Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
43 MABA


__ADS_3

Jendela pojok menjadi teman bagi Devan, sudah 2 jam dirinya duduk sendiri di cafe. Bahkan sore sudah berganti malam, orang silih berganti masuk dan keluar tapi tidak ada tanda untuk Devan sudah selesai.


Pandangannya lurus ke depan, ia sudah mengirim pesan dan menyuruh Anya untuk menemui dirinya di sini.


Di gesernya kursi di samping Devan dengan terburu-buru, "Maaf Dev aku telat soalnya tadi macet". Ucap Anya.


Devan mengangguk.


"Kamu mau makan apa ?". Tanya Devan.


Anya berfikir kata dokter ia tidak boleh makan makanan seperti ini karena sangat menghambat terapi yang ia lakukan tadi.


Ia menggeleng, "Kenapa ?".


"Aku lagi diet".


"Minum ?".


"Air putih aja".


Mendengar kata air putih saja membuat Devan semakin merasa sakit.


"Kenapa ?".


"Hmm soalnya sama masih diet".


"Jus juga gapapa kan".


Anya menggeleng cepat, kemudian Devan mengangguk paham.


Sampai kapan kamu mau bohong Nya


Devan memesan air putih dan jus pada writer yang ada, setelah itu hanya ada keheningan di antara keduanya.


Karena merasa canggung Anya mulai membuka suara, "Udah nganterin Karennya tadi, gimana ?".


"Biasa aja".


Anya mengangguk, "Tadi nanya berkas kampus di rumah sakit gimana ?".


"Udah, gampang kok. Dokter Siska juga paham sama apa yang aku tanya".


Devan menganguk lagi. Matanya memancarkan reaksi yang berbeda, sebegitu nya Anya tidak ingin menceritakan ini padanya.


"Kamu kenapa Dev, kok mandang aku kayak gitu".


"Tapi aku nemuin jawaban yang beda dari kamu sama dokter Siska".


Mendengar itu kedua alisnya menyatu, "Beda gimana ?".


Matanya beralih menatap ke sekeliling cafe lalu pandangannya jatuh pada wajah Anya.


"Kamu ngidap penyakit kanker otak Nya ?"


Anya terdiam lalu menunduk, "Kamu anggap aku apa Nya sampe hal penting aja gak kamu bilang".

__ADS_1


"Maafin aku Dev". Cairan bening di pelupuk matanya mulai mengembang.


"Aku cuman mau tanya, kamu anggap aku apa Nya ?".


Anya terdiam lagi.


"Okeh kalo begini gue paham, gue akan pertimbangin lagi tentang lo yang minta putus".


Mata Anya membola, "Dev ?".


Devan menggeleng, "Jelasin Nya ?". Kekehnya.


Anya menghela nafas pasrah, "Gue gak mau jadi beban orang yang ada di sekitar gue Dev, terlebih lo udah ada Karen yang lebih butuh jadi gue berusaha buat berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain".


Devan berdecih, "Dengan lo ngomong kayak gitu lo bisa di bilang hebat gitu ?".


"Terus gue harus gimana Dev ?". Anya berbicara sambil menahan isakkan tangis.


"Justru dengan itu membuat lo makin membutuhkan rasa kasihan dari orang lain".


"Kasian ? Gue gak butuh kasian dari orang lain lagipula gue gak peduli ada orang yang peduli apa enggak sama gue".


"Naif tau gak Lo".


Anya terus memandang Devan dengan air mata yang mengalir di pipinya. Kata yang di lontarkan Devan kepada Anya malah membuat Anya muak dengan pertemuan ini.


Ia menunduk untuk mencoba menghapus air mata agar tidak terlihat terlalu lemah.


"Makasih Dev atas masukannya dan itu gue terima. Masalah lo berfikir dua kali lo gak perlu lagi karena lebih baik pun kita akhirin hubungan ini". Ucapnya sambil berdiri.


...***...


Perjalanan menuju villa terasa amat jauh, selama itu juga Anya terus menitikkan air mata. Sangat susah bagi dirinya menerima kenyataan apalagi tadi Devan tidak menyusul maupun memanggilnya kembali.


"ARRGGHHH".


