Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
30 MABA


__ADS_3

Terhitung sudah hampir 5 bulan Anya memulai segala aktivitas baru mulai dari kampus tempat ia kuliah sekarang, suasana baru tentunya teman baru, Anya memutuskan untuk menjadi orang yang sedikit baik dan tidak pemilih dalam berteman.


Sejak 5 bulan itulah ia merasa enjoy menjalankan segala sesuatunya. Jika dulu dirinya selalu jutek pada semua orang yang menyapa dan mendekati dirinya tapi sekarang Anya akan mencoba menjadi seseorang yang terbuka dan hangat.


Bukan tanpa alasan karena menjadi seseorang yang seperti ini pun terasa menyenangkan setiap dirinya sendiri pun selalu saja ada seseorang yang menyapa.


"Nya kantin bentar yu gue laper nih ?".


"Iya Nya Lo dari tadi mantengin laptop mulu mending makan !".


Afra dan Fani merupakan teman dekat Anya setelah ia pindah kesini, keduanya sangat memahami sikap dirinya jika Anya tidak paham akan apapun hal di kampus ini pasti mereka yang selalu membantu dirinya.


"Duluan ya, gue mesti beresin tugas Anatomi dulu nih ?".


Terlihat Afra yang memajukan bibirnya membuat Fani sebal dengan sikap temannya yang selalu menunjukkan sikap tersebut karena menurutnya seperti anak kecil.


"Ya udah, tar Lo nyusul ya ? atau Lo mau nitip makanan ke kita ?".


Anya menggeleng, "Gue nyusul aja nanti kalau ini udah beres".


"Beresnya tahun depan Nya !". Ucap Afra sebal.


Ketiganya terkekeh lalu Afra dan Fani pergi ke kantin meninggalkan Anya dan beberapa mahasiswa yang juga sedang diam entah sedang melakukan apa.


Ia pusing sebenarnya menjadi anak kedokteran karena tugas dan praktek yang selalu beruntun. Pernah satu waktu Anya merasa stress karena soal ujian blok yang sampai ratusan soal belum lagi hal-hal yang harus di hapal.


Karena ini membuat otaknya ngebul dan sering menjadi uring-uringan untungnya ada Devan pacarnya yang selalu mengajarinya dengan sabar dan telaten.


Berbicara tentang Devan mereka selalu menjalin komunikasi dengan baik. Contohnya saja jika Anya tidak paham dengan konsep membedah kodok pasti Devan lah yang mengajarkan dirinya.


Bahkan pernah ia melakukan vc sampai jam 2 pagi karena tugas Anya yang banyak padahal dirinya tahu kalau tugas Devan lebih banyak karena dia sedang dalam tahap semester akhir.


Dengan begini Anya merasa percaya dengan Devan sepenuhnya, Devan pun sama selalu berbicara kalau dia sedang merindukan dirinya, bahkan Devan selalu berbicara dan bertingkah manja layaknya anak kecil yang di tinggal jauh oleh ibunya.

__ADS_1


Jika mengingat hal tersebut membuat Anya semakin merindukan kekasihnya itu. Baru akan lanjut mengetik ada tangan yang menyimpan makanan di mejanya.


Dia lagi


Siapa lagi kalau bukan Reyhan, "Lo belum makan Nya ? Gak baik kalau nugas perut gak ke isi apa-apa !". Jelasnya.


Reyhan adalah anak fakultas sebelah lebih tepatnya anak komunikasi, ia akui Reyhan memang tampan dan kesayangan dosennya. Belum lagi kalau ada masalah apa pasti Reyhan yang di suruh membetulkannya.


Entah motif apa dia peduli padanya tapi Anya punya firasat kalau anak ini sedang mendekati dirinya.


Makanan itu tidak di makan melainkan hanya di pandangi, "Makan Nya di liatin doang gak bakal Lo kenyang ! Atau mau gue suapi ?".


Anya langsung mencekal lengan Reyhan, "Gue bisa sendiri !". Tegas Anya.


