
"Ya ampun Nya, Lo kenapa bisa pingsan di kamar mandi".
Baru saja matanya mulai mengerjap ucapan Afra sudah sangat memekakan telinga.
"Sayang kamu kenapa ? Minum dulu coba". Ucap Arin khawatir.
Fani membantu membawa minuman yang ada di atas nakas. Anya mulai meneguk minuman yang di berikan.
Dalam hatinya ia bersyukur karena tidak ada yang melihat tentang darah yang keluar. Tangannya memegang kepala yang ia rasa sangat berat.
"Kita ke rumah sakit aja ya Nya ? Bunda takut kamu kenapa-kenapa".
Anya menggeleng lemah, "Gak usah ma, Anya cuman kecapean aja kok".
Fani menatap Anya kasihan pasti Anya pingsan di kamar mandi karena pikiran tentang pacarnya yang berselingkuh.
"Ya udah kamu tidur ya ? Sambil istirahat". Anya mengangguk lemah.
"Mama keluar ya ? Inget langsung tidur". Titahnya.
"Iya bunda". Ucap Anya sambil tersenyum.
"Gue juga ya Nya, lo istirahat biar besok semangat lagi".
Ucap Fani sambil menarik Afra menuju pintu keluar.
...***...
Di rumahnya Devan sedang frustasi karena tidak menemukan Anya, ia sudah ke kostan dahulu tempat tinggalnya tetapi kata ibu kost Anya tidak pernah kembali sejak pindah.
Dan yang lebih membuat Devan frustasi adalah ia takut terjadi sesuatu pada Anya.
"ARRGGHHH".
Devan memukul apa pun yang ia bisa pukul saat itu juga. Perasaannya sangat tidak menentu sekarang, ini juga salahnya kenapa ia membiarkan Karen selalu mengikuti dirinya.
Satu notifikasi membuat perhatian Devan teralihkan, di bawanya ponsel itu dan ia bisa melihat nama Anya tertera di dalamnya.
^^^Bubu :^^^
^^^Jangan cari aku untuk sementara waktu dulu Dev, semua butuh proses. Aku mencoba paham tentang apa yang sedang terjadi, dan aku tunggu penjelasan dari kamu^^^
^^^Pastiin itu masuk akal dan bisa aku terima.^^^
Di bantingnya ponsel yang sedang Devan pegang ke sembarang arah. Anya benar-benar membuat Devan menjadi gila seperti ini. Tanpa pikir panjang ia langsung membawa kunci motor dan jaket lalu turun ke bawah.
Motornya melaju cepat membelah kota Jakarta, Devan melangkah masuk dengan langkah lebar. Pertama membuka pintu aroma alkohol sudah sangat menyengat ke dalam rongga hidung.
"Wohhh, seorang Devan anak kedokteran datang ke club. Gak salah liat kan gue ?". Entah datang dari mana si Malvin tapi yang Devan tahu anak itu memang sering kesini.
"Bacot lo ?".
__ADS_1
Malvin mengambil alih duduk di samping Devan, "Biasanya kalo cowok ke sini kalo ga masalah rumah ya cewek". Sindirnya.
"Minum gak lo ?". Devan mengangguk.
Malvin menuangkan Vodka pada gelas di hadapannya. Tegukan pertama tenggorokan Devan seperti panas dan sakit tapi setelahnya rasa itu membuat dia menjadi ketagihan.
"Halo sayang".
"Halo juga sayang".
Devan melirik ke arah Malvin sebentar yang sedang di goda oleh perempuan. Melihat perempuan seperti itu membuat Devan jijik apalagi pakaian yang seperti kurang bahan seperti itu.
"Ke tengah dong sayang".
Malvin berfikir, "Lagi males sayang, lain waktu oke".
Cewek itu merajuk dan pergi meninggalkan Malvin lalu beralih pada cowok lain.
"Kenapa Lo gak mau ? Biasanya juga lo nyosor ?".
Malvin terkekeh, "Lagi males gue, Btw kenapa Lo ke sini ? Minum lagi".
"Kepo banget sih lo kayak cewek ?".
Malvin kembali tertawa, "Ya kali gue bisa bantu gitu".
