
Kampus Universitas Airlangga tercengang oleh hadirnya Karen di kampus itu. Pasalnya dia kembali masuk dengan senyumannya yang lebar. Karen yang sedang berjalan pun merasa acuh dengan dengan bisikan orang yang di rasanya tidak penting.
Termasuk Ryan dan Irana, baru saja ia melewati pintu keduanya langsung berdiri.
"Karen !".
Mendengar nama Karen, Devan langsung menoleh. Ia hanya bisa menghela nafas, mulai sekarang pasti hidupnya akan ribet dengan hadirnya Karen lagi dalam kehidupannya. Mulai sekarang ia hanya sadar bahwa ada hati seseorang yang harus Ia jaga.
"Lo bener Karen kah ?".
"Eh Ryan, masih inget sama gue ?".
"Ingetlah ya kali gue lupa, Lo kan mantan temen gue ?".
Yang di tanya hanya terkekeh, Irana yang di sampingnya pun merasa tidak percaya. Apakah ini benar Karen ? Tapi jika di lihat dari wajahnya Karen memang tetap sama
Selalu cantik.
Outfit apapun yang di pakainya pun tidak pernah gagal.
"Kok lo bisa.. ?".
"Gue kangen banget sama lo Yan ?". Dipeluknya Ryan dengan erat membuat Irana memutar bola matanya malas. Jika begini keadaan dirinya menjadi tersisihkan.
Ia akui semua hal yang berada pada Karen dirinya akan kalah. Mulai dari cantik sampai dengan perhatian Devan.
Setelah melepas pelukan, pandangan matanya jatuh pada cewek di sampingnya. Yang di tatap pun hanya tersenyum tapi tidak dengan Karen, ia malah mendelik lalu mengucap.
"Ini cewek pembuat onar masih sama kalian ?".
Ryan menoleh, "Irana pacar gue sekarang !". Ucapnya sambil merangkul bahu Irana.
Ia hanya ber-oh ria sambil mengedikan bahu. Dari dulu Karen memang tidak suka dengan Irana karena ia merasa Irana hanya akan mengambil perhatian Devan padanya.
Matanya menelusuri setiap sudut kelas yang sangat ia rindukan kemudian hatinya tergerak untuk mencari sosok Devan, ternyata Devan ada di sampingnya dan tengah mengerjakan tugas dengan menggunakan laptop.
"Dev aku boleh duduk deket kamu gak ?".
Tanpa menoleh Devan hanya menjawab dengan deheman, ia memang sudah tahu jika Karen akan kembali ke kampus ini karena waktu itu ia membiarkannya.
"Lo pindah ke belakang ?".
Ini tempat duduk dirinya kenapa ia yang harus pindah ?.
"Ini tempat gue Kar ?". Ucap Irana tegas.
__ADS_1
"Lo kan emang di belakang ? Apa lo duduk di sini gegara pengen deket lagi sama Devan ?".
Di sana Ryan mengisyaratkan dengan mata agar ia cepat pindah. Sambil membawa tas, Irana berdiri dengan raut wajah kesalnya.
Tatapan tajamnya melihat pada sosok Irana yang tengah tertawa. Ia jadi penasaran bagaimana reaksi wanita itu jika tahu kalau Devan sudah mempunyai pacar?.
"Dev kalau pulang nanti aku boleh ikut kamu gak ?".
"Kan lo bawa mobil ?".
"Aku gak bawa mobil Dev, soalnya sengaja biar bisa pulang bareng kamu".
Sengaja ia berbicara seperti ini agar Devan mau mengantarnya pulang. Pertanyaan itu di balas anggukan oleh Devan membuat Karen terlihat sangat senang.
Hari Jumat ini mereka akan mengikuti dua kelas, kelas pertama telah selesai dengan pelajaran yang membuat Karen sangat stress di tambah ia sudah lama tidak berkutat dengan teori seperti ini.
Tapi bukan Karen namanya jika tidak bisa menyelesaikan hal yang menurut dirinya susah. Ia adalah mahasiswa yang di bilang cukup cerdas makanya ia memberanikan diri masuk ke dalam jurusan kedokteran yang di bilang orang adalah jurusan dengan kesulitan yang sangat tinggi.
"Yan anter gue ke ruangan BEM, gue ngerasa list anggota kemarin ketinggalan di sana ?".
"Eh eh lo mau kemana ?".
Baru saja Karen akan berdiri tapi tangan Ryan malah menyuruhnya untuk duduk, "Ya mau ikut lah !".
