Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
86 MABA


__ADS_3

"Mungkin dia ngehargain, jangan suudzon sayang. Semua gak kaya seperti apa yang kamu pikirin".


Orang sebrengsek Devan kemarin menolak untuk menghadiri pernikahannya sekarang dia ada dengan membawa kado dan jangan lupa wajah judesnya membuat Anya muak melihatnya.


Acara berjalan dengan suasana yang membuat pasangan ini semakin bucin. Buktinya sekarang mereka tengah menyapa setiap kolega Hilmi dan berdansa di tengah pesta serasa dunia milik berdua.


"Gak nyadar kalo istri aku secantik ini". Hilmi memperhatikan setiap jengkal wajah Anya yang sangat menarik perhatiannya.


"Kayaknya tiap hari juga aku cantik deh".


Hilmi terkekeh, "Iya deh nyonya Hilmi".


"Kamu laper gak ?". Tanya Hilmi di sela-sela mereka menari mengikuti alur musik.


Anya menggeleng, "Kayaknya dedek bayinya yang laper, makan dulu ya".


"Ah sayang masa pengantin makan kan gak enak sama yang lain". Rengek Anya


"Kata siapa pengantin gak boleh makan ? Aku gak peduli omongan orang lain, yang aku peduli itu kamu sama anak yang kamu kandung ini".


Anya tidak habis pikir lagi, Hilmi bisa menyanyangi dirinya sekaligus bayi yang ia kandung. Sampai-sampai dia memperhatikan asupan yang diri nya makan.


"Serasi banget sih kalian".

__ADS_1


Keduanya menoleh dan melihat Dinda ada di sana, "Dinda". Ucap Anya.


Dinda merentangkan tangannya dan memeluk Anya erat, "Gak nyangka omongan lo bener tentang bos, kalo gini gue jadi iri deh. Mana lo sekarang cantik banget lagi ngalahin peri kayangan".


"Ah, gue kangen banget sama lo. Akhirnya Hilmi jadi suami gue juga yah".


"Ahh, Anya". Dinda kembali memeluk Anya, ia tidak menyangka Anya akan menjadi istri dari bos-nya. Jika di ingat Anya memang orang yang baik dan Pak Hilmi pantas mendapatkannya.


"Nih kado dari gue, ya jangan di liat dari harganya tapi gue tulus kok"


Anya menerima kado itu, "Apaan sih lo, dengan lo dateng aja gue seneng".


"Sayang makan dulu yu". Hilmi datang dan merangkul pinggang Anya.


"Selamat pa atas pernikahannya". Ucap Dinda


"Sama-sama terimakasih ya sudah datang".


"Pasti dong pa, soalnya Anya maksa suruh aku buat dateng". Sarkasnya.


Anya tersenyum, "Dia itu temen curhat aku pas aku lagi kerja di toko kamu".


Hilmi mengangguk-angguk, "Ngobrol sama Dinda nya di lanjut lagi nanti, sekarang mending kamu makan dulu. Liat tuh mukanya udah pucet banget".

__ADS_1


Anya kaget dan langsung memegang wajahnya, "Aku sepucet itu ya ?".


"Gampang Nya ngomong sama gue bisa di lanjut nanti". Ucap Dinda dia pun kasian pada kondisi Anya.


Anya mengangguk, "Tapi aku pengennya di suapin". Rengeknya lagi


"Istri Hilmi manja banget sih". Anya menggelayut di lengan Hilmi sambil berjalan menuju meja yang untuk para tamu.


Hilmi mengambil makan dan minum untuk Anya, sedangkan Anya menunggu di meja tamu. "Minum dulu". Titah Hilmi.


Dorr


Bunyi tembakan di luar langsung membuat semua orang yang berada di dalam terkesiap. Mereka tahu jika itu adalah bunyi tembakan, "Ada apa sayang". Tanyanya panik.


Hilmi pun tidak tahu, sepertinya ada kejadian di luar. Seseorang berseragam yang menjadi keamanan dan ketertiban langsung menghampiri Hilmi.


"Ada apa pa di luar ?".


"Di luar ada orang yang membawa senjata dan satu orang tertembak pa, kita harus waspada karena tersangka malah lari ke dalam gedung".


Semua orang langsung panik mendengar itu tiba-tiba pintu utama di buka dengan kencang dan pelatuk di arahkan pada satu orang yaitu


Anya

__ADS_1


__ADS_2