Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
08 MABA


__ADS_3

Beres mandi Anya terkejut melihat Yuna yang sedang rebahan di atas sambil menatap tajam ke arahnya.


"Pacar lo oke juga !". Sambil mengeringkan rambut menggunakan Hair Dryer, Anya tahu Yuna memang suka melantur jika sedang berbicara. "Pacar siapa sih Yun ?".


"Tadi yang nganterin lo balik !". Anya tertawa renyah. "Maksud lo Devan, tadi gue cuman bayar budi doang lagian gue ga pengen di anterin sama dia". Yuna mendekat ke arah Anya.


"Beneran lo ga suka sama dia, lagian dia ganteng loh terus dari penampilannya keliatan dia itu tajir".


"Lo kalo suka deketin aja, saingan sama cewek satu kampus sekalian". Setelah selesai kemudian rambutnya di sisir sambil memperhatikan kaca yang di depannya.


"Ga aneh sih ganteng gitu pasti saingannya banyak, minta no line nya dong Nya !". Yuna memelas setidaknya ia harus mencoba, Yuna sangat ingin mempunyai pacar doble plus seperti Devan.


"Ga punya gue".


"Hah, setelah lo pulang bareng sama dia lo gak tau no line nya, parah sih lo nya". Anya hanya menaikkan bahunya. "Udah lo mending keluar dari kamar gue, capek gue pengen tidur". Anya mendorong Yuna dari kamar kost-an nya.


"Iya iya, yailah lo mah gue bukan maling juga Nya lo dorong kaya gini". Ucap Anya sambil menutup pintu.


...***...


Hp Anya berbunyi pertanda ada pesan masuk, Anya meraba-raba nakas di sampingnya dengan mata tertutup.


^^^+62074^^^


^^^Lo ke sini sekarang gue Sherlock^^^


Di rasa tidak di kenal Anya mematikan kembali handphonenya lalu berlanjut tidur, tetapi suara itu berbunyi lagi.


"Ganggu banget tau ga !". Anya mengambil lagi handphone dan ia melihat tulisan


^^^+62074^^^


^^^Kalo lo gak dateng gue pecat aja lah^^^


Ternyata yang mengirim pesan ini adalah Devan, Anya langsung tersadar tapi dari mana Devan bisa mendapatkan nomornya lagi pun dirinya hanya membagikan kontak pada orang yang benar-benar ia butuhkan, ah tidak perduli Anya langsung pergi untuk mengganti baju.


Sebelum ke rumah Devan Anya sengaja mampir ke abang nasi goreng yang biasa ia beli di depan ujung jalan. Di rasa sesuai dengan lokasi yang di berikan Anya seperti orang kampung yang menyasar, rumah Devan besar dan bisa di bilang megah.

__ADS_1


"Tajir juga ni orang". Ia mengeluarkan Handphone dan memberitahu bahwa dirinya sudah sampai, Devan menyuruh Anya untuk masuk dan pergi ke halaman belakang rumahnya.


"Ini orang terus gue harus nyelonong gitu masuk ke rumah orang kaya maling". Saat mematikan ada seseorang yang menepuknya dari belakang.


"Neng yang mau ketemu sama den Devan ya ?" Ucap satpam tersebut.


"Iya pa, Devan nya ada di mana ya ?".


"Mari bapa antar". Anya mengangguk dan mengikuti arah bapa itu.


Dari kejauhan Anya bisa melihat Devan yang sedang duduk sendiri sambil menghadap ke arah kolam.


"Bapa tinggal ya neng !". Anya mengangguk sambil tersenyum "Terima kasih pa !". Dan hanya di balas anggukan.


Di sana Devan menatap kosong, entah apa yang sedang ia pikirkan tapi itu membuat Anya kesal ini kan sudah malam dan ia perempuan kenapa harus datang ke rumahnya.


"Dev". Ucap Anya saat jarak mereka sudah dekat.


Devan menoleh tapi Anya merasakan sesuatu dari wajah Devan, tidak biasanya Devan seperti ini. Anya menjadi salah tingkah jika di tatap seperti ini, saat berdiri Devan malah menarik Anya dalam pelukannya.


"Lo tuh kaya ga pernah aja". Devan kembali duduk.


