Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
64 MABA


__ADS_3

Di persimpangan jalan Anya beristirahat sebentar, entah kemana ia akan pergi sekarang yang pasti mamanya sangat marah pada dirinya itupun karena memang kesalahan Anya.


Helaan nafas keluar begitu saja dari bibirnya, uang yang ia bawa jelas sangat kurang untuk biaya seorang diri. Di tambah pakaian lusuh yang ia pakai karena tangisan tadi memperlihatkan kalau Anya seperti orang tidak waras.


"Mana aku laper banget lagi". Monolognya.


Anya memperhatikan sekitar, ia melihat di ujung jalan ada warteg yang buka. Segera saja ia membawa tas dan melangkah menuju ke sana.


Kemudian Anya memesan makanan yang kira-kira uangnya cukup untuk makanannya. Tidak lama makanan itu sudah berada di hadapan matanya.


Saking laparnya ia makan Anya tidak memperdulikan dirinya seperti orang yang tidak makan selama sebulan. Sampai tersadar kalau orang-orang yang makan di tempat tersebut pun menoleh pada dirinya.


"Pelan-pelan atu neng makannya nanti keselek". Ucap ibu pemilik warung.


Anya menganguk singkat, pikiran untuk bekerja mulai melintas dalam pikirannya. Ia tidak bisa hidup seperti ini, Anya harus bisa menjaga diri dan anaknya agar bisa bertahan hidup.


Perihal anak ia memutuskan untuk tidak menggugurkan karena sekarang Anya paham betapa berharganya seorang anak bagi dirinya. Setelah di pikir lagi Anya tidak perduli dengan orang yang telah meninggalkan dirinya di saat keadaan seperti ini.


Ia lebih memilih untuk mengurus anaknya sendiri dan jauh dari peradaban manusia yang tidak bisa memanusiakan orang lain.


Di rasa selesai Anya langsung bangkit dan membayar makanan, "Nih bu uangnya, makasih ya?".


Ibu itu mengangguk sambil tersenyum. Anya membalas kembali senyuman itu sambil melangkah keluar. Jika di lihat perutnya belum terlalu besar dan kelihatan untuk dirinya melakukan pekerjaan.


Tapi Anya harus mencari pekerjaan kemana, langit mulai berganti malam. Dan ia pun belum memiliki tujuan apapun, Anya tidak menyangka hidupnya akan seperti ini. Mengalami masa pahit lagi dan lagi.


Sangat malas mengeluh Ia lebih memilih untuk bersyukur. Jika dulu ia mengalami masa buruk karena penyakit sekarang Anya mengalami masa buruk karena kesalahan dirinya.


Memangnya mau bagaimana lagi jika sudah begini ? Bukannya sudah terlanjur ?. Hidup terus berjalan masa dirinya akan terus meraung-raung pada takdir. Seharusnya ia ikhtiar untuk bangkit dan melanjutkan hidup.


Anggap saja ini pembelajaran bagi dirinya.

__ADS_1


Kakinya mulai merasakan sakit karena berjalan yang cukup lama. Anya menoleh ke belakang ternyata ia sudah jauh dari tempat tadi.


"Pegang-pegang". Ucap lelaki yang terlihat terburu-buru sambil memberikan dirinya sebuah dompet.


"Mas dompetnya". Teriak Anya.


Tapi lelaki itu terus saja berlari, Anya yang bingung malah membolak-balikan dompet berwarna hijau tua dengan kening berkerut.


"Nah ni orangnya".


Anya yang kaget karena melihat banyak warga yang sedang mengerumuni dirinya.


"Perempuan masa maling, Inget dosa mba". Ucap salah seorang perempuan.


Anya yang semakin tidak mengerti langsung berjongkok karena di sekelilingnya orang hanya menuduh dan menunjuk dirinya seolah ia tersangka.


"Bukan saya...". Anya mencoba membela diri.


Plak


Seseorang tiba-tiba membelah kerumunan dan mencoba untuk menghentikan amuk masa warga. Tapi tetap saja mereka tidak mendengar perkataan lelaki itu.


"BERHENTI". Teriaknya.


Barulah semua orang langsung berhenti mendengar suara bariton yang sangat keras itu.


"Pak, bu, kita gak boleh main hakim sendiri. Tanya dulu apa dia ngelakuin itu apa enggak".


"Jelas-jelas dompet itu ada di tangan dia, ya sama dia lah siapa lagi ?". Sarkas ibu-ibu di sana.


"Saya gak ngambil kok, tadi ada orang yang ngasih dompet ini ke saya". Jelas Anya lemah.

__ADS_1


"Alah banyak ngeles".


Seluruh warga langsung mengerubungi Anya dan meneriakkan kata maling lagi. Ibu yang baru datang langsung terdiam dengan nafas terengah-engah sambil menetralkan kembali pernapasannya.


Hilmi yang tidak suka melihat hal seperti ini. langsung masuk dalam kerumunan itu dan mendekap Anya. Anya yang mendapat perlakuan seperti ini langsung mematung.


"Ini dompet ibu bukan ?".


"Iya, kita udah dapet pelakunya. Dan bakal di bawa ke kantor polisi".


Ibu menyipitkan matanya, "Kayaknya pelakunya bukan dia deh, soalnya tadi cowok yang bawa dompet saya". Jelas ibunya.


Mereka saling pandang, keadaan langsung hening seketika.


Anya yang menyadari seseorang tengah memeluk dirinya langsung ia dorong seketika. Lelaki tadi terjatuh kebelakang akibat dorongan yang keras dari Anya.


Lelaki itu tidak kaget dan langsung berdiri sambil membereskan kemeja yang ia pakai, "Udah bilang kata saya apa, kalau begini ibu bapak yang harus di laporkan ke polisi atas kasus main hakim sendiri". Ucapnya tenang.


"Jangan atu ya, kita gak tau kirain dia yang nyuri". Bapak-bapak yang merasa bersalah mendekat kepada Hilmi dan memohon.


"Neng saya minta maaf ya, soalnya gak tau".


Anya menganguk cepat, ia masih takut dengan kejadian barusan. Di keroyok warga adalah pengalaman baru bagi dirinya.


Semuanya mulai pergi dan meninggalkan tempat. Sekarang hanya tinggal ada Anya dan Hilmi berdua.


"Saya Hilmi". Hilmi memberikan lengannya pada Anya.


Salaman itu tidak di balas oleh Anya tapi ia langsung memeluk tasnya yang tergeletak di bawah trotoar.


Hilmi yang melihat itu bingung dengan keadaan cewek tersebut, sepertinya ia paham apa yang tengah di rasakan oleh cewek tersebut.

__ADS_1


"Kamu butuh tempat tinggal ?". Tanya Hilmi hati-hati.


Anya terdiam sebentar, lalu cepat-cepat menggeleng. Meskipun orang ini tadi menolongnya Anya takut kalau ia berniat jahat padanya.


__ADS_2