
Devan merutuki taksi yang ia tumpangi karena sangat lelet membawa penumpang, saat sampai di bandara wajahnya celinguk celinguk mencari seseorang. Tapi kenapa tidak ada orang sama sekali yang ia kenal.
Kakinya melangkah melihat jadwal pesawat yang akan berangkat, tiba-tiba ia melihat segerombol orang yang sibuk menarik troli setelah batas pemeriksaan.
"Mas saya izin sebentar ke sana soalnya keadaannya lagi genting".
Tapi petugas yang berjaga malah menahan Devan karena perbatasan ini tidak bisa di lewati oleh orang yang tidak akan melakukan perjalanan.
"Saya cuman mau ngomong sebentar aja mas sama pacar saya".
Petugas itu tetep kekeh, "Tolong hargai peraturan bandara mas, karena mas nggak akan naik pesawat jadi tidak bisa".
Matanya terus melihat pada tubuh Anya yang semakin menjauh, di belakang banyak orang yang akan lewat tapi terhalang oleh kerusuhan Devan. Otaknya sudah buntu, terserahlah Devan malah menerobos kerumunan dan tentunya di kejar oleh petugas bandara.
"Anya". Devan berusaha berteriak semoga ada yang mendengar suaranya.
Tuhan izinkan dirinya untuk melihat Anya untuk terakhir kalinya
Belum sempat ia sampai lengannya sudah di cekal, "Lepasin gue".
"Kamu udah mengganggu ketertiban di sini, jadi lebih baik anda keluar". Titahnya.
Dasar Devan yang bebal ia malah menarik lengannya, tapi tenaga dua orang petugas lebih besar darinya. Di tarik tubuh Devan menuju luar bandara, sudahlah semuanya sudah berakhir di sini.
Ia belum sempat meminta maaf pada Anya tapi Tuhan memang tidak mengizinkannya. Mungkin ini memang takdir Devan dan Anya sampai sini.
Devan mengusap wajah kasar, ia memang orang yang sangat brengsek karena telah meninggalkan seorang perempuan dalam keadaan sakit. Kenapa ia tidak bisa belajar dari masa lalu ?.
Tangannya menuntun untuk menonjok tembok di dekat kursi depan bandara. Lihat sekarang bukan temboknya yang rusak tapi keadaan tangan Devan yang sangat mengkhawatirkan karena banyak darah.
__ADS_1
"Dev".
Suara itu berasal dari belakang, ia menoleh sekilas di sana ada Irana, Ryan dan Karen yang tengah menatap ke arahnya.
"Mending kita balik Dev, dari pada di sini terus lagian bentar lagi malem". Suruh Ryan.
Devan mengangguk dengan menampilkan wajah datarnya. Keempatnya masuk ke dalam mobil Ryan, Devan dan Ryan duduk di depan sedangkan Irana dan Karen duduk di belakang.
Entahlah itupun karena keinginan Devan yang menyuruhnya. Sepanjang perjalanan pun Devan tidak membuka suara sepatah pun, pandangannya lurus kedepan. Ryan paham dengan apa yang Devan rasakan.
Tapi biarlah, itu kan kesalahan Devan biarkan dia berintrospeksi tentang apa yang sudah terjadi.
Mobil mereka telah sampai di depan rumah Devan, "Aku ke rumah kamu dulu ya Dev, sekalian ngobatin tangan kamu yang berdarah". Ucap Karen.
"Mending lo pulang aja, gue lagi gak nerima tamu". Jawabannya.
Devan langsung keluar dari mobil setelah mengucapkan itu, Karen yang mendengar itu pun merasa ingin menangis.
"Mending lo ngertiin dulu perasaan Devan sekarang Kar". Ryan berbicara sambil melihat Karen dari kaca mobil.
Karen mengernyitkan dahi, "Emang gue harus ngertiin dia apa, bukannya si biang masalahnya tuh cewek. Kalo kalian pengen tau gue juga gak mau tuh punya penyakit kayak gini".
"Lebih ke tau diri aja deh, apapun yang lo punya dulu gak akan selamanya selalu ada buat lo". Ucap Irana tanpa menoleh, ia sudah malas meladeni Karen yang merasa cinta adalah segalanya. Jika dulu dirinya memang begini sekarang ia menjadi jijik jika mengingatnya.
Sepertinya Karen ingin membalas ucapan Irana tapi tatapan Irana sedang tidak bersahabat maka dari itu ia memilih diam. Ryan yang melihat itu langsung menstrater mobil dan mengantar keduanya pulang.
Setelah sampai Devan hanya bersih-bersih dan berniat untuk tidur. Pikirannya kosong sama seperti hatinya, hidup dan cinta memang berjalan beriringan tapi terkadang manusia selalu melewati batas yang di tentukan.
Pagi ini seperti biasa Devan berangkat kuliah, sarapan lalu berangkat. Di kampus banyak sekali anggota BEM yang akan menanyakan mengenai kegiatan kampus yang akan di selenggarakan.
__ADS_1
Hari ini ia sedang tidak ada selera untuk mengurusi itu. Devan memilih untuk mempersiapkan ujian terakhir yang akan di laksanakan satu minggu lagi. Selepas itu akan belajar praktik di rumah sakit.
"Dev lo mah belajar kagak ngajak gue ah". Ryan baru masuk kelas dan melihat Devan yang tengah belajar.
Dari luar Irana berlari menuju Ryan, "Kamu mah aku panggil gak denger apa ? Capek tau ?".
Ryan yang mendengar itu membulatkan matanya kemudian cengengesan, "Kamu kayak gak tau aku aja, kan aku rada-rada budeg".
Irana memukul lengan Ryan di balas kekehan oleh Ryan. Di depan Karen berjalan dengan percaya diri menuju meja Devan sambil membawa kotak makan.
"Ini Dev aku bawain nasi goreng buat kamu, spesial karena aku yang buat. Susah loh Dev itu buatnya, jadi di makan yah ?".
Di simpannya makanan itu di meja Devan, Devan yang melihat itu hanya melihat sekilas.
"Ihh Dev terima dong". Karen terus menerus mendorong makanan itu ke arah Devan.
Brakk
"Gue bilang gak mau, maksa banget sih lo jadi cewek. Apa lo juga sama budeg kayak Ryan ?".
Teriakkan Devan membuat semua orang menatapnya. Karen melihat nasi goreng yang ia buat tadi pagi dengan susah payah tumpah berserakan di lantai.
Devan membawa tas dan buku lalu pergi meninggalkan kelas. Semua orang yang melihat itu merasa kasihan pada Karen, ia keluar dengan air mata yang mengalir.
"Devan kok jadi gitu sih Yan ?". Tanya Irana.
"Paling gegara rasa bersalah lagi sama Anya".
"Devan emang orang yang egois, dia tau Anya sakit malah di biarin sekarang dia udah gak ada malah ngambek gak jelas". Tuturnya.
__ADS_1
"Iya sih, si Karen juga kena imbasnya. Biarin lah itu urusan Devan kita gak bisa ikut campur itu kan masalah dia".
Irana hanya mengangguk mengiyakan.