
Anya langsung membawa tissue yang tersedia di meja kantin dan mengusapkannya pada baju Devan, tapi malah di tepis oleh orangnya, Anya mengangkat kepalanya memberanikan diri menatap Devan yang terdiam.
"Maaf, gue gak sengaja". Ucap Anya.
Irana mendorong bahu Anya hingga terjatuh ke lantai, Naya dan Siren dari arah belakang datang dan lebih tepatnya hanya Naya yang membantu dirinya berdiri. "Lo gak liat tangan gue Hah !". Sarkas Irana.
Semua orang menonton kejadian yang menurut dirinya sangat tidak penting ini. Di sana Devan hanya berdiri tanpa melerai keduanya, saat berniat pergi Irana mencengkram bahu Anya dengan keras.
"Lo tuh gak tau malu banget yah jadi cewe, bukan karena lo mirip sama Karen mantannya Devan lo bisa seenaknya begini", Anya memandang Devan yang sepertinya mendengar ucapan Irana.
Jeda Irana "Atau jangan-jangan", Irana menutup mulutnya menampakkan ekspresi kaget yang membuat perut Anya merasa mual, ia coba mendekatkan wajah pada telinganya "Lo pake pelet yaa".
Anya menatap Irana dan terdiam untuk beberapa saat, pandangan itu berubah menjadi pandangan tajam, Naya yang melihat itu pun merasa takut, tidak biasanya Anya seperti ini karena Anya selalu memperlihatkan raut malas pada dirinya.
Anya maju selangkah di hadapan Irana "Lo suka kan sama Devan ?". Semua orang kaget dengan ucapan Anya termasuk Irana dia membulatkan matanya dan menoleh pada Devan.
"Kenapa, lo takut kalah saing sama masa lalunya ?". Menatap sinis dari bawah hingga atas Anya tersenyum kecut "Lo tuh ular tau gak sih ? Lo tuh sok baik di depan dia dan orang tuanya, sama gue lo nunjukin taring yang sebenarnya".
Ekspresi Irana berubah, tiba-tiba saja ia menangis kepada Devan dengan wajah belas kasihan "Lo tuh gak usah drama.. "
"Cukup".
Semua orang terkejut dengan teriakkan Devan "Asal lo tau". Devan memandang tajam ke arah Anya "Gue dan masa lalu gue udah selesai dan lo gak berhak bawa apapun tentang masa lalu gue".
Anya menulikan pendengerannya ia memilih pergi tapi ucapan Devan membuat Anya berhenti, "Satu lagi, lo juga sama ! Tau sama apa ? sama-sama munafik, orang lain belum tau siapa lo dan gimana sikap asli lo, gue jamin lo gak akan punya siapa pun itu".
Irana tersenyum menang bersamaan dengan Anya yang pergi meninggalkan kantin, orang lain tidak tahu kalau sebenarnya Anya menitikkan air mata karena kejadian ini.
Di kelas Devan dan Ryan sedang bermain game karena dosen kelas kedua mereka tidak bisa hadir "Dev ?."
__ADS_1
Devan berdehem, "Gue rasa lo gak harus ngomong gitu ke Anya".
Ryan sebenarnya melihat semua apa yang terjadi tadi, Ryan tidak akan menjudge Anya hanya karena sikapnya, ia paham seseorang berprilaku seperti itu mungkin karena ada alasannya.
"Emangnya gue ngomong apa ?". Tanya Devan
"Yang lo ngomong tentang lo gak akan punya siapa pun itu".
"Terus ?".
"Menurut gue dia bersikap begitu ya karena itu". Ryan berfikir keras agar Devan paham apa yang dirinya sampaikan.
"Anya itu orangnya bodo amat, dia gak akan perduli dengan urusan orang lain".
"Bagus lah". Ucap Devan tanpa menoleh
"Lo tau gak orang yang gak peduli itu biasanya adalah orang yang peduli banget, mungkin karena kepeduliannya gak di hargain jadi begitu, mungkin itu berasal dari orang di sekitarnya, orang tuanya, temennya atau mungkin dari pacarnya ya kan mana kita tau".