Sepertinya Devan sedang tidak ingin terlalu dekat dengan Karen, makanya ia mengajak dirinya kesana. Mana ada Devan kelupaan list anggota, itu hanya alibi Devan agar jauh dari Karen.
"Gak papa gue mau ikut Yan ?".
"Jangan deh Kar, mending lo di sini sama Irana aja. Sebentar doang kok ?".
"Bentar doang". Lanjutnya sambil mengajak Devan agar cepat keluar dari tempat ini.
"Ih Ryan, gue mau ikut juga !".
Irana tertawa keras, Karen menoleh sambil mendelik, "Ngapain Lo ? Ngetawain gue ?".
"Gak kok, gue kasian aja sama lo ?".
"Maksud lo ?".
Wajahnya di buang ke sembarang arah sambil menghela nafas, ia memilih untuk pergi juga dari ruangan ini dari pada meladeni sikap Karen yang seperti anak kecil.
Tapi lengannya malah di cekal oleh Mak lampir ini, "Apaan sih lo, lepasin gak ?".
"Jelasin dulu maksud lo tadi apa hah ?".
__ADS_1
Di tariknya lengan oleh Irana sambil berpura-pura berfikir, kata apa yang sepertinya cocok untuk perempuan ini ?.
"Emang lo gak tau ?".
Matanya memicing, tahu apa ? Selama ia kembali ke sini belum ada cerita satu pun yang ia dengar.
"Devan tuh udah punya pacar dan Lo gak tau ? Kasian banget sih lo ?". Sungguh kasian Karen ini, ia bertingkah seolah-olah Devan sangat mencintainya padahal lelaki itu sudah mempunyai kekasih.
Tawaan keras itu berasal dari Karen, bahkan semua orang yang sedang berada di dalam ruangan pun menoleh pada mereka.
"Lo tuh lucu banget sih Ran, mana mungkin Devan udah punya pacar kan dia cuma sayang sama gue ?".
"Ya udah kalo lo gak percaya, gue saranin mending Lo tau diri aja deh. Semenjak lo kembali semuanya udah berubah tau dan Lo inget Kar, hidup itu bukan hanya tentang lo aja ?".
Setelah berbicara seperti itu Irana langsung pergi meninggalkan Karen yang bergeming. Seolah ia sedang mencerna apa yang Irana bicarakan barusan. Jadi benar Devan sudah mempunyai pacar ?.
Tapi kenapa Devan tidak memberi tahu dirinya tentang ini ? Kenapa Devan dengan mudah melupakan dirinya hanya dalam kurun waktu 3 tahun ?. Ia harus mencari tahu tentang wanita itu.
Karen berlari mengejar Irana yang pergi ke luar ruangan, ia bahkan bertabrakan dengan beberapa mahasiswa lainnya hanya karena mengejar Irana, "Cepet banget lagi sih jalannya si Irana".
Tapi dari jauh ia melihat tubuh Irana yang sedang menuju ke arah kantin. Kakinya melangkah cepat ke arah itu bahkan kakinya sampai tertatih karena ia memakai highils hari ini.
Akhirnya ia bisa menggapai pundak Irana, "Lo tuh kuyang apa ? Gila cepet banget jalannya".
"Ngapain lo ngikutin gue ?".
"Gue cuman pengen tau siapa pacar Devan, Lo pasti tau kan ?". Ucapnya sambil terpogoh-pogoh.
Mata keduanya saling bertatapan, Irana menilai orang di hadapannya. Apakah Karen harus tau tentang masalah ini ?.
"Oke deh gini, gue bakal turutin satu permintaan Lo apapun itu ?".
"Serius ?". Karen mengangguk, senyuman jahat Irana terbit kembali. Kalau begini kan sangat menguntungkan bagi dirinya, jadinya ia bisa memanfaatkan Karen dengan sesukanya.
"Kita ngomong di sana ?".
Keduanya berjalan menuju meja di pojok kantin karena tempat itulah yang sedang sepi saat ini, "Ya udah cepet lo bilang, siapa pacar Devan ?".
"Anya. Namanya Kanaya, dia udah pindah ke Bandung. Sekarang sih Devan sama dia lagi ngejalanin hubungan jarak jauh".
"LDR maksud Lo ?".
Ia mengangguk, "Lo tau kenapa Devan bisa suka sama dia ?".
"Kenapa ?".
__ADS_1
"Karena dia mirip banget sama lo ?".