok".
"Jangan lupa di minum terus obatnya sama jaga asupan makanan ya". Pasien itu mengangguk patuh.
Setelah selesai giliran nurse yang mengambil alih untuk menulis data dan keluhan tadi sambil mengecek transpusi darah yang sedang berjalan.
Bapak itu tersenyum, "Atuh jangan gugup neng".
Nurse yang sedang membenarkan selang darah pun menoleh, sepertinya sangat kentara kalau dia memang gugup karena bersama dokter Devan di sini.
Devan yang mendengar itu hanya diam, di rasa tidak ada lagi yang perlu di lakukan Devan keluar terlebih dahulu dari ruangan itu.
Sekarang waktunya istirahat dan ia teringat kalau ada janji bertemu dengan Ryan yang entah akan membicarakan apa. Tidak apalah lagipula Devan memang sedang membutuhkan seseorang untuk di ajak makan siang.
"Ah sorry". Ucap seseorang yang menyenggol bahu Devan.
Orang yang menabraknya seperti sedang buru-buru karena ia bisa merasakan itu.
"Enggak pa..."
Seketika Devan merasa tubuhnya kaku, entah apa sepertinya ia mengalami heart attack. Sosok orang yang ia rindukan selama ini sedang ada di hadapan matanya. Devan hanya terpaku melihat Anya yang sekarang.
__ADS_1
"Ah maaf ya". Jelasnya kemudian Anya melanjutkan langkahnya tapi lengannya malah di cekal oleh Devan.
"Ada apa ?". Tanyanya.
Anya sangat berbeda dari beberapa tahun lalu. Mulai dari rambut yang di blonde kecoklatan, dan cara berpakaian yang modis. Bahkan ia sempat ragu jika ini adalah mantannya, tapi Devan bisa merasakan kalau ini memang Anya yang ia cari.
Ah rasanya Devan tidak pernah mencari Anya, Devan hanya berdoa pada tuhan agar mempertemukan kembali dirinya dengan Anya. Terbukti tuhan sangat baik padanya sekarang ia bisa bertemu lagi dengan sosok di hadapannya.
"Anya".
Yang di tanya hanya menoleh kesana-kemari, sepertinya dia sedang mencari sesuatu.
"Sorry apa ?".
Sepertinya Anya tidak terlalu menanggapi Devan. Ia membasahi bibirnya yang kering, apa Anya sudah lupa pada dirinya ?.
"Nya lo gak lupa kan sama gue ?". Tanyanya memastikan.
Anya terdiam sebentar lalu menggeleng, "Lo Devan kan ?".
Devan mengangguk lalu tersenyum syukurlah Anya tidak melupakan dirinya. Devan menoleh ke arah sekitar lalu mencoba berfikir apa sebaiknya ia meminta maaf pada Anya tentang masa lalunya.
"Lo sibuk gak ? Gue mau ngomong sekalian makan siang gimana ?".
"Boleh". Ucapnya sambil mengangguk.
"Mau makan apa ?". Tanya Devan sambil membaca menu.
"Gue gak makan, minum aja".
Devan tahu apa minuman kesukaan Anya lalu ia memanggil wraiter, pelayan itu pun menghampiri mereka berdua. "Mau Pesen apa pa ?".
"Pesen nasi goreng satu, jus jeruk nya dua".
"Enggak". Hela Anya, "Gue kopi".
Wraiter yang mencatat pun terlihat kebingungan, Devan memandang ke arah Anya lalu mengangguk, "Kopi satu jus jeruk satu".
Wraiter itu mengangguk, "Baik tunggu sebentar ya !".
Setelah Wraiter itu pergi Devan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, "Bukannya kesukaan lo itu jus jeruk dari dulu ?".
"Kayaknya selera gue udah berubah deh".
Sepertinya dengan kehadiran Anya sekarang ia mulai memahami lagi Anya yang dulu ia kenal. Bahkan setelah bertahun-tahun tidak bertemu mereka terlihat sangat canggung .
__ADS_1
"Bukannya lo dulu benci kopi ?".
Sejak tadi Anya selalu berusaha untuk tidak bertatapan dengan Devan. Karena Anya tidak ingin masuk ke dalam lubang penderitaan untuk kedua kalinya.
Tatapan Devan pasti sangat mengusik kejadian masa lalu yang menurutnya ia sangat bodoh karena cinta dengan orang seperti Devan.
"Dulu kan gue penyakitan". Jelasnya
"Nya maafin gue soal kejadian itu...".
"Gak papa kok, gue juga udah lupa".
Devan menelan saliva sekuat tenaga, ia juga mencoba memahami ini. Pastilah Anya akan benci dan sakit hati akibat permasalahan itu dan itu semua karena kebodohannya.
Untungnya pelayan datang dengan membawa makanan dan minuman yang ia pesan. Anya hanya berharap Devan tidak terlalu jauh bertanya mengenai hidupnya setelah dari luar negeri.
"Selera lo masih sama".
Devan terdiam, itu sebuah pertanyaan atau pernyataan Devan tidak tahu. Ia hanya mengunyah makanan sampai habis baru berbicara.
Anya hanya memperhatikan diamnya Devan sambil memakan makanan yang ia pesan. jika boleh Jujur rasa itu masih ada sampai sekarang tapi memang sudah tidak sebesar dulu.
"Lo udah jadi dokter ?". Matanya beralih pada snnelli putih yang Devan simpan di samping kursi.
"Selamat ya, akhirnya lo bisa nyembuhin orang sakit dan itu adalah hal yang hebat sih menurut gue. Dan lo pasti bisa lihat gimana seseorang berusaha sembuh dari penyakit yang di deritanya".
Ucapan itu cukup menyentil hati Devan, Anya hanya menaikkan alisnya kemudian mengirim beberapa pesan teks pada seseorang.
"Thanks, dengan pekerjaan gue yang sekarang gue jadi ngerti gimana seseorang bisa sembuh dengan keyakinannya sendiri".
Tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya, "Dan di sini gue paham orang yang terlampau yakin dengan keyakinannya akan kalah dengan sendirinya".
Anya terkekeh, ia tahu Devan sedang menyindir dirinya karena memang sudah dari dulu Anya terkenal menjadi orang yang keras kepala.
Seseorang baru saja masuk dan menuju ke arah mereka, lalu berdiri di antara keduanya.
"Ayo sayang".
Keduanya menoleh, kemudian Devan menoleh ke arah Anya.
Anya sudah mempunyai pacar
"Ah, iya. Aku nunggu kamu dari tadi". Anya menyampingkan tas lalu berdiri dan menggandeng lengan lelaki di depannya.
"Duluan ya Dev, dan gue berharap kita gak akan ketemu lagi untuk selamanya".
__ADS_1
Setelah mengucapkan hal tersebut Anya berjalan beriringan dengan cowok tadi, Devan yang melihat itu merasa hatinya sangat memanas.