
Ah, sejak tadi Hilmi terus memegang jantungnya yang sepertinya bermasalah. Melihat Anya selalu berpenampilan seperti ini membuat reaksi tubuhnya menjadi menggila.
Sekarang mereka tengah menuju tempat acara, pak Hadi selaku supir mengantar mereka menggunakan mobil mewah milik Hilmi. Hilmi menoleh pada Anya yang sejak tadi hanya diam.
Wanita itu sangat tenang dan terlihat anggun sekali. Malam ini baju navy selutut dan bahu terbuka tapi tidak terlalu menampilkan belahan dadanya membuat dia menjadi seorang ratu.
Anya menoleh dan menangkap basah Hilmi yang tengah menatap dirinya secara diam-diam. "Ada apa Hil ?". Tanyanya
Hilmi tetap memperhatikan wajah Anya tanpa memalingkan kepala, "Cantik". Pujinya.
"Eh".
Di puji oleh seorang Hilmi membuat banyak kupu-kupu berterbangan di perutnya. Anya menunduk untuk menahan malunya, Anya pun merasa kalau Hilmi lebih tampan dua kali lipat malam ini.
"Udah sampe den". Jelas supirnya.
Hilmi menoleh ke arah sekitar ternyata benar mereka sudah sampai. Terlihat banyak sekali orang yang tengah bergegas untuk masuk ke dalam lobi hotel.
Benar jika kliennya itu melangsungkan pernikahan dengan menyewa hotel mewah di kawasan kota. Spot ini memang sangat bagus untuk sebuah kenangan yang hanya sekali seumur hidup.
"Yuk". Ajak Hilmi, tapi lengan Anya malah menahannya, "A-aku gugup". Jujur Anya.
Jelas ia sangat gugup apalagi ini menjadi hal pertama bagi dirinya ke acara seperti ini. Biasanya juga ia hanya menghadiri BEM dan semacamnya tapi jujur saat ini ia sangat gugup.
__ADS_1
Hilmi terkekeh melihat wajah Anya seperti orang yang akan di culik, "Tenang ada aku". Hilmi mengusap wajah Anya dengan lembut.
Tidak tahu jika efek yang di timbulkan membuat Anya kaku seketika. Kemudian ia langsung tersadar karena Hilmi telah keluar duluan.
Dirinya pun keluar dari mobil dan menghampiri Hilmi, matanya menjelajahi ke sekeliling. Sepertinya hanya orang penting yang akan datang ke sini terlihat jika semuanya saling menyapa satu sama lain.
"Jangan takut Anya, ntar juga terbiasa". Katanya.
Anya mendelik kesal apanya yang terbiasa ? Jika dirinya selalu saja merasa takut seperti ini. Hilmi menggenggam lengan Anya dan membawanya masuk ke dalam.
Di dalam keadaan semakin tidak karuan, Anya pun merasa risih dengan orang-orang yang menatap dirinya seperti tidak suka. Tak sadar kalau dirinya terus merapatkan tubuhnya pada Hilmi.
Hilmi yang menyadari itu menghadapkan seluruh tubuhnya pada Anya, Anya yang bingung malah menatap polos.
Seketika bulu kuduknya langsung merinding karena ucapan Hilmi yang sangat dekat. Apa dia bilang ? Dansa ? Tentu Anya tidak mau.
Anya menggeleng pertanda tidak mau tapi Hilmi sudah menarik lengannya terlebih dahulu, "Aku gak bisa Hil". Ucap Anya panik, karena sekarang mereka sudah masuk bersama orang yang tengah berdansa dengan pasangannya masing-masing.
"Ikutin gerakan aku". Hilmi menuntun lengan Anya agar mengalungkannya di leher miliknya sedangkan lengan dirinya ia sampingkan di pinggang Anya.
Hilmi bergerak mengikuti alunan musik yang setel, tanpa sadar Anya juga mengikuti gerakan Hilmi yang melangkah. Tatapan keduanya beradu, setelah sekian lama menanti seolah Hilmi menemukan kembali wanita yang ia cari selama ini.
Entahlah, semuanya mengalir begitu saja mulai dari pertemuannya dengan Anya secara tidak sengaja adalah seperti jalan Tuhan yang di berikan untuknya. Hilmi tidak percaya jika rasa ini akan tumbuh dengan cepat, dia yang selalu tidak fokus saat di kantor karena terus memikirkan paras wajah cantik di hadapannya.
__ADS_1
Keduanya menikmati setiap gerakan yang di lakukan. Semakin merapat dan mendekat membuat mereka merasa jika ini hanya milik keduanya.
Gerakan untuk mengusap pahatan tuhan yang sempurna mendorong Anya untuk melakukannya. Hilmi tersenyum akibat ulah Anya yang secara terang-terangan memberi garis hijau padanya. Tuhan kenapa rasa ini seperti tidak tertahankan.
Hilmi dan Anya sekarang menjadi pusat perhatian orang yang melihatnya. Mereka seperti tengah kasmaran dan merasa hanya berdua.
"Pak Hilmi". Ucap seseorang.
Mereka menoleh dan Anya langsung melepaskan pelukannya, "Maaf menganggu, tumben pak Hilmi mau kesini ?". Ucap pengantin lelaki yang menyapa Hilmi.
"Maafkan saya pak Darma yang selalu berhalangan, untuk kali ini saya akan terus hadir untuk kedepannya". Hilmi sedikit membungkuk atas permintaan maaf dirinya.
"Ah gapapa kok saya ngerti. Saya dengar CEO perusahaan yang tengah naik daun ini jarang dekat dengan perempuan apa anda juga mau menyusul ?".
Anya yang mendengar wajahnya langsung memerah, mengapa di dekat Hilmi semuanya menjadi tidak karuan seperti ini.
Hilmi pun terkekeh, "Insyaallah". Ucapnya.
Anya mencubit pinggang Hilmi dari belakang karena ucapannya. Sungguh sekarang Anya sangat malu apalagi keduanya terus menggoda dirinya seperti ini.
Tapi samar-samar Anya mendengar suara seseorang yang sepertinya sangat familiar. Anya mencoba menoleh untuk melihat pemiliknya.
Keringat di dahinya mulai bermunculan karena melihat seseorang yang Anya kenal selama ini. Hilmi yang merasakan kalau lengan Anya mulai berkeringat merasa aneh karena ruangan ini di penuhi oleh AC mana mungkin orang akan kedinginan.
__ADS_1