Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
06 MABA


__ADS_3

Sampai di lapangan ternyata ospek sudah di mulai, Anya melihat Naya yang melambai ke arahnya kemudian ia menghampirinya.


"Ih lo kemana aja sih Nya baru sampai ?". Tanya Naya.


"Biasa". Ucap Anya sambil duduk dan memperhatikan ke belakang untung saja hari ini tidak ada panitia yang berjaga.


"Biasa apa ?. Gue ga tau".


Anya menoleh pada Naya, jika dirinya memberitahu kejadian Devan kemarin pasti Naya akan berisik dan memaksa dirinya untuk menceritakan kejadiannya jadi dia memilih diam saja.


"Biasa gue gadang".


"Ohh, gue kira lo biasa apa malem-malem" Kening Anya mengerut "Maksud lo biasa, gue malem-malem nge ***** gitu". Naya tersenyum lalu tertawa keras membuat orang-orang dan kakak tingkat yang berada di depan menoleh ke arahnya.


"Nya kayanya kakak tingkat manggil kita deh !".


"Makannya lo jangan berisik, lo maju sana" Naya memegang tangan Anya, "Tapi gue malu kalo sendiri".


"Lah terus, lo mau gue temenin gitu ?".


"Kalian berdua maju !. Keduanya saling menatap kemudian maju ke depan lapangan, Anya merasa malu di lihat oleh semua fakultas terlebih karena akhlak Naya yang kurang tatanan agama.


"Tugas kalian mana ?". Keduanya saling berpandangan Naya yang merasa tidak di beri tugas langsung bertanya "Maaf kak, tugas yang mana ?".


"Makannya kalau panitia lagi ngomong dengerin jangan berisik berdua di belakang, kalian sekarang ke kelas Ryan minta tugas baru kemudian kumpulkan di Devan". Keduanya mengangguk lalu pergi ke fakultas kedokteran di lantai atas.


Di lorong ternyata sangat sepi, Anya merasa sudah kenyang mendengar nama Devan kenapa dirinya selalu berurusan dengan Ketua BEM itu, Anya capek selalu mendapat masalah jika di dekat Devan.


Anya berniat kabur dari Naya, dirinya akan mencari ruangan kosong untuk tempat beristirahat. Saat Naya lengah ia masuk ke ruangan lalu menutup pintu kemudian dirinyamelihat dari celah kecil ternyata Naya sudah berlalu pergi.


Di kelas atas Devan sedang mempersiapkan acara untuk ospek kedepannya, dirinya merencanakan akan melaksanakan kemping untuk mahasiswa baru lebih mengenal keadaan satu sama lain.

__ADS_1


Ia melihat nama-nama mahasiswa baru yang akan ikut acara ini mulai dari fakultas komunikasi sampai dengan fakultas psycologi. Mata Devan berhenti pada nama Anya Humaira Larez, ia ingat nama orang itu seseorang yang berada di rumah sakit dan yang tadi bertengkar di gerbang kampus.


Devan tersenyum "Lo apa kabar Ren, gue kangen banget lo ?". Menatap ke luar jendela seolah menarik dirinya pada kenangan yang membuat ia harus terbelenggu pada rasa bersalah yang mendalam. Devan selalu mengandai-andai jika Karen kembali dan mengulang kisah mereka.


Tidak ingin terlalu larut bersedih Devan berniat untuk kembali ke lapangan, tetapi ia mendengar suara pintu di tutup, Devan mengerutkan keningnya ia melihat seorang cewek sedang mengintip dari balik pintu.


Saat Devan akan menghampiri, cewek tersebut malah berbalik membuat jarak keduanya begitu dekat, Anya yang kaget hanya terdiam kaku sambil memperhatikan wajah Devan, jika begini dirinya merasa Devan tidak salah jika di sukai oleh satu kampus karena ketampananya.


"Udah puas liatin wajah gue ?". Anya mengembalikan kesadarannya.


Devan lagi


Ia merasa hidupnya sangat sial selalu saja bertemu orang ini, hari ini telah sempurna rasa malu Anya di mulai dari gerbang, Naya sampai barusan tertangkap basah menatap wajah Devan.


Devan yang bingung dengan tingkah laku Anya, mencoba membuka knop pintu dan langsung di tarik oleh Anya.


"Lo apa-apa an sih ?".


"Tolong jangan dulu keluar ?". Devan menaikkan satu alisnya.


