
Baru saja Anya sampai di kost-an nya di depan sudah ada Naya dan Siren yang menunggunya.
"Anya lo udah sembuh ?". Keduanya menghampiri Anya yang baru turun dari gojek, Anya mengangguk di balas syukuran oleh keduanya.
"Lo dari mana Nya ?". Tanya Naya.
Mereka bertiga masuk ke dalam dan di sambut hangat oleh Tante Arin, "Eh ada Naya sama Siren !". Ucap Arin.
"Ih mamah dari tadi mereka di luar kenapa gak di ajak masuk ?".
"Oh iya mamah gak tau !". Naya dan Siren terkekeh.
"Sengaja Nya takut ngerepotin tante". Siren mengangguk.
"Kamu ini ngerepotin apa ? Ya udah mamah tinggal dulu ya, mau minum apa ?".
"Apa aja tante ?". Ucap Naya sambil tersenyum.
Arin mengangguk kemudian kebelakang untuk mengambil minuman, dan Anya menyimpan tasnya di kamar miliknya.
"Ada apa lo pada ke sini ?". Tanya Anya.
"Lo gitu amat Nya, ya kita mau tahu kabar Lo lah !". Dahi Anya bergelombang, kenapa tidak dari kemarin jika ingin menjenguknya ? kenapa baru sekarang ? Dasar Naya ini.
"Nya ?". Siren memanggil Anya.
Anya berdehem, "Lo gak akan ngelepasin Irana gitu ?". Naya menyenggol lengan Siren kenapa harus membicarakan ini pada Anya.
Mereka melihat bagaimana wajah Anya yang tampak sedang berfikir, "Gue bakal bebasin dia". Ucapnya santai.
"Iya Nya, kasian juga kan soalnya gue juga gak mau di tempat begitu". Ucap Naya.
"Justru gue takut !". Anya dan Naya menoleh pada asal suara itu.
"Maksud Lo ?".
"Lo pada kayak gak tau Irana aja, bisa jadi setelah dia keluar dari penjara dendam dia ke Lo semakin bertambah". jelas Siren.
"Gak mungkin lah, pasti dia jera. Kalaupun dia gak jera seenggaknya malu sama apa yang udah apa yang dia lakuin ke Anya".
Siren mengangkat bahunya, tapi menurut pikirannya Irana akan bertambah parah justru dengan rasa malu akibat kejadian yang menimpanya sewaktu kemah.
Anya berfikir sejenak, apa yang di ucapkan Siren juga ada benarnya. Wanita itu adalah ular bermuka dua. Jangan sampai jika Irana bebas nyawa dirinya menjadi terancam.
__ADS_1
Arin membawa tiga buah jus jambu dan beberapa cemilan, "Di makan yah ?".
"Makasih tante". Ucap keduanya.
Arin tersenyum lalu pergi kembali, Siren melihat sepertinya Anya termakan oleh omongannya. Dasar Anya ini sangat mudah di hasut oleh hal-hal yang tidak masuk akal.
Mereka melanjutkan dengan bermain game yang ada di kamar Anya, Naya sampai terlelap tidur karena kalah terus dari Siren.
"Udah ah lo aja sendiri Ren ?". Anya menyimpan stik game itu di bawah, bisa ia akui Siren jago dalam hal seperti ini sejak tadi ia selalu kewalahan jika berlawan dengannya.
"Ah lo mah gak seru !". Ucapnya sambil fokus dengan game yang sedang berlanjut.
Handphone Anya tiba-tiba berdering di sana tertera nama Devan yang membuat semangatnya kembali, saat di angkat Anya mulai berbicara.
"Apa apa by ?".
"Udah minum obat ?". Tanyanya di sana.
Anya tersenyum lebar ternyata di saat keadaan sedang sibuk pacarnya ini menyempatkan diri untuk menanyakan kabarnya.
"Belom".
"Kenapa ?".
"Lupa !".
"Iyaa ini mau by ?".
"Makan dulu sebelum minum obat". Titahnya
"Iyaa". Jelas Anya sambil memakan roti yang dibuat mamahnya.
"Ya udah baik-baik, nanti aku ke rumah. Sekarang udah dulu soalnya ada tugas yang didline".
"Iya".
"assalamualaikum".
"waalaikumsalam".
Telepon di putus oleh Devan, Anya menghela nafas apa begini nasib berpacaran dengan anak kedokteran. Kenapa sekarang ia merasa rindu, wajah Anya memerah kenapa ia menjadi seperti ini, sangat memalukan.
Anya kembali masuk ke dalam kamar dengan langkah tertatih di lihatnya Siren sudah beres bermain game dan Naya pun sudah bangun.
__ADS_1
"Dari mana Nya ?". Tanya Naya sambil membereskan baju dan tasnya.
"Angkat telpon".
"Dari ?".
"Kepo banget lo ?".
"Eh gue temen lo kali Nya ?". Anya terkekeh dasar Naya ini suka membuat dirinya tertawa oleh sikap polosnya.
"Biasalah".
"Biasa siapa gue gak tau ?".
"Oke gue mau jujur sama kalian kalo gue udah pacaran sama Devan ?".
Siren dan Naya yang tadinya lesu langsung terlonjak kaget, keduanya memandang Anya seolah meminta penjelasan yang pasti.
"Apaan sih lo pada kayak dapet door prize !".
"Lo bilang kayak dapet door prize, gimana gue bisa percaya Lo pacaran sama Devan sedangkan Lo sama Devan kalo ketemu kayak macan lagi laper".
Anya mengedikan bahu, "Kenyataan emang gitu".
Keduanya mendekat ke arah Anya, Naya menggoyang-goyangkan tangan Anya.
"Anya ih, sejak kapan lo jadian ? Terus kenapa bisa jadian ? Kenapa Lo baru ngasih tahu kita ?".
"Ih lo itu satu-satu kalo nanya, Anya jadi bingung tahu ?".
Naya nyengir, "Ya udah jelasin Nya, sejelas-jelasnya".
"Jadiannya juga baru 2 hari, terus kenapa gue bisa jadian gue juga gak tahu semua mengalir begitu aja dan kenapa gue baru ngasih tahu Lo pada karena gue aja baru bisa ketemu kalian sekarang".
"Adu sahabat gue udah punya pacar, pj nya dong ?".
Siren berfikir, "Tapi apa Devan bener-bener cinta sama lo Nya ?".
"Ih apaan sih lo Ren kok lo ngomong kayak gitu, kalo gak cinta mana mungkin di jadiin ,pacar sama kak Devan !". Sarkas Naya.
"Bukan gitu maksud gue, Lo tau kan kalau Karen mirip banget sama Anya. Gue takutnya Devan jadiin Anya pacar atas dasar masa lalunya karena mereka mirip bukan karena Anya".
Naya terdiam, dirinya menatap kasian pada Anya. Ia hanya berharap yang terbaik untuk sahabatnya, awas saja kalau Devan melukai Anya siap-siap ia yang akan maju lebih dahulu.
__ADS_1
Lagi-lagi Anya terdiam oleh pernyataan Siren. Kenapa ia baru berfikir sekarang mengenai ini seharusnya ia memikirkan ini jauh sebelum semua ini terjadi lebih tepatnya sebelum ia jatuh hati terhadap Devan.
Bagaimana jika itu memang benar, Devan mencintai dirinya atas bayang masa lalunya. Kenapa dirinya merasa sakit padahal ini adalah sesuatu yang belum mungkin terjadi.