
Benar saja selama perjalanan pulang Clara selalu mengikuti Hilmi. Mulai dari duduk berdua di mobil sampai di rumah pun Clara tetap bermanja-manja, seolah hadirnya Anya dia abaikan bagai angin lalu.
Di kamar Hilmi Clara masih saja mengikuti Hilmi dengan alibi ingin membantu. "Kamu mending istirahat pasti capek kan abis perjalanan jauh". Titah Hilmi.
"Kok Abang gitu aku kan kangen udah lama gak ketemu tapi Abang malah begini". Clara mengehentakan kakinya ke lantai, Anya yang melihat itu bingung di lihatnya
Persis seperti anak kecil
"Aku anter kamu ke kamar". Clara menoleh saat Anya menawarkan bantuan untuk ke kamarnya. Oh tuhan, tadi mama Riri menyuruhnya untuk mengantar Clara ke kamar.
Clara menggerutu dalam hati tapi ia tetap memasang wajah biasa saja agar tidak terlalu memperhatikan raut tidak sukanya. Anya berjalan dahulu dan di ikuti oleh Clara di belakang.
"Di mana ketemu sama bang Hilmi".
Pertanyaan itu jelas di tunjukan kepadanya, ternyata selain membuat ribet dia juga tukang kepo dan banyak tanya. Tidak mungkin Anya memberi tahu jika dirinya dan Hilmi bertemu di jalanan bisa-bisa dia semakin bertingkah seenaknya.
"Di toko". Jelas, padat dan singkat.
__ADS_1
"Jadi karyawan ?".
Anya tahu bagaimana menghadapi orang seperti ini, dia tidak sepolos yang orang lain kira. Filosofinya begini, kalau di tendang ya tendang balik.
''Pake pelet apa bisa nikah sama bang Hilmi ?". Lagi lagi Clara melontarkan pertanyaan yang sangat tidak sopan.
Anya berbalik menghadap Clara kemudian dia tersenyum tipis. Clara hanya menoleh ke sembarang arah seolah dia hanya bercanda.
"Kamu cantik lho apalagi berpendidikan, pasti punya etika dan Ehem.." Anya mencoba berbicara lebih pelan lagi, "Pasti punya malu".
"Selamat istirahat, kalau mau makan tinggal bilang aja. Jangan ke Hilmi dia masih sakit". Lanjutnya sambil mengacungkan jempol.
"Udah".
Anya menganguk lalu menutup pintu kamarnya. "Sini aku mau bicara". Hilmi menggeser dari kasur dan memberikan sedikit ruang untuk Anya.
"Kenapa".
__ADS_1
"Maaf kalau kehadiran Clara buat kamu gak nyaman, kamu harus ngertiin dia. Maksudnya Clara masih muda emosinya juga gak stabil. Tenang aja aku bakal jaga jarak sama dia, bukan karena saudara apalagi sekarang kita udah menikah jadinya aku bakal menjaga perasaan kamu".
Anya memang percaya pada suaminya, hanya saja sikap Clara membuat Anya semakin gemas. Cewek seperti Clara pasti akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang dia mau.
"Aku paham kok, aku juga percaya sama kamu. Jadinya kita gak usah perpanjang ini ya". Saran Anya. "Mas udah makan ?" Tanya Anya mengalihkan perhatian
"Belum".
"Aku ambil dulu.."
"Mas mau di sini sama kamu". Hilmi menahan lengan Anya dan meletakkan kepalanya di atas paha Anya. "Tapi mas laper lho".
"Siapa yang laper ? Mas belum makan bukan laper sayang".
Mata Hilmi memandang ke arah langit-langit atap. Ia bisa merasakan kalau perut Anya semakin besar. "Kita besok cek kandungan ke dokter, karena kemarin aku sakit jadi belum bisa nemenin kamu".
"Kira-kira anak ini cewek atau cowok". Kata Anya sambil mengusap wajah suaminya, hanya dengan begini saja Anya sudah merasa bahagia. berdua dengan Hilmi membuat Anya tenang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Mas sih sedikasihnya aja, mau cewek atau cowok semoga menjadi anak yang Sholeh dan pelengkap keluarga kecil kita".
Benar apa yang Hilmi ucapkan, tak lama lagi mereka akan menjadi ayah dan ibu. Sangat aneh memang tapi itulah kenyataannya, meskipun Hilmi bukan ayah kandung membayangkannya saja membuat keduanya senang.