Devan memang tidak pernah melihat orang tua Anya di kost-annya, mantannya ia melihat saat keduanya berdebat, temannya yang Devan tahu sedang berkelahi di jalan dan semua itu Anya tidak perduli.
"Gue tau". Ryan menoleh dan mengangkat alisnya.
"Tau apa lo ?".
"Cara dia bersikap pada orang di sekitarnya, dan lo bener dia sebenernya adalah orang yang cukup peduli tapi cuman sama orang yang memang peduli sama dia".
Jika begini Devan menjadi seperti cewek yang labil akan pikiran dan sikapnya pada orang lain, lagian dirinya juga capek dan sedang tidak ingin memikirkan hal-hal seperti ini.
...***...
__ADS_1
Pagi kamis seluruh mahasiswa angkatan baru sudah berkumpul dan membawa perlengkapan masing-masing, bus yang akan mengantarkan mereka pada tempat acara sudang datang, Devan selaku ketua memberikan arahan pada posisi duduk mereka.
Termasuk Siren, Anya dan Naya sudah bersiap lebih tepatnya Naya yang seperti akan pindah rumah karena barangnya yang sangat banyak ia bawa. Mereka kebagian tempat pada bus 2 dan duduk paling belakang dari depan.
Kenapa harus di belakang ? Anya sangat mabuk perjalanan apalagi naik bus seperti ini tapi bagaimana pun arahan harus tetap di ikuti, yang membuat Anya malas adalah Devan dan Irana berada dalam satu bis yang sama dengan dirinya.
Baru saja bus berjalan sekitar 500 km perutnya sudah merasakan ada yang mengganjal, Naya yang khawatir karena Anya diam saja langsung menepuk bahunya "Nya lo kenapa, muka lo pucet banget ?."
Anya menoleh dan menggeleng, di keadaan seperti ini Anya hanya ingin diam karena jika dia bergerak saja pasti kepalanya langsung pusing.
Keadaan dalam bus cukup ramai mungkin mereka tidak gaduh karena ada Devan di depan, di lihatnya Naya dan Siren yang entah sedang mentertawakan apa, Anya memilih memakai irphone dan di pasangkan di telinganya.
Sepanjang perjalanan Anya hanya tidur dan di bangunkan oleh Naya saat sudah sampai, matanya tak sengaja menangkap Devan dan Irana yang sedang bersenda gurau, ah sudahlah lagipun Anya sudah tidak ingin berurusan dengan mereka lagi.
Tapi yang membuat Anya sedikit heran adalah tatapan Siren yang tajam pada kedua orang itu, Apa Siren menyukai 'Devan ? mungkin, banyak sekali orang yang mendambakan Devan tapi guratan wajah Siren seperti mengisyaratkan rasa tidak suka yang dalam.
"Nya, lo bisa masang tenda ?". Tanya Naya, Anya menggeleng.
"Gue bisa". Ucap Siren, melihat ke sekeliling orang lain tengah sibuk mendirikan tenda masing-masing, ada yang seperti memaksakan tendanya berdiri tegak, ada yang seperti dirinya hanya diam memperhatikan.
"Nya lo minta nomor buat tenda kita aja ?". Ucap Siren yang sedang menalikan ujung kain.
"Sama siapa ?.". Tanya Anya.
"Kak Devan, dari pada lo diem gitu di sana !". Jawab Siren.
Kenapa harus dia, apa tidak ada lagi pekerjaan yang membuat dirinya lebih bermanfaat, ya sudahlah mau bagaimana lagi. Anya mengangguk pertanda menyetujui, kemudian Anya pergi menuju tenda panitia dan mencari Devan.
Terlihat Devan sedang membantu yang lainnya yang mengalami kesusahan saat mendirikan tenda. "Misi kak, mau minta nomer tenda buat FK 2 ?". Anya mencoba berbicara sopan untuk mencairkan rasa canggung dalam dirinya.
__ADS_1
Devan menoleh sebentar lalu melanjutkan pekerjaannya. "Bisa sopan juga lo ?". Anya terdiam dan Devan menghiraukan permintaan Anya "Gue lebih suka sifat asli lo, dari pada kaya gini munafik tau gak ?."