
Belasan panggilan tidak terjawab dan ada satu pesan yang baru saja ia sadari. Sejak tadi Devan memang berbicara banyak dengan Karen itupun tanpa sengaja karena waktu memang cepat berputar.
Atau dirinya yang seolah menerima Karen kembali.
Di tekannya nomor yang akan ia mintai maaf, tak lama ada seseorang di sebrang sana dengan menyahut halo.
Apa ia harus memberitahukan Anya tentang keberadaan Karen
Ia rasa Anya tak perlu tahu tentang ini, toh dirinya pun tidak ada hubungan lagi dengannya. Hanya saja keberadaannya memang membuat dirinya terkejut.
Di sana alis keduanya saling tertaut padahal nomor ini sedang tersambung tapi tidak ada sahutan atau dirinya kah yang salah menelpon ?. Tapi benar di sana terletak nama BuBu yakni Devan.
"Dev?". Ucapnya pelan.
Hening
Dan masih tidak ada jawaban.
"Halo" . Baru terdengar ada sahutan dari kekasihnya itu.
"Kamu lagi apa ?".
"Ini lagi mau nugas".
Dalam batinnya mungkin Anya hanya akan menganggu Devan dengan menelpon seperti ini.
"Maaf, aku ganggu ya ? Mau ngabarin aja maaf baru bales karena hp aku tadi lowbat abis ikut kegiatan kampus".
"Iya gak papa Nya".
Ia menggigit bibir bawahnya. Tumben Devan tidak menanyakan keadaan dirinya padahal ia selalu over frotektip mengenai hal yang menyangkut keamanan.
"Aku tutup ya ? Maaf ganggu kamu mau tugas".
"Iya Nya ?".
Hening di antara keduanya
"Dev ?".
"Iya Nya ?".
"Kalau ada apa-apa cerita aja ya gak usah sungkan".
__ADS_1
"Iya Nya".
Terakhir yang memutus telpon adalah Anya. Entah kenapa setelah menelpon kekasihnya itu hatinya merasa sakit. Jawaban yang di berikan Devan dari tadi hanya iya dan tentu tidak seperti biasanya ia begini.
Mencoba positif adalah jalan ninjanya sekarang. Karena tadi telah ada tragedi hujan-hujanan tubuhnya menjadi kumat lagi. Lihatlah sekarang ia hanya bisa berbaring dengan menutup semua tubuhnya dengan selimut.
Ia lebih memilih untuk menutup mata karena besok ada kelas pagi. Saat ini ia telah masuk semester ganjil dan tentu semakin ke sini tugas dan praktek semakin menumpuk.
Sinar matahari mulai menusuk pada rongga mata dan membuat si empunya merasa terganggu. Matanya tergerak untuk melihat jam yang berada di atas nakas, saat ini panah sedang menunjukkan pukul 7.
Entah kenapa badan ini seperti ada lem perekat yang sangat susah di gerakkan, kasur memang tempat paling nyaman. Tapi mau bagaimana lagi ia harus bangun untuk melakukan kegiatan hari ini.
"Apa gue izin aja ya ? Tapi kalo gue izin sakit terus ada yang liat kan gak lucu". Dialognya sambil pergi menuju kamar mandi.
OOTD simple adalah kebanggaan Anya, ia hanya memakai lavis crop hitam dan hoodie abu-abu. Menurutnya tidak apa kalau tidak modis yang penting ia nyaman memakainya.
Pesan masuk di handphone membuat ia mengalihkan perhatian, saat di buka ternyata ada pesan dari Devan.
Maaf ya Nya malem aku cuek sama kamu, mood aku lagi gak baik
Bibirnya tertarik sedikit, Anya kira Devan tidak akan perduli lagi dengan dirinya. Sekarang ia sudah kuliah dan lebih baiknya lagi ia harus lebih bisa dewasa dalam menghadapi persoalan seperti ini.
Tangannya mulai mengetik untuk membalas pesan.
ga papa sayang, semangat ya buat hari ini.
"Halo".
"Pagi sayang".
Ah ternyata Devan, arah matanya melihat pada cermin besar di hadapannya. Terdengar kalau di sana Devan tengah berdehem.
"Boleh video call". lanjutnya
Otaknya berfikir lalu memilih untuk mengiyakan. Keduanya menghadapkan ponsel masing-masing ke arah depan wajah dan terlihat Devan di sana tengah menyeruput kopi yang entah di buat oleh siapa.
"Mau ngampus ?".
"Ya iyalah, masa iya mau tidur".
Devan terkekeh, "Judes banget pacarnya siapa sih ?".
Sengaja ia menyimpan ponsel di samping cermin karena untuk memudahkan dirinya sambil bermake-up.
__ADS_1
Terlihat seolah sedang berfikir, "Anya rasa pacarnya lagi sibuk, soalnya sebentar lagi dia mau co-as".
Ia mengangguk, "Iya juga, nanti pacarnya kangen lagi".
"Kata siapa?".
"Kata pacarnya".
"Apaan sih Bu !". Ucapnya sambil terkekeh.
"Nya liat aku deh !". Perintahnya.
"Apa lagi Dev ah, aku lagi makeup".
"Sebentar doang sayang".
Terpaksa Anya menoleh lalu mengangkat kedua alisnya.
"Meskipun kita ada di jarak yang jauh, kamu baik-baik ya di sana ? Insyaallah aku akan jaga hati di sini. Kalo kamu mulai ragu dengan enggak ada kehadiran aku di sana, tolong tunggu".
Ah lelaki ini pandai sekali membuat Anya terbang melayang. Ia jadi merasa bersalah karena kejadian di mana Reyhan membantunya. Mulai sekarang ia bertekad untuk sama-sama menjaga hati agar hubungan dirinya langgeng.
"Makasih ya sayang".
Senyuman itu lagi-lagi membuat Anya merasa bersyukur memiliki Devan. Tuhan, kenapa tidak dari dulu saja engkau mempertemukan kami berdua.
Alarm di pojok dinding berbunyi, pertanda kalau kelas pertama akan di mulai setengah jam lagi. Ia terbiasa dengan menggunakan alarm. Biasa, Anya orangnya sangat melestarikan budaya Indonesia yaitu,
Ngaret.
"Aku matiin ya Dev soalnya ada kelas pagi". Devan mengangguk lalu menutup telponnya.
Bergegas ia membereskan keperluan yang akan di bawa, dan sepertinya ia akan telat tapi semoga saja tuhan baik hati agar ia tidak di marahi dosen.
Jantung Anya seperti akan copot dari tempatnya. Ia sampai tepat 3 menit sebelum kelas di mulai, Afra dan Fani yang melihat tingkah Anya pun merasa aneh pasalnya anak ini seperti tengah di kejar santet.
"Nya abis naik gunung apa Lo ?".
Nafasnya tersengal membuat ia minum air yang sengaja di bawa dari rumah, "gue takut telat, soalnya 3 menit lagi masuk. Entar gue yang kena getah dosen lagi !".
Keduanya saling pandang, "Lo kayaknya salah liat jadwal deh ?".
"Maksudnya Fan ?".
__ADS_1
"Nih liat jadwalnya ?".
Rasanya ia ingin mengamuk saat ini juga, bisa di lihat kalau kelas akan di mulai setengah jam lagi dan tadi Anya berlari dari gerbang kampus sampai dengan di ruangan ini. Dan ia mulai merasa kalau arwahnya sudah melayang dari dalam tubuhnya.