Tes


Darah lagi, ingin rasanya ia mati saja sekarang. Hanya gara-gara penyakit dia menjadi tumbang dan di perlakukan seperti ini. Di susutnya darah itu dengan kasar, Anya tidak perduli wajahnya yang sudah seperti orang tidak waras ini.


Saat menyetir ia hampir saja menabrak orang, "Mampus mati gak tuh orang". Dialognya.


Anya turun untuk memastikan keadaan orang yang ia tabrak, saat jaraknya sudah dekat Anya seperti mengenal orang di hadapannya.


"Reyhan".


Reyhan menoleh, "Elo Nya gila bisa-bisanya ngebut di jalan".


Ngebut ? Anya rasa ia tidak mengebut.


"Tapi lo gak kenapa-kenapa kan ?".


Reyhan menggeleng, "Lo kok bisa di sini, malem lagi ?". Tanya Anya.


"Niatnya mau nyamperin temen tapi gue lupa rumah dia, terus lo kenapa kayak orang gak waras ? Terus itu darah bukan".

__ADS_1


Anya langsung memegang hidung dan mengelapnya, "Bukan, ya udah gue ater mau ?".


"Boleh".


Keduanya naik ke dalam mobil, "Maafin gue ya Nya yang kejadian kemarin".


"Santai sama gue mah".


Saat sedang bercengkrama kepalanya terasa sangat berat dan pusing, "Rey tolong gantian nyetir dong, gue pusing banget".


"Lo kenapa Nya". Reyhan khawatir pasalnya wajah Anya sangat pucat.


Anya menggeleng lalu keluar mobil untuk berpindah posisi. Tapi tubuhnya tidak bisa menahan bobot badannya lagi alhasil ia ambruk di pinggir jalan.


Reyhan kaget melihat Anya yang pingsan, ia memilih untuk membopong dan membawanya ke rumah sakit.


"Nya lo kenapa sih, kok malah pingsan".


Reyhan membawa mobil dengan kecepatan di atas rata-rata hingga dengan cepat sampai di rumah sakit.


Banyak perawat yang membawa Anya menggunakan troli dan menariknya menuju unit gawat darurat.


"Gue harus bilang sama orang tuanya Anya tapi gimana ? Gue gak punya nomornya".


Terlintas nama Fani langsung teringat, kan mereka ikut bersama Anya ke Jakarta pastinya dia tau dan bersama orang tuanya.


Keadaan semakin genting saat banyak dokter yang masuk ke dalam ruangan di mana Anya di periksa.


Arin datang dengan raut khawatir dan cemas, di sana ia langsung menghampiri Reyhan, "Gimana gimana Anya sekarang ?".


"Sabar Tante, Anya lagi di periksa sama dokter".


Kemudian Afra dan Fani menyusul, "Kok lo bisa di sini sama Anya lagi". Tanya Afra.


"Tadi gue hampir di tabrak dia terus dia ngajakin bareng ya gue ikut lah, tapi Anya malah pingsan saat kita mau pindah posisi nyetir katanya dia pusing".


Keempat orang tersebut menunggu dokter selesai memeriksa, Arin mengharap cemas juga ketiganya pun sama.


"Orang tuanya Anya". Ucap dokter.


Arin langsung berdiri dan menghampiri, "Saya sendiri dok, gimana keadaan Anya ?".


"Kankernya sudah menjalar pada setiap organ tubuhnya dan lebih parah keadaan otaknya sudah melemah, saat ini pasien sangat membutuhkan pengobatan dan terapi yang maksimal".


Arin bingung dengan penuturan dokter. Terapi ? Pengobatan apa pasalnya Arin tidak tahu menahu soal ini.


"Maaf dok tapi terapi untuk apa ya ?".


"Oh ibu belum tahu".


Arin menggeleng, "Anya mengidap kanker otak stadium akhir yang membuat dia harus merasakan sakit di bagian belakang kepala". Tutur dokter.


Semua orang yang berada di sana langsung kaget apalagi Arin yang langsung menutup mulut saking kagetnya.


"Anyaa". Arin menangis telak, kenapa Anya tidak pernah menceritakan ini kepadanya.

__ADS_1


Afra dan Fani pun langsung memegang lengan Arin yang sepertinya akan tumbang, keduanya tak menyangka jika Anya menyimpan beban yang sangat berat itu sendirian.


__ADS_2