Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
53 MABA


__ADS_3

Irana membawa kotak makan menuju rumah sakit untuk Ryan, sengaja ia mempersiapkan ini karena tunangannya itu selalu pelupa dalam hal sarapan.


Tunangan ? Sebenarnya Irana pun tidak percaya akan menjalin hubungan selama ini dengan Ryan. Mungkin karena keduanya jarang bertengkar dan selalu memahami satu sama lain.


"Ini mas, makasih ya". Abang ojol itu menerima uang dan pergi.


Sengaja Irana ke sini menggunakan ojol karena jika menggunakan mobil sudah pasti waktu makan siang akan habis hanya karena macet. Ia berjalan menuju ruangan Ryan, di wajahnya sangat tercetak jelas kalau ia tengah berbahagia.


Irana melihat jika keadaan rumah sakit sekarang tidak terlalu ramai. Matanya terus menelusuri setiap lorong yang ia lewati. Tepat di belokan terakhir wajahnya langsung berubah seketika.


Di sana Irana melihat Ryan yang sedang tersenyum ke arah suster yang entah Irana pun tidak tahu. Dasar lelaki mata keranjang melihat wanita bening saja langsung tergiur bagaimana jika sudah menikah nanti.


"Ekhmm Ekhmm".


Keduanya menoleh, Ryan yang melihat keberadaan Irana pun langsung kaget. Pasalnya ia tidak memberitahu dirinya jika ia akan datang kesini.


"Bagaimana pa jadi makan siangnya ?". Tanya suster yang berparas sangat cantik.


Irana yang mendengar itupun langsung paham dengan kelakuan Ryan di luar. Berbeda dengan Ryan yang seolah tengah tertangkap basah karena sudah berselingkuh.


"Emm, lain waktu aja ya. Soalnya saya ada urusan".


Suster tadi menoleh pada Irana yang menunjukkan wajah tidak bersahabat, "Baik dok, saya permisi dulu".


Ryan mengangguk, rasanya ia sudah ketar-ketir melihat wajah Irana yang sepertinya akan meledak saat ini juga.


"Sayang...".


"OHH KELAKUAN..."


Ryan langsung menyambar mulut Irana, "Sayang jangan di sini ya, di luar aja yah kalau mau marah".


Nafas Irana naik turun, Ryan ini sangat keterlaluan memang. Merayu perempuan di saat Irana akan mengajak makan siang bersama.


Matanya beralih pada kotak makan yang pacarnya bawakan, tangannya bergerak cepat untuk meraih itu. Seketika tangannya langsung di tepis oleh Irana.


"Ini bukan buat kamu".

__ADS_1


"Terus buat siapa ?".


"Pokoknya bukan buat kamu". Irana berbicara tepat di depan wajah Ryan, lalu membalikkan badan segera pulang.


"Ran, aku minta maaf". Lirih Ryan.


Irana menoleh ke belakang, ia maju beberapa langkah lalu menyerahkan kotak makan itu di tangan Ryan dengan cepat ia langsung pergi lagi.


...***...


Seperti biasa pulang sore sudah menjadi rutinitas Devan setiap hari. Tapi jika jadwalnya sedang padat mungkin ia bisa pulang sampai larut malam. Maka dari itu Devan selalu menyempatkan diri untuk berolahraga sebelum rentetan jadwal menyerangnya.


Saat ini ia sedang berada di dalam mobil menuju arah rumahnya. Devan belok dulu ke arah Alfamart karena ada sesuatu yang harus ia beli.


Kakinya melangkah masuk dan melihat setiap rak menemukan barang yang ia butuhkan. Tadi Femi menitipkan sesuatu padanya karena ia tidak bisa membeli karena malas keluar rumah.


Devan membuka ponsel dan mencari barang tersebut. Tapi matanya malah melihat seseorang yang ia kenal juga sama sedang berbelanja.


Kedua mata mereka bertemu, "Devan ?". Tanya Anya.


