
Keseruan kegiatan berlangsung sampai malam tiba, semua duduk melingkar menghadap api unggun yang sudah menyala, berbeda dengan Anya yang memilih untuk menarik diri dari orang lain.
Anya mencari bukit di atas langit yang kata orang memang ada di tempat ini, sedikit merapatkan jaketnya karena malam ini udara cukup dingin, cukup perlu menanjak sedikit saja Anya sudah sampai di bukit.
Mendudukkan bokongnya di hamparan rumput dan menghadap ke atas langit ada rasa tenang dalam dirinya keindahan Allah memang tiada tara sangatlah sempurna.
"Ngapain Lo di sini ?". Saat menoleh ternyata di sana ada Ryan, dia pindah dan duduk di samping dirinya.
"Nih !". Ryan menyodorkan pop mie pada dirinya "Gue tau lo belom makan". Anya memperhatikan makanan itu tanpa mengambilnya.
Ryan mengambil tangan Anya dan di pindahkannya pop mie itu, "Makasih". Ucap Anya.
"Ngapain lo ke sini ?". Tanya Anya.
Menghadap hamparan lampu warga Ryan menghela nafas, "Gue ngeliat lo keluar dari kegiatan, gue kira lo bakal kemana jadinya gue ikutin". Anya menganggukkan kepalanya.
Keheningan menghingapi keduanya, Anya memakan pop mie yang di berikan oleh Ryan "Lo suka sama Devan ?". Tanya Ryan sambil menghadapkan tubuhnya pada Anya.
Dirinya terdiam, untuk apa Ryan membicarakan hal seperti ini, lagi pun Anya juga tidak tahu perasaannya kepada Devan terlebih kejadian yang telah menimpa dirinya.
"Kalo lo gak bisa jawab ga papa". Tanyanya.
Anya berhenti mengunyah "Gue emang suka sama dia". Entah sejak kapan dirinya menyukai Devan, tapi yang pasti ada rasa nyaman dalam dirinya jika dekat dengan Devan.
__ADS_1
Ryan sedikit terkejut, Anya adalah tipikal orang yang blak-blakkan berbeda dengan cewek yang di tanya malu tapi mau.
"Tapi gue mikir lagi, jikapun Devan suka sama gue, dia suka sama gue karena masa lalunya bukan mencintai gue karena apa adanya gue". Anya berbicara seperti ini memang benar adanya, sudah berapa banyak cibiran orang lain yang masuk ke dalam telinganya.
"Gue tau Devan orangnya kayak gimana, kasih dia waktu buat bisa menerima lo dengan diri lo yang sebenarnya". Ucap Ryan.
Ryan berdiri "Lo mau balik bareng ?". Tanyanya, Anya mengangguk dan ikut berdiri.
Di perjalanan tubuh Anya kembali menggigil udara semakin malam semakin menusuk ke dalam kulitnya. "Lo kenapa, muka lo pucet banget ?". Tanya Ryan sambil menatap Anya.
Anya menggeleng, setelah sampai di tempat acara yang tadi di adakan sudah selesai hanya ada beberapa orang yang sedang masak dan berbincang di depan tenda.
Dari kejauhan terlihat Naya dan Siren yang sedang berdiri di hadapan Irana, saat mendekat terdengar samar-samar suara mereka yang sedang berdebat.
"Nah ini ada orangnya". Anya yang tidak tahu apa-apa mengerutkan keningnya.
Semua orang mulai berkumpul menyaksikan keributan yang terjadi "Nay ada apaan sih ?". Anya memegang tangan Naya. "Kak Irana kehilangan dompetnya, semua orang udah di geledah cuman tenda kita doang yang belom karena lo nya gak ada kita gak berani bilang iya".
Irana membawa tas mereka bertiga keluar, Devan dan Ryan yang baru datang bingung karena semua orang berkumpul di sini, "Ran ada apaan sih, terus itu Lo lagi ngapain bawa tas orang lain ?". Irana merasa ini saatnya ia harus bertindak.
"Dompet gue ilang Yan, mana barang berharga gue ada di sana semua kartu kredit, duit sama KTP". Irana terus menggeledah di mulai dari tas Naya, Siren dan terakhir Anya.
"Ini dompet gue". Ucap Irana sambil mengangkat dompetnya.
__ADS_1
Semua orang terkejut apalagi Anya karena dompet itu berasal dari tasnya, bagaimana bisa dompet itu bisa berada di tasnya karena sedari tadi ia pergi ke bukit tanpa membawa apapun lagi pun Anya selalu di tenda hanya tadi keluar sebentar saja.
Devan dan Ryan pun terkejut mana mungkin Anya melakukan ini, Ryan merasa ada yang tidak beres karena Anya sejak tadi bersama dirinya.
"Ternyata lo pencuri ya ?". Anya menggeleng "Bukan gue !".
Irana menatap nyalang pada mata Anya "Terus ini apa, lo butuh duid berapa sih sampai nyolong duit orang ?". Irana mendekat ke arah Anya mengeluarkan uang seratusan dan melemparkannya pada wajah Anya.
Naya yang hendak menolong Anya langsung di tahan lengangnya oleh Siren, "Lo jangan buat keadaan makin rumit". Ucap Siren.
"Tapi Ren". Siren menggeleng, Naya kasian melihat Anya seperti ini dulu Anya yang menolongnya saat keadaannya begini tapi sekarang dirinya hanya diam seperti ini.
"Lo tuh terlalu berani gak sih, baru anak baru kelakuannya udah kayak gini". Anya tidak berniat untuk membalas ia sudah pasrah dengan apa yang akan di lakukan Irana meskipun dirinya memang tidak mencuri itu.
Irana membawa botol di meja makanan dan mengguyur Anya sampai tetes terakhir, semua orang yang melihat ini hanya berbisik-bisik.
Tubuh dan baju Anya basah semua sekarang tubuhnya benar-benar semakin menggigil, "Ran kok Lo gini ?". Ryan paham jika Irana marah karena dompetnya yang hilang tapi tidak seperti ini juga.
"Kenapa ? Kenapa hah ? Gue suka sama Devan tapi orang ini selalu ngalangin gue, Dev gue suka sama lo, dari dulu gue suka sama lo tapi gue malu buat ngomong sama lo, gue selalu menunjukkan rasa cinta gue tapi Lo gak peka dengan apa yang gue lakuin".
Devan terdiam mendengar penuturan Irana, Ryan yang tidak mengerti dengan kelakuan Irana menggelengkan kepalanya, seharusnya jika dia mengenal Devan bukan begini caranya.
"Gue selalu sabar saat orang lain deketin lo, meskipun lo mengaggap gue kayak masa lalu Lo gue nerima dengan senang hati yang penting lo cinta sama gue Dev, tapi saat dia datang dan merenggut kebahagiaan gue, gue gak akan nerima itu gue akan rebut itu semua dari lo".
__ADS_1
Irana menunjuk ke arah Anya, matanya sudah memerah pertanda air matanya ia sedang tahan mati-matian.
Irana maju dan mendorong Anya hingga tersungkur ke bawah, dan itu membuat kepala Anya malah sakit, "Jadi lo suka sama gue". Tanya Devan.