
Ryan mengetuk pintu ruang rawat Anya, dari celah kecil Ryan merasa aneh melihat Anya yang tersenyum sendiri sambil memeluk selimutnya, bukankah dia terlihat seperti orang yang sehat ?.
"Assalamualaikum". Ucap Ryan sambil membuka pintu setengah lebar.
Anya menoleh terlihat dari wajahnya sepertinya dia terkejut.
Apa Ryan melihat dirinya yang sedang seperti anak kecil ?
"Gue gak liat kok, nih gue bawa buah-buahan buat Lo". Kasihnya, Anya menerima itu dengan senyum mengembang.
Ryan duduk di bangku samping "Lo tuh bukan kayak orang abis di tusuk tau gak sih lagian gue baru liat Lo bahagia kayak gini biasanya cuek judes mulu".
"Emangnya kenapa ? gak boleh ?". Anya mengobrol sambil memakan buah-buahan yang di bawa Ryan.
"Nya". Panggil Ryan.
Anya berdehem, "Lo gak dendam sama Irana ?". Ryan bertanya dengan hati-hati.
Sepertinya Anya sedang berpikir di liat dari bola matanya yang langsung sayu.
Anya menggeleng
"Terus Lo akan ngebebasin Irana dari penjara ?".
Anya menggeleng lagi.
"Gue bukan tipe orang pendendam, gue paham kenapa Irana berprilaku gitu ke gue, Lo gak bisa ngejudge seseorang karena tindakannya mungkin ada alasan lain di belakang". Jeda Anya.
__ADS_1
"Tapi kesalahan tetep kesalahan dia berani berbuat dia juga harus bisa tanggung jawab".
Ryan paham ternyata pemikiran Anya tidak seperti anak kecil yang merengek untuk merasa paling di benarkan. Jika begini Irana yang harus lebih mengerti, lebih mengerti keadaan dan perasaan bukankah sesuatu yang harus di paksakan.
"Kenapa Lo pengen bebasin dia ?". Sarkas Anya.
"Gak, meskipun lo junior gue setuju dengan pendapat lo tentang tanggung jawab".
Memutar bola matanya malas, Anya menoleh ke arah Ryan dan di balas oleh alisnya yang mengangkat, memicingkan matanya Anya merasa ada yang aneh dengan orang ini.
"Lo suka sama Irana". Ryan menggeplak pipi Anya.
"Eh sorry sorry". Ucap Ryan kaget dan langsung di tepis lengangnya oleh Anya.
"Kalo enggak jangan gini juga Ryan". Anya mengusap pipinya yang sakit akibat ulah Ryan, "Atau Lo beneran suka yaah". ledek Anya.
"Udah ah males gue sama lo, gue pulang dulu". Ryan meninggalkan ruangan, meninggalkan Anya yang tenggelam dengan pikirannya.
...***...
Ryan sebenarnya tidak langsung pulang ia memilih untuk menjenguk Irana, bagaimana keadaannya sekarang ? Apakah dia sudah makan apa belum ? Apakah Irana akan menerima ini semua ?.
Pertanyaan itu terus berlalu-lalang dalam pikirannya, dirinya telah sampai di kantor polisi sambil memarkirkan motornya.
Ryan merasa tidak enak karena tidak membawa apa-apa lagian dirinya hanya berniat memberi semangat tentang apa yang akan Irana hadapin ke depannya.
Irana memang belum di vonis, ia harus melalui beberapa tahapan sidang dan di saat seperti ini seseorang memang butuh orang lain dalam melewati ini semua.
__ADS_1
Waktu menjenguk hanya di beri waktu 15 menit dan hal ini akan di manfaatkan oleh Ryan dengan sebaik-baiknya, Irana sudah duduk di depannya, sambil menatap ke arahnya.
Bajunya terlihat lusuh begitupun dengan wajahnya yang tidak tampak sedikit pun raut senang karena di jenguk justru dia malah seperti orang yang malas melihat dirinya di sini.
Ryan memulai obrolan dengan suasana yang sedikit canggung, "Kalo Lo pengen bebas dari sini tinggal ngomong ...".
"Enggak, gue baik-baik aja di sini Lo ga usah perduliin gue". Ryan tidak mengerti dengan pikiran Irana, ia ingin bertanya jika memang Irana tidak ingin berada di sini ia bisa membantunya dan berbicara dengan Anya.
Tapi jawaban Irana memang di luar dugaan, apa ini karena Devan ?
"Sebegitu cintanya Lo sama Devan Ran sampe Lo gak mau keluar dari sini ?".
Irana terdiam, "Gue emang udah cinta mati sama Devan dan Lo ga usah halangin dan perduliin gue".
"Tapi buka dong pikiran Lo Ran Devan tuh gak cinta sama lo".
Irana menatap tajam ke arah Ryan, matanya memerah kemudian dia tersenyum meremehkan, "Gue gak perduli yang penting gue cinta sama dia, kenapa Lo begini Lo suka sama gue hah ? asal Lo tau gue ga suka sama lo bahkan gue jijik ?".
Tangan Ryan mengepal, tapi ia harus tahan, Irana bersikap seperti ini atas bentuk penolakan Devan terhadap dirinya.
"Terus gimana kalo Devan udah jadian sama Anya".
Pertanyaan itu seperti busur panah yang menghunus tepat pada hatinya, Irana seperti berhenti berfikir, tidak mungkin Devan menyukai Anya itu adalah suatu yang mustahil.
Seorang penjaga menghampiri mereka, "Waktu kalian sudah selesai, mari". Irana berdiri dan masih menatap Ryan.
"Gue akan buat mereka lebih dari ini, tungguin aja". Irana tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahnya.
__ADS_1