"Di luar ada temen gue, dan gue lagi males ngeladenin jadi tolong tunggu sebentar aja lo jangan dulu keluar !". Devan tidak perduli ia akan membuka pintu tapi Anya malah mendorong Devan ke dinding tembok.


Sebenarnya Devan sudah menahan diri sejak tadi, perempuan ini membuat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Devan menatap Anya yang terengah-engah jika di lihat seperti ini bisa di bilang Anya cukup cantik kepolosan wajahnya membuat dirinya mengingatkannya pada karen.


Anya merasa dirinya begitu pusing dan capek, nafasnya begitu tidak teratur Devan yang melihat darah dari hidung Anya sedikit kaget. Biasanya dia begitu trauma saat perempuan mengalami sesuatu tapi mengapa saat Anya yang mengalaminya ia bisa begitu biasa saja.


Anya mulai duduk di lantai, Devan membernya air di meja dosen yang tidak ia minum tapi tangan Anya begitu lemas bahkan untuk memegang air saja rasanya tidak kuat, botol itu malah membasahi bajunya karena tangannya yang lemas.


Karena baju yang basah membuat baju Anya begitu transparan, Devan yang tahu itu langsung menatap ke arah lain lalu membuka kemeja almamater dan di pakaikan ke baju Anya.


"Devan ?" Irana masuk dan kaget melihat kedua orang cowok dan cewek sedang berada di ruangan yang sepi.

__ADS_1


"Kamu ngapain di sini Devan terus kenapa ini". Irana menunjuk Anya yang terdiam.


"Lo bisa diem ga !". Pertahanan Anya ambruk, Anya pingsan ke arah Devan membuat Devan kaget dan langsung membopongnya ke ruang kesehatan.


Devan membaringkan Anya di troli ruang kesehatan, dirinya mengambil obat untuk membersihkan hidung Anya yang banyak mengeluarkan darah lalu mengambil minyak hangat untuk di oleskan di bagian leher dan kening.


Ryan yang sejak tadi mencari Devan bertanya pada yang lain dan mereka menjawab tidak tahu, biasanya Devan selalu di lapangan diam dan tidak ingin banyak tingkah tapi sekarang malah hilang seperti ini.


Saat sedang berjalan dirinya melihat Irana yang sedang mengintip ke ruang kesehatan "Lagi ngapain lo ?". Irana sepertinya kaget dengan kehadiran Ryan, dia langsung pergi tanpa menjawab pertanyaan Ryan.


Karena merasa aneh Ryan melihat ke arah yang sama dan ia cukup kaget karena melihat Devan yang sedang mengobati seseorang, Ryan bingung dengan Devan biasanya ia selalu menolak jika di suruh mengobati orang lain, apa karena kecelakaan kemarin Devan menjadi begini ?.


Tapi sepertinya Devan mengenal orang itu, dari posturnya sudah jelas dia adalah orang yang membawa Devan ke rumah sakit, Ryan paham kemudian pergi dari ruang itu.


Anya merasa kepalanya sangat berat, selalu seperti ini dirinya sangat membenci orang yang lemah tapi kenapa dirinya begitu lemah.


"Anya !". Ucap Naya.


Anya melihat Naya yang sedang membawa botol minum, jika Naya yang menemaninya sudah pasti kepalanya akan tambah pusing.


"Lo kok malah ngilang gue cari lo kemana-mana tapi ga ada, terus ada kak Irana manggil gue katanya lo pingsan dan ada di ruang kesehatan, ya udah gue ke sini".


Dahi Anya mengerut dirinya ingat tadi ia sedang bersama Devan dan Anya mengalami mimisan kemudian Irana datang dan ia tidak ingat lagi. Terus dirinya bisa di di sini ? Devan ? Apa Devan yang membawanya ke sini ?.


"Nya ih, lo tuh bengong mulu kalo gue ngomong, kenapa sih ?". Ucap Naya kesal.


"Ga kok, ini gue masih sedikit pusing". Alibi Anya.


"Kuat gak ? Kalo ga kuat lo di sini aja".


"Kuat kok, mending ke lapangan aja". Naya mengangguk.

__ADS_1


Saat berjalan sebenarnya Anya masih sedikit sakit tapi ia tidak boleh terlihat lemah kemudian ada seseorang yang menabrak bahunya dengan keras membuat merasa semakin sakit.


"Lo kenapa Nya ?". Anya menoleh ke belakang bukannya itu Irana, kenapa dia menabrak dirinya? Bukannya itu terlihat di sengaja?.


__ADS_2