
Sejak kejadian di mana Hilmi mencium pipinya di depan karyawan kantor membuat Anya hanya diam.
"Maaf". Ucapnya
Mereka sekarang tengah duduk di sofa dalam ruangan. Keadaan sangat sunyi karena tidak ada respon di antara keduanya.
Hilmi melirik Anya dari ujung matanya lalu menghela nafas berat, "Kamu marah ?".
Tetap tidak ada respon.
"Aku ke bawah dulu sebentar". Hilmi mulai beranjak dari tempat duduknya.
"Hil".
Hilmi menolehkan kepalanya, "Maaf dan makasih". Kata Anya.
Anya pun ikut berdiri dan memeluk Hilmi dengan erat. Hilmi yang mendapat perlakuan seperti itu kaget. Ia kira Anya akan marah karena telah melukai harga dirinya sebagai perempuan di depan banyak orang.
"Kalo kamu gak sama aku pasti gak bakal ada omongan kayak begitu".
Hilmi menaruh jari telunjuknya di depan bibir Anya. Hilmi tidak ingin alasan kehamilannya menjadi beban bagi Anya. Sangat ikhlas ia menerima semua titipan yang telah tuhan berikan padanya. Tentu dengan konsekuensi yang akan ia terima kedepannya.
__ADS_1
"Mau pilih surat undangan ?". Tanya Hilmi pada Anya
Anya pura-pura berfikir kemudian mengangguk, "Boleh".
"Ayo".
"Eh tapi kan kamu ada urusan ?".
Hilmi terlihat bingung kemudian tersenyum jahil, "Alibi".
Anya yang mengetahui itu langsung mencubit pinggangnya, "Aww, sakit Anya".
"Biarin biar tau rasa, bohong ke calon istri itu dosa". Katanya.
Anya berjalan menuju laptop di meja Hilmi, "Gak tau juga sih".
Hilmi benar-benar gemas dengan kelakuan Anya yang sedang hamil. "Menurut kamu bagusan yang mana ?".
Matanya terus bergulir menatap sebuah layar di depannya yang memperlihatkan banyak kartu undangan untuk pernikahan.
"Aku suka apapun yang kamu pilih".
__ADS_1
Anya tersenyum, dengan hal-hal sederhana saja Hilmi sudah bisa membuat Anya merasa di hargai. Ah, ia jadi membayangkan bagaimana perjalanan pernikahan dengan sosok lelaki baik seperti Hilmi.
"Emang kita mau undang berapa orang". Tanya Anya.
Seingat dia bukankah Hilmi adalah pebisnis yang pastinya banyak mempunyai relasi. Tidak mungkin ia memilih kartu undangan yang biasa saja karena itu akan memengaruhi nilai dari perusahaannya.
Padahal ia sangat suka pada undangan sederhana berwarna biru tua dengan hiasan simple. Tapi dirinya juga tidak boleh egois, sebisa mungkin dirinya harus memberikan yang terbaik untuk pernikahannya.
Setelah di hitung lebih dari lima ratus orang ia undang, Anya dan Hilmi saling berunding tentang siapa saja yang datang ke pernikahan mereka.
"Kenapa gak ngundang temen kamu". Tanya Hilmi. Pasalnya sebagian banyak orang yang datang hanya dari pihak dirinya.
Anya terdiam, ia pun tidak tahu siapa saja yang akan di undang. Masalahnya Anya tidak punya teman sebanyak orang lain. Jika orang lain selalu mudah untuk beradaptasi dan cepat mendapatkan teman berbeda dengan dirinya yang selalu sendiri.
Paling hanya 5-6 orang itupun tidak banyak, lagian Anya juga ragu apakah mereka akan datang jika dirinya mengundang. Hal-hal seperti ini sebenarnya membuat rasa introvert dalam dirinya menyeruak ke luar.
"Kamu gak undang temen juga ?".
"Udah, ada lumayan banyak sih".
Anya mengangguk-angguk, tidak apalah jika ia tidak mempunyai teman. Lagian zaman sekarang semua orang hanya terlihat baik di depan, di belakang semuanya sama saja terlihat munafik.
__ADS_1
"Gimana Nya ?". Devan sedang melist siapa saja yang akan mereka undang.
"Sekalian aja Devan undang". Ucap Hilmi