
"Iya Nya". Sekarang Naya yang berbicara, "Gue kira lo bakal kasian sama kak Irana, menurut gue udah cukup lo masukin dia ke penjara jangan sampe nama dia juga jadi tercemar !".
Terlihat kekecewaan yang tersirat meskipun Naya mencoba untuk berbicara baik tapi sesuatu yang keluar dari bibirnya membuat Anya merasa sakit hati.
Suasana kelas pagi begitu dingin semua orang menghakimi bahkan memperlihatkan Anya secara terang-terangan.
Semua kembali pada tempat duduk saat dosen sudah masuk, Anya mencoba merenungi ini. Kenapa mereka menjadi begini ? Anya menegakkan bahunya ia baru ingat bahwa kemarin ia berbicara dengan Niana.
Apa Niana yang membuat berita seperti ini ? Jika di pikirkan lagi Niana pantas melakukan ini, karena dirinya Irana di keluarkan dari kampus. Coba saja ia lebih berhati-hati dalam berbicara, jika begini dirinya lah yang bodoh akan cinta.
Selama dosen menjelaskan Anya berpikir untuk pergi ke kantor polisi dan membebaskan Irana sekaligus ia akan meminta maaf meskipun ia tahu ia tidak akan mendapatkan maafnya.
Kelas pertama telah selesai dan Anya bergegas untuk pulang di lihatnya Siren dan Naya yang melewati dirinya, tapi Anya merasa bodoh amat sudah terbiasa dari dulu ia sudah tidak punya teman. Jadi sekarang jika mereka menjauh sama sekali tidak mempengaruhi dirinya.
Selesai merapikan meja dan peralatan dirinya langsung bergegas pergi dan sepertinya Anya harus menerobos dari banyaknya orang yang sedang menggosipkan dirinya.
Mencoba menarik nafas panjang dirinya merasa harus membereskan ini semua, ia sudah dewasa tidak seharusnya lari dari karena hal seperti ini.
"Gue gak nyangka Lo begitu !". Baru tiga langkah suara itu membuat kakinya terhenti.
Saat berbalik ternyata itu adalah suara Ryan, terlihat tangan Anya mulai meremas ujung baju, mungkin karena melihat wajah Ryan yang di balut marah membuat Anya takut seperti ini.
Ryan maju beberapa langkah dan itu semakin membuat jantungnya berdetak lebih cepat, "Lo udah puas ?". Ucapnya.
Dirinya mencoba mengangkat kepalanya ia percaya jika dirinya laki-laki pasti sudah habis di tangan Ryan. Anya pun mengakui dirinya bersalah dan ia akan menebusnya sekarang.
__ADS_1
"Maaf". Hanya kata itu yang mampu Anya ucapkan.
"Apa dengan maaf, lo bisa balikin Irana ke kampus dan keluarin dia dari penjara ?".
Di lihatnya Anya yang selalu menunduk ia tak berani menatap mata Ryan yang sedang seperti ini.
"Jawab Nya !". Teriak Ryan.
Semua orang yang melihat kejadian itu langsung kaget pasalnya Ryan adalah anak yang terkenal selalu sabar dalam hal apapun, karena kejadian seperti ini langka mereka lihat.
Anya mencoba memejamkan matanya, "Kalo begini caranya lo sama aja tau gak ? kayak Irana yang munafik, gue kira lo anak baik taunya begini. Salah gue nilai lo !".
Perkataan Ryan sangat menusuk ke dalam hatinya, tapi Anya mencoba untuk menerima semua ini, mungkin ini adalah teguran atas perlakuan yang memang sangat bodoh Anya lakukan.
Ryan menggeram, memang sangat frustasi bagi Ryan karena Irana adalah orang yang sangat dia cintai.
Ryan berlalu meninggalkan Anya yang menunduk sambil meremas kedua tangannya, hari ini menjadi hari yang sangat ia benci dalam hidupnya, tapi Anya akan berusaha untuk membereskan ini semua.
Ia memesan ojek online untuk pergi ke kantor polisi sendiri. Lagipula siapa yang akan mengantar dirinya, Naya dan Siren tidak mungkin mereka sudah nyaman berdua.
Devan ? Ahh, sampai lupa Anya tidak ingin merepotkan dia karena Devan pun sedang sibuk dengan ujiannya, dirinya mempunyai prinsip jika bisa di lakukan oleh sendiri kenapa harus meminta bantuan orang lain.
Perjalanan ke kantor polisi tidak jauh hanya 10 menit saja Anya sudah berada di depan kantornya sekarang. Dirinya harus menyiapkan mental yang kuat supaya Irana lebih bisa menerima kehadirannya.
"Tunggu sebentar !". Anya mengangguk, titah seseorang yang akan menjemput Irana.
__ADS_1
Selang beberapa menit Irana datang dengan kepala yang menunduk, tak bisa di pungkiri jika Anya merasa terenyuh dengan penampilannya, jika dulu Irana selalu berpakaian modis sekarang dia seperti orang yang tidak bisa mengurus diri.
Ini memang salahnya, kenapa tidak dari kemarin saja ia mengeluarkan dia dari sini ? Kenapa dirinya begitu egois terhadap orang yang khilaf akan cinta ?.
"Silahkan !". Anya menunduk seraya berterimakasih.
"Ngapain lo di sini ?". Tanyanya.
Ia bingung harus mulai dari mana, tapi Anya akan mencoba menjelaskan dengan jelas tanpa bertele-tele.
"Maafin gue karena gue lo jadi begini.."
Irana tertawa keras, "Kenapa, kenapa lo baru sekarang setelah gue di keluarin dari kampus HAH ?".
Di ruangan itu hanya ada dirinya dan Irana, dan suasana terasa mencekam sepertinya ia akan di bunuh di tangan Irana.
"Lo tuh jahat tau gak, lebih jahat dari gue, gue udah nerima dengan lo masukin gue ke penjara, tapi apa ini gak cukup buat Lo ? Apa Lo seneng gue menderita ?".
Anya hanya diam ia berharap dengan begini Irana dapat mengeluarkan kegelisahan dia terhadap dirinya, dalam keadaan seperti ini pun sepertinya dirinya pun butuh kekuatan.
Kekuatan ? Selama dirinya hidup Anya hanya di temani oleh dirinya sendiri, tidak pernah Anya di kuatkan bahkan di beri perhatian lebih oleh orang terdekatnya. Orang tuanya merasa kalau dirinya baik-baik saja seperti orang kebanyakan tapi tidak. Anya tertekan dengan semua ini.
"Gue tau Lo gak akan pernah maafin gue, gue akan minta pihak sekolah buat balikin lo ke kampus dan gue akan bersihin nama Lo atas kasus gue. Tenang aja gue gak akan kabur, setelah semua beres gue akan pergi dan gak ada lagi masalah di antara lo !".
Anya berdiri, dirinya sudah mantap dengan keputusan ini, meskipun ia berat harus meninggalkan Devan kekasihnya tapi ia akan memilih untuk kembali pada orang tuanya.
__ADS_1
Anya akan pindah kampus dan mungkin ini akan membuat masalah sekarang selesai. Ia tahu kalau Irana sejak tadi mendengar apa yang Anya katakan tapi ia diam saja.
Baru setelah tidak ada, Ia tersenyum menang atas keputusan Anya yang akan pergi dari hidupnya dan tentu Devan akan kembali bersamanya nanti.