
"Serius Dev lo tadi ngomong sama Anya mantan lo apa bukan ?".
Sangat mengesalkan memang berbicara dengan Ryan. Devan sudah bercerita mengenai pertemuannya dengan Anya tapi Ryan malah memojiki dirinya seperti Devan lah yang halu tentang pertemuan ini.
"Gimana lo aja deh Yan".
"Lah pa dokter malah ngambek".
Mereka masih di cafe yang sama dimana Anya meninggalkan Devan, ia menelpon Ryan untuk segera menemuinya di sini. Bagi kalian yang belum tahu Tentang Ryan, sekarang Ryan pun sama telah menjadi dokter.
Tetapi Ryan sedang melanjutkan kuliah lagi untuk mengambil gelar spesialisdokter gigi di Jakarta. Mereka telah terbiasa seperti ini jika ada waktu luang keduanya pasti bertemu.
"Gue mau nanya, apa lo masih cinta sama dia ?".
Pertanyaan Ryan itupun Devan pertanyakan lagi pada dirinya. Devan pun tidak tahu perasaan apa yang ia bisa rasakan saat bersama dengan Anya. Tapi bisa ia pastikan kalau ada sesuatu yang di khawatirkan jika melihat Anya.
Ryan mengunyah makanan dengan tenang, "Dengan lo begini aja gue udah tau jawabannya".
Mata Devan beralih, "Gue juga gak tau apa gue masih cinta sama dia apa enggak". Jelas Devan sambil menghela nafas.
"Lo tadi cemburu gak liat dia sama ehem pacar barunya".
Sudah jelas jika tadi Devan sangat panas saat melihat Anya mengandeng tangan cowok lain. Hatinya seperti di bakar oleh sesuatu, entahlah mungkin Devan yang terlalu lebay.
Devan tahu ia tak memiliki hak apapun tentang hubungan mereka. Emang dirinya siapa ? Hanya mantan yang menyakiti lalu meninggalkan seseorang dalam keadaan sakit.
"Aduh, lo tuh masih cinta sama Anya tau gak Dev". Sarkas Ryan.
"Terus gue harus gimana". Tanya Devan sambil memandang ke arah Ryan.
Ryan yang melihat wajah kusut Devan langsung tertawa keras. Kebiasaan memang Ryan kalau melihat Devan menderita selalu menjadi bahan lelucon.
Di rasa puas tertawa Ryan mencoba menarik nafas, lalu di buang. "Kalo lo masih suka kenapa ga coba aja buat perjuangin dia lagi, tapi menurut gue itu bakal susah apalagi sekarang Anya udah punya pacar".
Itu sebenarnya yang dari tadi Devan pikirkan. Devan bukanlah lelaki yang suka merusak hubungan orang lain apalagi hanya perkara cewek. Ia pun sebenernya bingung dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Bukannya lo jomblo sampe sekarang cuman gegara nungguin dia, terus dia udah punya pacar dan baik-baik aja kenapa lo gak mencoba cari cewek lain ?".
Di rumah sakit banyak sekali perempuan yang mencoba untuk mendekati Devan. Mulai dari dokter Renata yang masih mencari perhatian Devan sampai dengan nurse yang bekerja di sana.
Tapi tetap saja seberapa banyak orang cantik dan memiliki jabatan tinggi yang sama dengannya jika Devan masih mencintai Anya itu akan percuma.
Devan menegak minuman yang ia pesan sampai habis, "Gue mau balik lagi ke rumah sakit, Lo yang bayar Yan". Ucap Devan sambil memakai snnelli lalu pergi meninggalkan Ryan.
"Dasar dokter pelit". Cibir Ryan.
...***...
Anya terus memperhatikan kekasihnya yang sangat telaten dalam menjaga kesehatan dirinya melebihi Anya sendiri, "Aku manja banget ya ?". Tanya Anya sambil mengunyah makanan.
Farrel mengusap surai rambut Anya yang memang ia sukai karena wanginya. Semenjak menjadi kekasih Anya ia sudah bertekad untuk menjaga wanita ini agar tetap sehat dan selalu di sampingnya.