Sudah berapa kali dirinya berbicara kalau Reyhan jangan terlalu dekat karena Anya sudah memiliki pacar. Meskipun jauh Anya hanya ingin menjaga perasaan Devan dan ia sangat menghargai kekasihnya itu.


Tapi dasar memang anak ini batu Reyhan tidak pernah menghiraukan ucapannya malah ia semakin gencar mendekati dirinya.


Afra pun selalu mendukung saat Reyhan selalu mendekati dirinya katanya Anya sebenarnya harus bersyukur di dekati oleh orang seperti Reyhan karena dia selalu peduli pada orang yang di sayanginya.


Anya selalu tersenyum, mengingat itu adalah hal biasa untuk bahan lelucon tapi setelah semakin lama semuanya semakin mendalam tentang Reyhan yang selalu mengantar dirinya pulang kala hujan.


Kala itu Anya tidak membawa mobil karena malas dan dia tidak tahu akan perkiraan cuaca. Kebetulan di saat itu hanya ada Reyhan karena hari yang semakin gelap sehabis ia melakukan kegiatan organisasi.


"Hey !".


Anya tersadar di lihatnya Reyhan yang terkekeh entah karena apa. Tapi di samping itu ia juga menikmati perhatian Reyhan padanya. Sikapnya yang sama dengan Devan membuat ia semakin bersalah terhadap lelaki itu.


Cara dia menunjukkan peduli memang tidak memaksa tapi dengan hal yang sederhana yang terkadang membuat Anya merasa nyaman.


"Rey.. ?".


"Ya udah gue balik dulu, kelas gue udah selesai soalnya".

__ADS_1


Matanya mengikuti arah pandang lelaki itu pergi karena Reyhan tahu apa yang akan dirinya bicarakan, ia akan berbicara berhenti perduli karena ada seseorang yang harus ia jaga hatinya.


Tapi percuma.


Ia malah mengedikan bahu dan melanjutkan tugas yang malah terbengkalai makanan yang Reyhan bawa Anya masukkan dalam tas semoga ia tidak lupa untuk memakannya nanti.


Sedangkan di sini keadaan sedang canggung, dikelas yang kosong Irana, Devan dan Ryan sedang mengerjakan tugas masing-masing lebih tepatnya hanya Devan dan Ryan.


Semenjak keadaan Anya pindah semuanya berjalan sebagaimana mestinya tapi di sini Devan lebih pendiam dan tidak membicarakan hal-hal yang menurutnya tidak penting.


Ryan sudah meminta maaf pada Devan mengenai Anya tapi ia malah merespon seperti semuanya memang tidak terjadi apa-apa.


Alibi Irana untuk menemani Ryan sebenarnya menjadi kesempatan bagi dirinya agar lebih dekat dengan Devan. Lalu bagaimana respon Devan terhadap Irana ?.


Devan menganggap Irana acuh tak acuh ternyata perempuan itu memang tidak ada penyesalan atas kejadian yang pernah terjadi.


"Gue udah beres !". Devan berdiri dari kursi dan membereskan alat yang dia bawa.


"Sampai kapan lo mau kayak gini Dev ?".


Pertanyaan itu tidak Devan hiraukan sekarang ia sedang malas membahas hal seperti ini di sini.


"Kayak bocah tau gak kelakuan lo ?".


Seketika aktivitas yang Devan lakukan berhenti, tangannya sudah merah dan mengepal. Irana yang paham langsung menyenggol lengan Ryan. Apa maksudnya dia berbicara seperti itu ?.


"Dari Karen terus Anya Lo tuh gak bisa dewasa dalam hal cinta tau Dev ! Ayolah kita udah kuliah semester akhir lagi masa kelakuan lo begini terus dari dulu ?".


Urat dari genggaman tangan itu semakin terlihat, pandangannya lurus menghadap depan.


"LO GAK BAKAL TAU APA YANG GUE RASAIN !".


Keduanya tersentak akibat teriakkan Devan. Nafasnya tersengal matanya memancarkan kalau dirinya lah yang sejak dulu menanggung penderitaan akibat orang yang di sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2