Pandangan Devan lurus ke depan, ia sedang memaksakan otaknya agar tidak memikirkan hal yang membuat dirinya pusing.
Yang di tanya hanya mengangkat sebelah alisnya, "Selingkuh ?".
Devan mengangguk, "Reaksi pacar lo gimana ?".
Malvin sepertinya paham apa yang Devan bicarakan, "Lo selingkuh terus pacar lo marah dan lo ke sini ?".
Pernyataan itu membuat Malvin tertawa keras untungnya suara club mengalahkan tawaan Malvin yang membuat Devan malas melihatnya.
"Gue kira lo cowok setia, lo aja begitu apa lagi gue".
"Gue gak selingkuh". Jelasnya.
"Gak ngerasa aja lo kalo lagi ngeduain cewek, gue juga dulu gitu. Padahal cuman balik bareng sama tetangga gue eh pacar gue liat alhasil dia marah, gue coba buat jelasin tapi dianya begitu. Kalo gue sih ya udah gak maksa juga toh itu pilihannya".
"Terus pacar lo ?". Jawaban Malvin membuat Devan menjadi penasaran.
"Udah punya pacar lagi. Kadang gue ngerasa bodoh banget karena sia-sia in cewek kayak dia. Tapi gue logis men, cewek bukan dia doang dan alhasil gue cari cewek lain".
"Oh gitu". Respon Devan
Malvin melirik Devan yang sepertinya sedang berfikir, "Sekiranya Lo masih sayang, mending Lo pertahanin deh dari pada lo nyesel".
"Gue lagi LDR sama Anya pas dia datang ke sini ternyata gue lagi sama Karen dia kaget terus pergi. Udah gue cari tapi gak ketemu".
__ADS_1
"Pantes sih dia marah menurut gue".
"Emang ?".
"Terus lo mau gimana ?".
"Gak tau".
"Usaha lah Dev, gak ada usahanya banget Lo jadi cowok, pada dasarnya cewek juga pengen di perhatiin. Dengan lo ngebiarin begini semakin dia ngerasa kalo lo udah gak perduli".
"Bijak banget lo soal beginian". Ejeknya.
"Gue cuman berbagi pengalaman aja".
Apa dirinya harus mencari Anya di saat seperti ini ? Tapi Anya bilang tidak usah mencari. Sebaiknya Devan berusaha, ia memakai jaketnya kembali dan menepuk bahu Malvin sambil pergi.
"Gue duluan".
"Hati-hati men, semoga sukses". Teriaknya.
Di parkiran Devan bingung harus mulai mencari dari mana. Kontak nomornya tertera nama Arin di sana yang tentunya itu adalah nomor mamanya Anya.
"Kenapa gue gak dari tadi aja".
Nomor ini ia minta saat Devan mengantar Anya ke bandara saat keduanya belum take off. Besok saja lah ia menelponnya karena ini sudah malam belum tentu juga Arin mengizinkan dirinya bertemu Anya.
Pagi ini Anya bangun kesiangan, entah kenapa akhir-akhir ini kepalanya selalu terasa berat dan sakit. Ia melangkah menuju kamar mandi untuk mandi baru saja Anya menghadapkan wajahnya di cermin darah di hidungnya keluar lagi.
"Plis jangan sekarang". Lirihnya.
Selesai mandi Anya merasa segar dan bersemangat kembali. Hanya saja rambutnya belum di sisir, baru tarikan pertama rambut Anya ikut rontok kali ini bukan sedikit tetapi sudah menjadi segumpal bola.
Anya berusaha berfikir positif mungkin ia salah membeli shampo jadinya seperti ini.
"Nya Nya". Afra menggedor pintu Anya.
Ia berjalan sambil membuka pintu, "Iya Ra ada apa ?". Tanyanya.
"Itu ada yang nyariin lo di depan ?".
Dahi Anya mengerut, "Siapa ?".
"Gue juga gak tau, coba lo samperin".
Baru beberapa langkah ia sudah tahu siapa yang datang.
Devan di sana.
Kenapa ia bisa tahu kalau Anya di sini ?. Anya memilih untuk berputar balik tapi suara Devan menghentikan pergerakannya.
"Nya gue mau jelasin".
__ADS_1