"Apa kamu gak mau nanya tentang aku yang tadi ketemu sama dia di kafe ?".
"Mantan kamu ?".
"Kamu gak cemburu ?".
"Buat apa ?".
Sejenak Anya selalu berfikir apakah Farrel mencintai dirinya atau tidak karena Farrel tidak pernah memperlihatkan rasa cemburu sedikit pun pada Anya.
Farrel tersenyum melihat Anya, seolah dia tahu apa yang sedang kekasihnya itu pikiran.
"Itu kan masa lalu kamu Nya, mungkin ada sesuatu hal yang perlu dia omongin. Yang penting sekarang kamu udah sama aku, gak peduli gimana kejadian di masa lalu kamu selama itu gak ngegangggu hubungan kita aku gak masalah". Tuturnya.
Ahh rasanya Anya semakin cinta pada Farrel. Lelaki ini sangat dewasa dari dirinya yang terlihat seperti anak kecil. Farrel selalu menanggapi permasalahan dengan pikiran terbuka dan tentunya dengan sudut pandang yang beda pula.
Ia selalu paham bahwa seseorang melakukan sesuatu hal pasti ada alasannya. Farrel tidak pernah marah tuh saat Anya bermain dengan teman-temannya padahal saat itu kebanyakan cowok yang ikut.
Anya mengambil alih mangkuk yang Farrel pegang lalu ia simpan di atas meja.
__ADS_1
"Udah kenyang ?". Tanyanya.
Anya menggeleng kemudian ia memeluk Farrel dengan erat seolah Farrel akan pergi jauh.
"Aku sayang banget sama kamu". Ucapnya.
Farrel terkekeh oleh perilaku Anya yang menurutnya sangat lucu, tak lupa Farrel juga mengelus kembali rambut Anya. Dengan begini saja mereka selalu menyalurkan rasa sayang di antara keduanya.
"Makan lagi ya ?". Anya menganguk.
"Tapi Rel selama aku balik lagi ke sini kayaknya aku bakal sering ketemu dia. Apalagi aku kan berobatnya di rumah sakit itu".
Farrel terdiam, "Gak papa dong Nya. Asalkan kamu gak balikan lagi sama dia".
Anya tersenyum lebar, "Kenapa senyum-senyum begitu ?". Tanyanya.
"Cemburu ya ?". Ucapnya sambil menoel hidung Farrel yang mancung.
"Wajar dong sayang kan aku pacar kamu masa aku gak cemburu". Jelas Farrel.
Anya hanya mengangguk-angguk, pacarnya ini selalu beralasan jika sedang begini.
"Nya". Panggil Farrel.
Farrel menoleh ke arah lain dan berfikir sejenak mencoba menimbang hal yang akan di bicarakan dan hal itu membuat Anya penasaran, "Ada apa sih sayang, kok kayak cemas gitu ?". Anya menggoyangkan lengan Farrel agar berbicara.
"Gini, kita kan pacaran udah lama kenapa kita gak coba aja buat menuju tahap yang lebih serius". Jelas Farrel.
Sekarang Anya yang malah terdiam mendengar tahap serius. Pertanyaan ini selalu Anya hindari jika Farrel selalu mengajaknya menikah.
Menurut Anya menikah itu adalah hal yang tabu. Bahkan sampai sekarang ia belum pernah tuh berfikiran tentang hal-hal rumah tangga dan sebagainya.
"Kalo kamu belum siap gak papa kok". Lirihnya, "Jangan terlalu di pikirin ya Nya. Aku cuman pengen selalu menjaga kamu sampai akhir hayat kamu".
Jawaban Farrel justru membuat Anya tersentuh, Anya tahu Farrel adalah idaman semua wanita. Sudah baik, pinter kaya pula, lalu apa yang Anya perlu cari lagi dari sosok Farrel.
__ADS_1
Tapi kenapa hatinya seperti ada tarikan yang seolah bertolak belakang dengan pemikirannya. Anya tahu ini salah, setiap ia berusaha yakin justru hatinya semakin ragu.