
Dari kejauhan Renata terus memperhatikan wanita yang memeluk Devan dengan erat. Berbagai pertanyaan mulai muncul di otaknya, kenapa Devan diam saja saat di peluk oleh wanita itu. Bahkan dengan dirinya pun yang notabenenya sesama teman Devan selalu bersikap sopan seolah tidak ingin terlalu dekat.
"Emangnya kenapa ?". Tanya Devan.
Kepala Anya masih menyandar di dada Devan, seolah dia memang nyaman seperti ini.
"Jawab aja Dev".
Devan berpikir sejenak, kemudian ia menegakkan kembali tubuh Anya.
"Seharusnya lo gak bertanya dan bersikap kayak gini. Gak kasian apa sama pacar lo". Sarkasnya.
Yang di tanya malah memandang wajah Devan dengan seksama. Sial, Anya pun tidak mengerti kenapa ia bisa begini. Banyak hal yang perlu mereka ceritakan dimana keduanya pertama kali bertemu.
"Lo suka Karen ?". Tanya Anya.
Devan tidak mengerti dengan pertanyaan Anya yang melantur seperti ini.
"Gak".
"Kenapa ?".
Devan menoleh, "Udah gue anggap temen".
"Terus gue ?".
Diam
"Kenapa diem ? Apa Lo masih cinta sama gue ?". Anya tersenyum kecut, Devan ini terlalu munafik. Dia adalah tipe orang yang terlalu memusingkan perasaan orang lain sampai tidak menyadari perasaan sendiri.
"Bisa di bilang begitu". Jelasnya.
Anya menatap nanar ke arah Devan, Devan yang di pandang seperti itu merasa aneh. "Lo kenapa ? Apa gue ada salah ?".
Anya mengangguk, "Banyak. Terus kenapa lo gak nyariin gue, asal Lo tau Dev. Gue nungguin lo selama 3 tahun".
Air mata itu kembali hadir di pelupuk matanya, entah sudah berapa kali Anya menahan ini semua tapi lihatlah. Perasaan memang tidak bisa berbohong bukan ?.
Sengaja ia berlaku seperti ini saat setelah lama ia tidak melihat Devan. Anya sudah mengetahui Devan bekerja menjadi dokter sebelum ia mengenal Farrel, ia melihat jika Devan baik-baik saja bahkan terlihat enjoy tanpa kehadiran dirinya.
Mulai dari situ Anya memutuskan untuk melupakan apapun yang menyangkut Devan termasuk hal yang Devan lakukan dulu padanya. Sekuat tenaga ia mengerahkan pikiran dan batin untuk tidak berbalik badan.
"Gue bahkan gak tau lo pergi kemana".
__ADS_1
"Dan lo gak mau usaha, tapi dengan enteng lo bilang kalo lo masih cinta sama gue ?". Anya berbicara dengan sangat pelan bahkan terdengar seperti berbisik.
Devan memberi jeda sebentar, lalu membuang nafas gusar. "Gue emang cowok brengsek dan gue emang gak pantes buat siapapun".
Anya menyeritkan dahinya lalu menarik bahu Devan agar memusatkan tubuhnya pada Anya.
"Pendidikan emang gak menjabarkan kalau seseorang pernah berfikir". Jelas Anya.
Devan melepaskan lengan Anya dari bahunya, "Kenapa lo begini ? Apa lo juga masih suka sama gue ?". Cibirnya.
Masalah mencintai Anya pun tidak tahu, tapi bukankah di antara keduanya belum ada terucap kata putus. Anya hanya butuh penjelasan, apa Devan tidak pernah ada niat untuk mencarinya sedikit pun.
"Kenapa lo baru tanya sekarang setelah lo punya pacar ?".
Ini memang terdengar ambigu menanyakan permasalahan di saat salah satu sudah mempunyai pacar. Tapi Anya tidak bisa menahan ini semua, ia butuh penjelasan kenapa Devan memperlakukan dirinya seperti ini.
Devan terkekeh pelan, "Lo tuh serakah tau, masalah itu udah gak seharusnya lo bahas. Dengan begini lo ngasih kode ke gue buat perhatiin lo".
"Enggak...".
Devan mengusap wajah Anya, "Gue paham".
Anya membulatkan matanya, kenapa menjadi salah paham seperti ini. "Apa gue harus izin dulu ke pacar lo buat pinjem lo sebentar".
"Emangnya mau kemana ?". Tanya Anya.
Anya hanya mengedikan bahu dan mensejajarkan langkahnya dengan Devan.
