Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
07 MABA


__ADS_3

Ospek telah selesai untuk hari kedua, sekarang dirinya akan pulang tetapi malah teringat perkataan Devan yang yang menyuruhnya untuk menunggu di parkiran, bodoh amat ia tidak akan mengikuti perkataannya dan Anya memilih pulang.


Di parkiran ternyata Devan sudah berada di depan motor miliknya, memakai motor sport hitam sambil memandang ke arah dirinya. Anya berjalan ke arah Devan.


"Lo niat banget apa mau nge hukum gue !". Devan menoleh ke depan. "Gue udah cabut hukuman lo dan sekarang gue minta balik budi ?". Kening Anya mengerut. "Maksudnya ?".


"Di dunia ini ga ada yang gratis, tadi lo pingsan dan gue yang bawa lo ke ruang kesehatan dan sekarang gue minta lo balik budi ke gue !".


Anya benar-benar ingin mencabik orang yang di depannya jika begini ia juga tidak minta untuk di bawa ke sana? Terus kalau tidak ikhlas kenapa juga harus membawa dirinya?.


Baru saja Anya akan berbicara Devan sudah mengangkat tangannya "Lo jangan berisik di sini malu di liatin orang, sekarang naik".


"Ga mau, gue bakal balik sendiri".


"Kepedean banget sih lo, lo kira gue mau anterin lo pulang? gue cuman minta balik budi bukan balikin lo ke rumah !".


Anya mengangguk-angguk terserah dia capek berdebat, Anya naik ke motor Devan kemudian keduanya meninggalkan kampus.


"Lo traktir gue makan, gue laper !". Devan berbicara sambil mengendarai motor sedangkan Anya sejak tadi hanya diam tenang di belakang.


"Lo diem berati iya". Devan menambahkan kecepatan laju motornya membuat Anya hampir terjungkal ke belakang.


Devan menerobos lampu merah dan di sana banyak polisi yang sedang berjaga alhasil mereka di ikuti dan di suruh menepi tetapi Devan malah semakin mengebut mereka seperti sedang berlomba dalam sirkuit dan di sini Anya yang menjadi korban.


"Gila lo, Devan minggir tuh di ikutin polisi !". Anya berteriak berharap Devan mendengar dan menepi tapi sepertinya ia gagal paham entah Devan yang tidak mendengar atau dirinya yang begitu panik.


Anya benar-benar takut ia memejamkan matanya kemudian ia merasa ada yang memegang tangan dirinya ternyata Devan membawa tangannya untuk melingkarkan di perutnya.


Anya terdiam sejenak bahkan angin besar yang menerpa wajahnya tidak ia rasakan, Anya merasa hanyut dalam pelukan Devan sudah lama ia tidak merasakan ini terakhir ia merasakan bersama mantannya yang brengsek tapi Anya begitu mencintainya.


"Sampai kapan lo mau meluk gue ?". Anya tersadar ternyata mereka sudah sampai, turun dari motor dirinya melihat ke sekitar.


Warteg

__ADS_1


"Lo bener mau makan di sini ?". Ucap Anya sambil mendelik ke arah Devan, Devan hanya berdehem " Kenapa ? Lo gak mau ? Kalo lo ga mau lo liatin gue makan aja !". Saat Devan membuka helm aura wibawanya begitu terlihat, bahkan orang yang ada di dalam cafe terlihat saling berbisik dan menatap damba.


"Gue tau gue ganteng". Orang ini begitu narsis dan memliki tingkat kepedean di atas rata-rata batin Anya.


Saat masuk ke dalam warteg Devan bertanya pada dirinya akan makan atau tidak, pasti Anya jawab makan tidak mungkin dirinya hanya mematung melihat orang lain makan.


Devan memesan nasi rames paket lengkap, saat makanan sudah datang Anya makan dengan lahap dirinya lapar sekali apalagi setelah insiden pingsan tadi membuat tubuhnya kurang asupan makanan.


Devan selesai terlebih dahulu lalu melihat ke arah Anya yang sedang makan sebenarnya jarang perempuan yang ingin di ajak ke sini, selalu saja meminta ke cafe kalau tidak mall, bahkan cara makan Anya tidak jaim seperti cewe kebanyakan.


