
Toko sudah di tutup dan di kunci dari luar, entah maksudnya apa Hilmi itu memang berniat mengurung dirinya di sini. Dari pada banyak mengumpat Anya melangkah menuju kamar yang berada di ujung pojok ruangan.
Hal yang pertama kali ia lihat saat membuka pintu adalah rasa aman dan nyaman.
Ia mulai masuk dan menutup pintu, pandangannya menjelajahi setiap inci kamar tersebut. Ternyata ukurannya lebih besar dari yang ia bayangkan, di ujung ada sebuah meja kerja yang pasti itu adalah tempat Hilmi saat datang ke toko ini.
Kakinya menuntun ia untuk menghampiri meja tersebut. Tidak ada yang aneh semua seperti tampilan meja pada umumnya. Ada pulpen, dokumen dan satu yang menarik perhatian Anya adalah sebuah foto Hilmi dengan seorang perempuan yang ia tebak itu adalah pacar bosnya.
Di piringkannya kepala ia sedikit, "Pantes sih secara dia cantik". Anya mengembalikan foto tersebut pada tempatnya.
Menurut ia percuma jika seorang hanya mengandalkan cantik dalam hidupnya. Hidup terlalu keras jika hanya membicarakan perkara fisik, bukankah banyak aspek dalam diri kita yang perlu di gali lagi ?.
"Mikir apa sih gue".
Anya memilih untuk mandi dan membuat susu terlebih dahulu sebelum tidur. Ini memang kebiasaannya bukan ? Jika sebelumnya mamanya yang selalu menyiapkan ini semua sekarang ia harus mandiri. Mencoba menjadi wanita tangguh dan mandiri memang tidak semudah apa yang di pikirkan. Banyak rintangan dan tantangan yang perlu ia hadapi apalagi sekarang ia sedang mengandung seorang anak pasti ini akan berat kedepannya bagi Anya.
Setelah mandi ia teringat sesuatu, "Mana mungkin di sini ada susu, lagipun ada gue enggak tahu di mana nyimpennya barang-barang kayak gitu".
Ia menghela nafas pelan, lebih baik dirinya tidur karena besok ia harus bekerja.
...***...
Pagi sekali Anya sudah bangun, bukan tanpa alasan Anya bangun sesubuh ini karena tujuan pertamanya adalah membereskan toko. Mulai dari alat pengadonan sampai dengan kompor tak lupa juga ia mengelap seluruh kaca di toko ini.
"Gila cape banget, berasa kayak olahraga pagi".
Keringat terus bercucuran dari pelipis dahinya, dari biasanya ia yang hanya menyapu lantai sekarang seperti membersihkan seluruh gudang sudah pasti itu sangat menguras tenaga.
Di luar seperti ada seseorang yang membuka kunci toko, setelah beberapa saat ternyata benar beberapa pegawai sudah mulai berdatangan. Ini baru pukul tujuh pasti mereka harus membuat kue terlebih dahulu.
"Wah bersih banget". Ucap salah seorang yang baru masuk.
"Kamu yang bersihin ini semua ?". Tanya pegawai yang satunya.
__ADS_1
Anya mengangguk cepat karena senang mendapat respon seperti itu. "Pasti cape banget ya ngerjainnya, gak kebayang dulu juga aku gitu".
Anya hanya terdiam ia tidak tahu harus merespon seperti apa, "Mau ikut bikin kue ?". Tawarnya.
Jelas saja Anya mau orang itu menyuruhnya untuk ikut ke dapur pembuatan. Di sana banyak alat dan bahan yang sudah di siapkan di kulkas. "Oh iya kenalin nama aku Dinda". Sambil mengulurkan tangan.
"Anya". Balasnya dengan tangan juga. Dinda mengangguk. Sepanjang membuat kue Dinda menjelaskan bahan dan alat serta bagaimana cara pembuatannya. Anya yang melihat itu seperti anak SD yang di buatkan makanan oleh mamanya. Ia sebenarnya familiar dengan hal seperti ini karena mamanya dulu sering membuatkan kue untuk dirinya.