"Lo mau ngajak gue kemana sih". Anya menghentikan langkahnya, Devan malah membawa Anya kembali ke rumah sakit yang justru membuat Anya semakin benci dengan keadaannya.
Melihat Anya berhenti Devan menolehkan kepala. Ia mendekati Anya dan menggenggam lengannya, "Lo tuh gak berubah. Banyak nanya".
Bukan pertama kalinya mereka bersentuhan seperti ini. Tetap saja hati Anya selalu berdebar jika lengan keduanya bersentuhan. Anya berusaha menepis pikiran itu, menurutnya ia terlalu berfikir terlalu jauh.
Devan melepaskan lengan Anya tepat di depan ruang UGD, "Gak ada kerjaan banget sih ke sini". Kata Anya.
Tapi Devan hanya bergeming, Matanya menatap seseorang dari balik kaca pintu. Di sana ada seseorang yang sedang berjuang melawan maut.
Anya menatap secara bergantian, kenangan pahit di mana ia juga pernah pernah berada di sana membuat rasa trauma itu muncul kembali.
Di genggaman lengan Devan yang menggantung. Devan merasakan kalau lengan itu sudah berubah, ada banyak keringat basah yang muncul. Devan paham apa yang Anya rasakan, ia mencoba memegang bahu Anya dan mengusapnya dengan pelan.
"Di saat orang lain berjuang buat hidup lo malah pengen mati".
__ADS_1
Bibir Anya mengerucut mendengar sindiran Devan, "Ih Devan". Anya memukul dada Devan menggunakan lengannya.
Devan terkekeh, "Lo harusnya bisa lebih bersyukur, banyak orang di luar sana yang bahkan buat makan aja susah apalagi buat berobat". Jelasnya.
Benar apa yang Devan bilang, selama ini sepertinya hidup Anya hanya di penuhi oleh keluhan. Bahkan ia tidak pernah melihat keadaan orang lain yang bahkan lebih susah darinya.
Anya langsung memeluk tubuh Devan, "Makasih ya Dev, udah ngingetin gue".
Devan hanya menaikkan satu alisnya, Anya ini sangat suka memeluk tubuhnya.
Di rasa ada yang janggal Anya langsung membeku dan melepas pelukannya. "Suka banget meluk gue". Sindirnya.
Rasanya ia ingin menghilang juga saat ini, Tuh kan Devan menjadi besar kepala seperti ini. Lagipula kenapa tubuhnya menjadi agresif seperti perempuan yang kurang belain.
Anya meringis kecil, Devan yang melihat itu merasa gemas karena tingkah Anya. Di usapnya puncak kepala Anya, Anya yang mendapat perlakuan seperti itu sebal karena rambutnya menjadi acak-acakan.
"Mending lo balik". Titah Devan.
Devan memutar badannya untuk kembali pada meja di ruangannya, melihat Devan berlalu Anya menyusul Devan dengan berlari kecil.
"Dev". Anya memegang lengan Devan, entah kenapa tapi ini membuat dirinya ketagihan.
Devan hanya berdehem, "Kok lo makin ganteng aja, gue heran".
Anya langsung menutup mulutnya, kenapa ia bisa keceplosan seperti ini.
"Apa sekali lagi, gue gak denger". Ucapnya sambil menghadap ke arah Anya.
Anya menggeleng, lalu berlari. Devan yang melihat tingkah Anya langsung menyusulnya. Terlihat mereka seperti sedang di mabuk asmara, sampai tidak sadar kalau keduanya sedang berada di rumah sakit.
"Dokter Devan".
Renata melihat bagaimana keduanya saling tertawa dan berlari sampai sekarang mereka saling menautkan tangan. Ia tersenyum kecil pertanda tidak mengerti dengan keberadaannya.
"Maaf Dok, ada apa ?". Ucap Devan sambil terengah-engah.
Anya yang melihat dokter Renata yangtersenyum ke arahnya dan ia balas dengan senyuman juga.
"Ini di rumah sakit dokter".
Sengaja Renata mengingatkan mereka karena ini memang bukan tempatnya. Lagipula mereka seperti anak kecil berlari ke sana ke sini.
"Ah iya maaf, Nya gue anter lo pulang ya ?".
__ADS_1
Anya mengangguk sambil menoleh ke arah dokter yang sepertinya tidak suka padanya. Lalu kenapa tadi ia tersenyum pada Anya seolah-olah memberikan rasa sopan.
Bukankah manusia seperti itu, hidup penuh dengan membenci tapi pura-pura tidak membenci.