Anya menghampiri dan mendekat "Lah emang gue ga pernah". Ucap Anya lantang.


"So suci !". Anya terdiam sebenarnya dirinya pernah berpelukan satu kali itupun yang membuat sekarang ia merasa jijik dengan mantannya yang berselingkuh.


"Kenapa diem ? Lo baru inget ?".


Anya mengalihkan topik pembicaraan dan menggantungkan kresek berisi nasi goreng di depan wajah Devan.


"Kenapa ? Lo gak mau, yaudah buat gue aja".


" Lo tuh niat ngasih gak sih ?". Sambil membawa keresek Devan membuka sterofoam dan makan dengan lahap.


"Lo gak beli ?". Anya menggeleng sambil di iringi suara dari arah perutnya. Anya merasa melu, kenapa perutnya harus bunyi saat keadaan sedang tidak kondusif.


"Gue tau lo laper !". Saat Devan menguyah ia memberikan suapan pada Anya.

__ADS_1


"Udah lo gak usah jaim, gue tau porsi makan lo kaya apa!". Anya melahap nasi yang di berikan oleh Devan, Devan yang melihat tingkah Anya tersenyum tipis sambil menaikkan alisnya.


"Kenapa lo di sini ?". Ucap Anya sambil mengunyah.


"Entahlah, gue ngerasa asing kalo gue diem di dalem rumah padahal orang-orang selalu memperhatikan gue, gue ngerasa apa yang mereka berikan itu udah cukup, tapi gue ngerasa ada yang kurang !". Devan menoleh ke arah Anya " Lo tau apa ?".


Anya menoleh pada hamparan kolam renang di depannya, Devan memang di rasa beruntung dari banyaknya orang yang membutuhkan tapi dari raut wajahnya di kampus Devan selalu datar dan cuek dia tidak perduli dengan orang-orang di sekitarnya, bagi dirinya pun sama tidak seharusnya mereka harus tau kehidupan orang lain.


"Lo tuh kurang bersyukur aja". Ucap Anya "Atau lo tuh harus lebih deket lagi sama kebahagiaan."


"Maksud lo ?".


"Cari tempat dimana lo merasa di butuhkan, coba cari tempat di mana lo bisa tertawa tanpa beban, gue rasa lo harus jadi orang yang di butuhin deh, soalnya orang lain mulu yang butuhin hidup lo !".


"Gue ngerasa di butuhin, lo gak tau gue ketua BEM".


Anya menaikkan bahunya "Mungkin yang lain ?".


Devan berfikir apa yang di ucapkan Anya semuanya sudah muak ia dengar tentang bersyukur dan coba tersenyum, Devan memang seperti ini jika ada hal yang menyangkut sifat dan sikapnya ia selalu merasa paling benar.


"Udah gue mau pulang". Devan membiarkan Anya pergi tanpa menoleh sedikit pun.


Sambil berjalan Anya menoleh pada Devan yang seperti patung "Gila tuh orang, anterin gue pulang apa malah di suruh pulang sendiri".


Sudahlah lagian Anya pun tidak ingin di antar oleh Devan ia berniat untuk naik taksi di depan perumahan sana. Setelah sampai ternyata jalanan sudah sangat sepi tidak ada seorang pun yang terlihat oleh penglihatannya.


Tapi yang membuat Anya sedikit ragu ada suara dari arah sana ternyata ada segerombolan anak muda sedang berjalan ke arahnya, Anya merasa tangannya mulai mengeluarkan keringat padahal udara dingin sekarang.


"Eh ada cewek cantik !". Ucap salah satu orang dari gerombolan tersebut, Anya memundurkan kakinya satu langkah.


Salah satu dari laki-laki itu mendekat ke arah Anya dan memajukan wajahnya. Anya yang terkejut langsung meludah ke arah cowok tersebut. Cowok yang di hadapannya mencengkram dagu Anya membuat Anya merasa sakit.


"Lo gak akan gue lepasin !".


Bugh


Anya sangat terkejut saat cowok itu jatuh, ternyata di sana ada Devan. Perkelahian di mulai dengan saling beradu jontos Anya merasa takut ia berjongkok kemudian memegang kepalanya menggunakan kedua tangannya.

__ADS_1


__ADS_2