"Kok kamu bisa di bawa sama pak Hilmi ke sini ?".
"Gak tau gue juga, tadinya dia nawarin tempat tinggal karena gue pernah di amuk masa di kira maling. Tapi gue lebih butuh duit dan minta pekerjaan sama dia".
"Masa sih".
"Maksudnya ?".
"Pak Hilmi emang baik orangnya tapi dia gak pernah tuh bantuin perempuan sampe segitunya".
"Dia emang jarang ke sini Din ? Padahal ini udah siang tapi gue gak liat dia tuh dari tadi".
Sambil memasukkan kue ke dalam open Dinda berbicara, "Pak Hilmi nengokin toko paling cuman 2 kali dalam seminggu".
Anya hanya ber-oh ria, pikirannya tiba-tiba tertarik pada bingkai foto di meja kerja Hilmi.
"Pak Hilmi udah punya pacar ?". Tanyanya tenang.
Dahi Dinda bergelombang, "Kata siapa ?".
"Itu foto bingkai di meja kerjanya". Dinda terlihat sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Itu istrinya".
Seketika Anya kaget, "Dia udah beristri ?".
__ADS_1
Dinda mengangguk, "Tapi udah meninggal". Kemudian Dinda menoleh dan melihat raut wajah Anya.
"Kenapa lo ?". Tanyanya sambil terkekeh, "Telat ya dia udah punya istri". Lanjutnya.
Anya menggeleng cepat, "Kenapa bisa meninggal ?".
"Katanya sih kecelakaan mobil saat mba Sandra mau nyusul pak Hilmi ke kantornya, mana lagi ngandung anak pertamanya. Di saat itu juga pak Hilmi sering ngelamun gak jelas".
Tercetak jelas dalam raut Hilmi jika dia memang seperti orang yang kesepian, Anya tidak tahu jika permasalahan bosnya itu sangat berat.
"Lo tau gak, lo itu perempuan yang deket sama pa Hilmi setelah hampir dua tahun kita setoko gak ngeliat dia ngebawa cewek ke sini".
"Apaan sih gue itu cuman di tolongin sama dia gak lebih". Anya menanggapi itu hanya sebagai candaan, lagian dia tahu bagimana beratnya di tinggal oleh seorang istri yang di cintainya.
Di rumah Hilmi berniat untuk berangkat ke kantor, ia memang kesiangan karena tadi malam banyak berkas yang harus ia urus sesegera mungkin.
"Ma Hilmi berangkat ya". Hilmi mencium lengan mamanya yang sedang makan sendiri di ruang makan.
"Hilmi".
"Iya ma". Hilmi berbalik badan dan menghampiri mamanya.
"Sampai kapan kamu mau sendiri, ini udah mau dua tahun loh. Kamu bilang butuh waktu, ini udah lewat dari yang kamu janjiin". Sengaja mamanya menagih janji Hilmi yang akan segera mencari calon istri karena bagaimanapun seseorang yang sudah meninggal tidak akan kembali lagi.
"Mama juga mau kayak orang lain, ngegendong cucu dari anak mama pasti seru".
Perihal calon istri pengganti Sandra Hilmi belum memikirkan hal itu. Ia masih terlalu mencintai Sandra, karena baginya Sandra tidak akan bisa di ganti oleh siapapun.
Tapi hidup akan terus berjalan, bukannya ia juga membutuhkan sosok perempuan dalam hidupnya untuk kedepannya nanti.
Riri memegang lengan putra kesayangannya, "Sandra juga pasti seneng ngeliat kamu senang nak".
Hilmi mengangguk dahulu, biarlah mamanya meminta ini pada dirinya. Meskipun Hilmi tidak ingin dulu mencari istri ia akan menunggu kuasa Tuhan untuk mempertemukannya dengan seorang wanita yang baik menurutnya.
__ADS_1