
Selesai dari rumah sakit Hilmi dan Anya bergegas untuk pulang tentang rencananya yang akan pergi ke luar kota. Tidak harus begini memang tapi inilah jalan terbaik menurut keduanya.
Lagipula Tante Arin dan mama Riri akan menyetujui perpindahan mereka sementara. Ini pun bukan semata-mata agar menghindari Clara, Anya pun ingin anaknya lahir di kota orang.
Sampai di rumah Hilmi langsung mencari Riri yang berada di dapur. "Ma Hilmi udah mutusin buat ke luar kota karena sebentar lagi Anya kan mau lahiran"
Sebenarnya ini hanya alibi dirinya, mana mungkin ia berbicara ke luar kota karena alasan Clara. "Kok mendadak, ya gak gitu juga dong Hilmi kamu harus persiapkan dengan matang".
"Tapi Hilmi udah pikirin dan siapin semuanya ma, Anya juga setuju kok soalnya sekalian kita bulan madu" jelas Hilmi
Riri menghela nafas pelan. "Seyakin itu kamu pengen ke luar kota ? Terus di sini mama sama siapa ?".
Riri bukan mengeluhkan anaknya akan jauh darinya tapi dia terlalu kesepian untuk tinggal sendiri. Dengan Hilmi ke kantornya saja Riri selalu sendiri, apalagi sekarang pasti dirinya akan banyak melamun.
"Hilmi cuman sementara ma bukan pindah kok. Hilmi bakal bilang ke mama Anya buat mama di sana dulu untuk sementara".
Hilmi memegang pundak mamanya yang sepertinya berat. Riri yang mendapat perlakuan tersebut lalu mengangguk, "Hati-hati ya bawa cucu mamanya".
__ADS_1
Hilmi tersenyum lalu mengangguk, "Pasti ma". Kemudian dia memeluk Riri, Hilmi sangat menyayangi wanita yang satu ini. Baik mama, Sandra dan Anya ketiga wanita itu adalah bagian dari perjalanan hidupnya.
Entah apa yang terjadi jika hidupnya tanpa kehadiran ketiga sosok tersebut. Tapi Hilmi begitu banyak bersyukur dengan nikmat yang telah tuhan berikan padanya.
"Mama jangan bilang Clara tentang ini ya".
Riri terlihat berpikir sebentar lalu mengangguk, "Anya mana ?" Tanyanya
"Ada di kamarnya lagi istirahat mungkin".
"Ya udah Hilmi mau ke belakang sebentar".
Riri mengangguk lalu pergi menuju kamar Anya. Baru kakinya masuk melangkah ia tengah melihat menantunya itu tengah mengusap perut yang semakin membesar karena pertumbuhan anak di dalam kandungannya yang sangat baik.
Riri tahu itu bukan cucu dari anaknya, melainkan orang lain. Entah kenapa Riri tidak pernah mempermasalahkan itu, ia menerima semua konsekuensi karena Hilmi telah menikah Anya.
Anya yang tengah merebahkan diri di kasur langsung terbangun melihat Riri masuk ke dalam kamar. "Gapapa kamu tiduran aja"
__ADS_1
Anya menganguk lalu merebahkan kembali tubuhnya entah kenapa rasa sakit di pinggangnya membuat dirinya tidak bisa bergerak banyak.
"Kamu sehat ?".
"Ini mah cuman sakit pinggang, kenapa ya bisanya juga gak pernah".
"Itu mah biasa kalau orang hamil pasti ngalamin, kamunya jangan banyak gerak istirahat aja".
Riri tidak tega melihat Anya yang mengalami sakit seperti ini. Apalagi nanti mereka akan mengurus kelahiran bayi dan itu pasti sangat merepotkan. Tadinya baik Riri maupun Arin akan membantu mereka karena baik Anya maupun Hilmi belum pernah mengalaminya.
Tapi Riri percaya Hilmi pasti bisa mengatasi ini. Tidak kebayang akan serepot apa nantinya tapi Riri sangatlah menanti kehadiran cucunya itu.
"Mama kenapa"
Riri yang tersadar lalu mengusap lengan menantunya itu, "Kamu harus kuat ya Nya, mama yakin kamu bisa lewatin ini semua"
Anya pun ikut terhanyut dengan perkataan mama Riri. Bagaimana pun Anya sudah menganggap Riri seperti mamanya sendiri. Dia adalah orang yang tidak egois, Riri selalu mengerti perasaan dirinya seperti Riri mengerti perasaan Hilmi.
__ADS_1