Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
78 MABA


__ADS_3

Keadaan seketika panik saat banyak darah keluar, "Bawa Anya cepett !". Hilmi langsung membopong Anya kedalam mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat.


"Anya". Arin menangis sejadi-jadinya melihat putri semata wayangnya harus merasakan hal seperti ini.


Hilmi yang sebenarnya khawatir pun ikut menetralkan pikirannya agar fokus menyetir, mereka telah sampai dan langsung memanggil perawat untuk membawa Anya.


Anya dipindahkan ke troli dengan bersimbah darah, Hilmi dan Arin pun ikut mendorongnya sampai di UGD.


"Tenang Tante, Anya pasti kuat". Hilmi terus saja memenangkan Arin yang terus menangis. Dokter dan suster masuk silih berganti, pengharapan terus saja Hilmi panjatkan.


Dokter dari dalam keluar dari ruangan, cepat-cepat keduanya menghampiri. "Mari masuk". Titahnya.


"Untung saja bayi dalam kandungannya kuat jadi pasien tidak mengalami keguguran. Juga tolong di jaga pola makan dan jangan terlalu banyak pikiran karena itu sangat penting". Setelah menyampaikan hal tersebut dokter tersebut langsung pergi dan meninggalkan rasa bersalah yang makin menumpuk dalam hati Arin.


Anya yang terlihat sudah sadar langsung di hampiri oleh Arin yang memeluknya dengan erat, "Maafin mama ya, mama udah keterlaluan sama kamu. Harusnya mama ngertiin keadaan kamu tapi mama malah egois begini".


Anya melepaskan pelukannya, "Udah ah lagian Anya juga gak masalah. Lagian kalo mama gak begini sama Anya mana mungkin Anya ketemu sama Hilmi".


"Kandungan Anya gimana ma ?". lanjutnya, Arin mengusap air mata yang membasahi pipinya, "Syukur bayi kamu masih selamat".

__ADS_1


Senyum yang tadinya lebar malah mengerut kembali, padahal dirinya mengharapkan bayi ini tidak selamat. Tadinya juga Anya berharap untuk menghilangkan kotoran dari tubuhnya dengan hilangnya bayi yang ada dalam kandungannya.


"Hilmi dimana ma ?".


Arin mencari keberadaan Hilmi, bukannya tadi dia tadi di sini.


"Kangen". Orang itu baru masuk sambil menjinjing beberapa kantong kresek.


Hilmi mengeluarkan beberapa makanan dan menyerahkan pada Arin. "Ni buat tante, kayaknya kalian belum makan dari tadi". Arin menerima itu dengan senang, Hilmi memang lelaki baik dia selalu perhatian dan paham akan kebutuhan Anya.


"Hilmi izin suapin Anya makan boleh ma ?".


"Kok gak keliatan keluarnya ?". Tanya Anya. Hilmi mengambil alih kursi di depan kemudian dia duduk di samping Anya. Sebelum itu ia membantu Anya agar dapat duduk dan memindahkan bantalnya membela.


"Kamu lagi tidur gimana bisa liat ?". Mata Anya terus memandang pada Hilmi yang tengah serius membuka plastik makanan.


"Bubur ?". Raut wajahnya seketika berubah. Anya sangat tidak suka bubur, dari teksturnya yang lembek rasanya juga tidak enak makanya Anya sangat tidak menyukai bubur.


"Kenapa ?".

__ADS_1


"Gak suka". Tegasnya.


"Tapi suka aku".


Hilmi menaikkan satu alisnya, Anya terlihat salah tingkah sekarang. "Yang bilang suka aku di depan mama siapa ?".


Anya memukul bahu Hilmi sangat menyebalkan orang ini. Lihat pipi Anya sudah sangat merah di tambah ucapan Hilmi yang tidak di filter semakin membuat Anya salah tingkah.


"Kalo lagi sakit harus makan bubur".


"Kata siapa ?".


"Aku, barusan".


Anya membuka mulutnya sedikit, meskipun tidak suka harus ia paksakan. Ini perintah calon suaminya lho.


Hilmi tersenyum tipis melihat Anya yang menuruti perintah dirinya meskipun terlihat dia sangat tidak suka pada bubur.


"Makin sayang deh".

__ADS_1


__ADS_2