Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
90 MABA


__ADS_3

Dengan meneguhkan hati Anya datang ke kantor polisi, entah dengan tujuan apa tapi dirinya merasa semua ini harus ia bereskan. Tidak penting memang mengurus hal-hal tentang Devan. Lelaki itu sudah cukup ikut campur dalam kehidupannya.


Hentakan sepatu berhak tipis memecah keheningan dan membuat seseorang yang tengah termenung menoleh.


"Anya". Panggilannya


Mendengar Devan menyebut namanya membuat rasa mual dalam perut Anya. Lebay memang, tapi pandangan Anya justru tidak menoleh pada sumber suara.


"Kenapa lo ngelakuin ini semua ? Apa lo belum puas ngacak-ngacak hidup gue ?".


Devan menelan salivanya dia tahu Anya marah padanya. Lalu matanya beralih pada perut Anya yang semakin membesar, tiba-tiba rasa bersalah muncul dalam hatinya. Bodoh memang dirinya menyia-nyiakan cewek sebaik Anya.


"Maaf". Lirihnya


"Gue gak butuh maaf lo, lo tuh terlalu egois jadi orang Dev. Gue bingung kenapa gue bisa ketemu sama orang kayak lo ! Kalau tahu di kampus gue bakal ketemu sama lo gue lebih mutusin buat gak kuliah atau cari kampus lain". Anya berbicara dengan tegas bahkan suaranya sekarang sudah naik satu oktaf.


"Lo tuh takdir gue Nya".

__ADS_1


Anya terkekeh, "Lo tuh bukan takdir lo itu pembelajaran buat hidup. Oh iya, harusnya gue makasih sama lo kalau bukan karena lo gue gak mungkin ketemu Hilmi".


Mendengar nama Hilmi membuat Devan kembali marah. Tidak jelas memang, terkadang seseorang membenci orang lain tanpa alasan.


"Lo tuh dangkal banget sih Nya. Pikir pake logika mana ada cowok yang mau nerima cewe yang lagi hamil anak orang".


"Gue gak peduli tentang itu, selama gue cinta gue bakal perjuangin. Sekarang gue yang gak ngerti apa lo gak ada rasa bersalah sama Hilmi ?". Sarkas Anya.


HAHAHAHA


Tatapan keduanya menajam, entah Anya yang bego atau Devan yang bodoh semuanya tidak bisa Anya pahami


"Lo tau Hilmi pemegang saham terbesar bokap gue dan gue di suruh sebagai penjilat buat dia supaya perusahaannya tetap Kokoh. Sorry Nya gue bukan orang kayak gitu, gue mau jadi gue apa adanya. Apalagi setelah mendengar lo bakal nikah sama Hilmi setelah bokap ngomong begitu buat kepala gue makin stres".


Devan berbicara dengan tenang seolah semuanya memang berasal dari dalam jiwanya. Anya sekarang paham kenapa Devan melakukan semuanya. Dia memang paham Devan adalah orang yang akan melakukan hal-hal nekat jika sedang di radang masalah.


"Masalah gue masih cinta sama lo itu juga bener. Setelah di pikir lagi kayaknya gue ikhlas dengan kebahagiaan lo sekarang. Gue akui Hilmi cowok baik gak kayak gue yang brengsek. Maafin gue Nya, gue emang salah".

__ADS_1


Syukurlah jika Devan sudah sadar, kesalahan tetap kesalahan. Devan harus mendapatkan balasan apa yang sudah di perbuatanya.


Kaki Anya melangkah mendekati Devan di balik jeruji besi. "Mau pegang". Tanya Anya


Devan menoleh matanya menatap Anya lalu turun ke bawah. Tangannya mendekat mencoba memegang anak dari dirinya, seketika rasa hangat setelah menempel pada perut Anya menjalar kedalam tubuhnya. Devan yakin ia masih memiliki kekuatan dari sini, kekuatan yang membuat dirinya untuk bertahan hidup. Anya terharu melihatnya syukurlah juga Devan sudah mau mengakui anak ini bagaimana pun Devan adalah ayahnya.


"Jaga baik-baik Nya". Pesan Devan


Anya mengangguk, "Gue pulang dulu".


Devan mengangguk tanda membalas ucapan Anya. Setelah menjenguk Devan Anya bergegas untuk pergi ke rumah sakit karena ini sudah waktunya ia kembali. Sebelumnya ada Mama Riri atau mamanya yang berseling untuk menjaga Hilmi karena Anya harus melihat toko.


Ponsel dalam sakunya bergetar pertanda ada pesan masuk. Anya membuka ponsel dan melihat pesan dari mamanya.


Mama:


Anya cepat ke rumah sakit, Hilmi nak. Cepet.

__ADS_1


__ADS_2