"Belanja ?". Anya menganguk, memang apalagi jika ke sini masa ia malah tidur.


Anya terus berusaha menggapai barang yang sangat tinggi, kenapa ia harus di lahirkan pendek seperti ini jadinya sangat menyusahkan saja.


Devan membatu Anya untuk mengambil barang, "Nih".


Anya langsung menyambar barang itu, ia sangat menyesali kenapa harus kesini tadi. Tapi Anya memang sangat butuh barang-barang yang ia beli ini jadi mau bagaimana lagi.


"Oh iya gue lupa mau nanya, lo ngapain tadi di rumah sakit ?".


Tuhan kenapa Devan harus menanyakan itu padanya. Anya harus menjawab apa, lagipula kenapa Devan sangat kepo dengan keberadaannya tadi di rumah sakit.


"Enggak ngapain-ngapain, emang ada apa ?".


Devan menganguk, "Gak, kalo ada apa-apa bilang aja. Siapa tau gue bisa bantu".


Anya membuang wajahnya, "Gue gak butuh bantuan lo".

__ADS_1


"Lo sendiri ?". Tanya Devan


Anya mengangguk, "Apa orang tadi pacar lo Nya ?". Tanya Devan memastikan


"Syukurlah semoga dia ngejaga lo dengan baik, bukan kayak gue".


Anya terkekeh, sangat jelas jika Farrel selalu menjaganya dengan baik dari pada seorang dokter di depannya yang selalu serakah akan kehadiran dua mantannya.


"Emang dia lebih baik dari pada lo". Cibirnya.


Devan memandang Anya yang pergi meninggalkan dirinya. Mungkin dengan begini Devan harus lebih menerima kenyataan bahwa Anya tidak lagi mencintai dirinya.


Kata mencintai terkadang membuat Devan tertawa. Ia mungkin berekspektasi terlalu tinggi jika Anya masih mencintai dirinya tapi nyatanya semua telah berubah seiring berjalannya waktu.


"Semuanya jadi lima ratus ribu". Ucap kasirnya.


Anya mengeluarkan dompet dari tasnya, tapi benda kecil itu pun tidak ia temukan juga. Anya menepuk dahinya ia adalah orang yang pelupa pasti tadi ketinggalan di kamarnya.


Harus bagaimana dirinya sekarang, jika ia bilang tidak jadi pasti ia akan di sebut pembohong.


"Ni mba".


Anya menoleh di sana Devan mengeluarkan uang untuk belanjaan dirinya. Rasa malu Anya telan seketika, kenapa juga ia harus lupa seperti ini mana barang yang ia beli sangat banyak.


"Lo masih sama. Pelupa". Ucapnya sambil membayar barang yang ia beli.


"Entar gue ganti". Ucap Anya.


Seketika hujan turun sangat deras, lagi-lagi ini menjadi kesialan bagi Anya. Masa ia harus membawa belanjaan sebanyak ini sambil berjalan. Anya tidak memakai kendaraan apapun saat kesini.


Ia pun tidak tahu jika semua ini akan terjadi jadi Anya hanya pasrah menunggu hujan reda. "Pacar lo kemana ?".


Anya menoleh, Devan lagi. Tidak mungkin juga ia menyuruh Farrel menjamputnya karena Farrel sedang berkerja. Bisa saja Anya menelpon tapi Ia tidak ingin selalu merepotkan kekasihnya itu.


"Lo kalo mau pulang, pulang aja". Sarkas Anya.


Devan menaikkan satu alisnya, lalu ia menyambar belanjaan yang Anya bawa.

__ADS_1


"Cepet ke mobil gue, hujan kayak gini lama berhenti". Titahnya. Tak lupa Devan membuka jaket yang ia pakai untuk penutup kepala Anya.


Anya terdiam, jantungnya berdetak tidak normal mendengar perhatian Devan yang sudah lama tidak ia dengar. Kenapa badannya malah beraksi seperti ini setelah semua hal yang Devan lakukan padanya.


__ADS_2