Di akhir suapan Anya bersendawa dan Devan aneh dengan sikap Anya tidak seharusnya perempuan bersendawa di depan orang.


"Sorry gue kebablasan". Anya menyengir.


"Semuanya berapa bu ?". Ucap Devan sambil mengeluarkan dompet.


"Bukannya gue yang suruh bayar. Kenapa lo ?".


"DI CARI LOWONGAN KERJA PARUH WAKTU". Mata Anya melebar dirinya memang sedang membutuhkan kerjaan sampingan kebetulan di kafe ini sedang membutuhkan karyawan.


"Mending lo kerja sama gue, lo butuh duit kan ?".


"Emang kerja apa ?".


"Balikin lagi ingatan gue !".


"Emang lo bener-bener lupa sama semuanya ?"


"Gue sih ngerasa familiar dengan orang-orang di sekitar gue, tapi gue bener-bener ga inget sama semuanya, yang gue inget cuman karen".


Jika di lihat Anya merasa kasihan juga pada Devan, kecelakaan itu bukan hal yang di inginkan tapi gimana caranya dia ngembaliin ingatan seseorang, dirinya bukan ahli dalam bidang itu.


"Sorry tapi gue ga bisa". Ucap Anya sambil memperhatikan jalanan.

__ADS_1


"Lo bener ga akan nerima ? Lo belum ngerasain aja dunia kampus yang sebenernya apalagi setelah lo masuk ke semester 5 dan 6, dengan lo bekerja paruh waktu mental dan fisik lo akan lelah secara bersamaan". Devan berbalik dan berjalan menuju ke arah motornya.


Sebenarnya apa yang Devan katakan benar juga apalagi dengan keadaan fisiknya yang sekarang Anya begitu lemah apa dirinya menerima saja tawaran Devan.


"Lo mau berdiri di sana sampe kapan ?". Anya mengembalikan kesadarannya lalu berlari kecil ke arah Devan, menaiki motornya lalu pergi menuju kost-annya Anya.


Di pertengahan jalan Anya memicingkan matanya, di sana ada Naya yang sedang mengalami kekerasan oleh seorang pria, jantung Anya merasa berhenti berdetak melihat Naya yang biasanya ceria sekarang di perlakukan seperti ini.


"Berhenti deh sebentar". Ucap Anya menepuk-nepuk bahu Devan.


"Ada apa lagi sih ?". Devan mengikuti arah pandang Anya.


"Lo ga akan bantuin dia ?".


Sebenarnya Anya sangat ingin membantu tapi dirinya takut mengganggu privasi Naya, besok saja ia akan bertanya pada Naya mengenai kejadian ini.


"Ga deh pulang aja".


"Kenapa ? Bukannya dia temen lo ?".


"Gue tau tapi gue ga boleh gegabah, gue ga mau dia jadi malu gara-gara gue tau masalah dia".


Devan mengangguk "Bener juga". Anya menoleh "Ga semua orang kan menerima kebaikan orang lain walaupun itu dengan tujuan yang menurut gue baik pula". Devan menyalakan motor kemudian melanjutkan perjalanan mereka.


Saat sampai di Kost-an Yuna penghuni di samping mengintip dari arah jendela, ia tidak menyangka orang seperti Anya yang galak bisa mendapatkan cowok yang tampan, Yuna jadi iri dengan Anya bisa-bisanya ia melangkah satu langkah di depannya.


"Thanks". Ucap Naya setelah turun dari motor Devan.


"Gimana tawaran gue lo terima ga ? Biasanya sih gue ga pernah ngasih kesempatan kedua buat orang tapi buat lo gue tawarin sekali lagi".


Anya berfikir sejenak lalu mengangguk, Anya melotot kenapa kepalanya malah mengagguk bukannya ia harus berfikir panjang dulu buat mutusin ini.


"Oke, lo bisa kerja mulai dari besok, tenang buat gaji gue bayar 2x lipat". Devan memakai helm lalu pergi meninggalkan kost-an Anya.

__ADS_1


__ADS_2