
Keadaan seketika hening, Devan terkaget sebentar akibat ucapan Anya yang menurutnya sangat egois. Anya yang takut jika nanti Devan menjadi membencinya akibat dirinya yang seperti anak kecil ini.
"Kenapa ?". Tanyanya, ia ingin tahu alasan di balik Anya yang ingin mengakhiri hubungan mereka.
Ia mencoba terdiam dan mencari alasan yang tepat agar tidak salah berbicara, "Aku bakal pindah ke Bandung dan gak mungkin bagi kamu mau berhubungan jarak jauh jadi aku bakal akhiri hubungan ini !".
Anya tertunduk berat bagi dirinya mengatakan ini pada kekasihnya, Devan memegang dagu Anya dan menyuruh untuk menatap matanya.
"Kata siapa ? Aku mau-mau aja ngejalin hubungan jarak jauh. Meskipun gue tau itu berat, kenapa engga ?".
Bukan, bukan ini yang Anya mau. Ini akan menyakitkan bagi mereka untuk menjalani ini apalagi sekarang keadaan sedang tidak mendukung mereka.
"Nya !". Anya menoleh menatap Devan, sangat tidak mungkin bagi dirinya untuk menjauh jika begini. Wajah Devan memang menampakkan raut serius akan hubungan ini tapi kenapa dirinya selalu ragu ?.
"Jangan dengerin omongan orang lain, Nya dengerin! Kamu punya kuasa penuh atas diri kamu sendiri". Cairan itu menetes begitu saja.
"Orang lain gak akan paham dengan apa yang lo rasain sekarang jadi hidup dengan apa yang lo suka jangan pernah terbebani dengan apa komentar orang lain".
Dengan motivasi yang Devan berikan membuat dirinya ada sedikit harapan untuk hidup yang lebih baik, sekarang ia benar-benar bersyukur dengan hadirnya Devan yang memberikan hal positif bagi Anya.
"Udah jangan nangis !". Ucapnya, Devan mengusap air mata yang mengalir di pipi Anya, "Kita jalanin sama-sama, jangan ngerasa sendiri ada aku ?". Ucapnya sambil tersenyum.
"Makasih ?". Anya langsung berhambur ke pelukan Devan. Sangat melegakan kalau saja dirinya bersikap dewasa seperti ini dari kemarin pasti tidak ada lagi yang namanya kekhawatiran.
...***...
Ryan sedang berada di belakang rumahnya, sedari tadi ia sedang duduk di sebuah kursi tebal di lapisi bantal dengan pemandangan kolam renang yang menyejukkan.
__ADS_1
Entah apa yang sedang ia pikirkan sejak tadi tapi otaknya selalu berpusat pada Irana. Ryan menghela nafasnya, ada sedikit rasa bersalah pada Anya karena telah membentak wanita itu.
Tapi rasa itu tertutupi oleh rasa sakitnya terhadap Anya yang berlaku seperti itu pada Irana belum lagi dirinya yang tidak habis pikir kalau Devan berpacaran dengan wanita itu.
Ryan mengacak rambutnya, "Tau ah pusing gue !".
Tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang, Ryan yang kaget langsung berdiri tapi matanya seketika membeku karena tidak percaya dengan seseorang yang sedang berada di hadapannya sekarang.
"Ih Ryan kok Lo gitu ?". Tanya Irana bingung.
Irana ? Sekarang ia memang sudah bebas dari penjara dan tentu Anya lah yang membebaskan dirinya, mulai dari nama dan kampus semua sudah kembali menjadi miliknya.
"Lo udah bebas ?". Tanyanya, seperti tidak percaya jika Irana sudah bebas ia kira Anya akan membebaskannya bukan dalam waktu dekat.
"Gue kangen lo Yan !". Irana maju mendekati Ryan, lengannya ia gandengkan dengan Ryan.
Irana baru mengetahui bahwa Ryan mencintai dirinya, jika begini sangat mudah bagi Irana mendekati Devan dengan memanfaatkan Ryan.
Ryan mengangguk, "Lo udah makan ?". Tanyanya.
Irana menggeleng lemah, "Makan yu ?". Ajaknya.
"Emang Tante lagi masak Yan ?".
"Engga, mamah lagi arisan sama temennya. Bibi yang masak". Irana mengangguk lalu menggenggam lengan Ryan kuat.
Ryan yang semakin merasa jantungnya berdetak cepat membuat dirinya merasa limpung dengan pegangan Irana padanya.
__ADS_1
Mereka makan dengan hidangan yang bi Rumi sajikan, Irana sebenarnya ingin sekali menanyakan Devan. Sudah sangat lama ia tidak bertemu dengan pujaan hatinya.
Tapi entah pertanyaan yang bagaimana yang harus dirinya tanyakan yang pasti tidak menyinggung perasaan Ryan.
"Kok Lo udah pulang ? Kelasnya udah beres ?".
"Gue izin".
"Kenapa ?".
"Males".
Irana memegang lengan Ryan, Ryan yang merasa lengannya di pegang tersentak kaget, "Yan kalo ada apa-apa bilang ke gue ya ?".
Irana melepaskan tangannya, "Bukan apa-apa sih, cuman gue gak tau mau bales budi apa ke lo karena Lo baik banget ke gue". Alibinya
Ryan tersenyum, Irana sebenarnya adalah perempuan yang baik hanya saja cintanya pada Devan membuat dia menjadi seperti ini.
"Gue lagi gak akur sama Devan ?".
Irana menaikkan alisnya, "Kenapa ?".
"Masalah Anya yang ngebuat lo jadi begini, gue gak terima dan dia marah ke gue".
"Maafin gue ya ?".
Ryan menoleh, "Gue akan ngelindungin lo apapun hal yang ngebuat lo dalam masalah Ran ?".
__ADS_1
Irana cukup terenyuh dengan penuturan Ryan, ternyata sudah sejauh ini Ryan mencintai dirinya.
"Gue ngedenger dari orang lain kalo lo suka sama gue ?". Ia mencoba berbicara secara perlahan memastikan bahwa ucapan tidak benar.