
Persiapan membawa Anya ke luar negri telah di siapkan dengan baik mulai dari keluarga maupun pihak rumah sakit itu sendiri. Sekarang mereka hanya tinggal menunggu pesawat yang akan membawanya.
"Pah kapan pesawatnya datang ?".
"Sabar mah katanya 20 menit lagi, karena mereka juga perlu pengecekan lagi saat membawa orang". Wijaya terus menenangkan Femi yang dari tadi gusar karena persiapan yang di lakukan cukup lama tapi tak menampik bahwa semuanya berjalan lancar.
Fani dan Afra pun sama mereka membantu Arin dan Wijaya dalam proses ini, keduanya tidak bisa ikut ke luar negeri tentunya hanya mengantar sampai bandara. Keduanya tahu jika Anya di sana dalam waktu yang cukup lama.
Sangat sedih memang meninggalkan sosok Anya dalam diri mereka, Anya itu adalah orang yang baik, Jika dulu Anya meminta mereka untuk mengajarinya beradaptasi pasti Afra dan Fani lah yang selalu mengerti keadaannya.
"Assalamualaikum tante, om".
Ternyata yang datang adalah Ryan, "Ngapain Lo ke sini ?". Sarkas Afra.
"Ihh gak boleh gitu lo Ra". Kebiasaan Afra memang seperti ini selalu mengajak ribut orang di saat yang tidak tepat.
"Sebelumnya maaf tante saya Ryan teman Anya dari kampus yang dulu, saya ke sini bawa buah sekalian buat jengukin Anya". Jelasnya.
"Makasih ya nak Ryan". Ucap Arin sambil mengambil buah yang di berikan oleh Ryan.
Sengaja Ryan ke sini ia rasa tidak boleh egois seperti yang lainnya, lagi pula dia dulu juga telah berdosa karena bersikap kasar pada Anya.
Dahinya mengerut karena banyak sekali suster yang bolak-balik di dalam ruangan.
"Maaf tante, ini ada apa ya ? Kok pada keluar masuk begini".
"Anya mau di bawa ke luar negri". Jawab Fani.
"Kenapa ?".
"Karena rumah sakit udah gak bisa nanganin penyakit Anya".
Kaget tentu, Ryan sangat kasihan jadinya. Bagaimana jika Devan tahu Anya akan pergi untuk waktu yang lama. Iya, sebaiknya ia menelpon Devan dan memberitahunya.
Ryan menjauhi kursi orang tua Anya dan tentunya cewek dua itu, lengannya langsung membawa ponsel di saku dan mencari nomor Devan.
Satu
Dua
Tiga kali telpon Devan tidak aktif, padahal jika jam segini paling Devan sedang berolahraga atau tidur. Ryan bingung lalu ia berinisiatif untuk menyusul Devan ke rumahnya.
__ADS_1
"Permisi tante, om. Saya ada urusan mendadak, jadi mau izin pulang dulu".
"Gak niat banget sih lo jengukinnya". Fani menyenggol lengan Afra.
"Bukan gitu, gue takut ganggu perawat yang lagi ngurusin Anya aja. Dari pada ganggu kan". Tuturnya.
"Iya kok ga papa, makasih ya udah mau jengukin Anya". Ucap Arin sambil tersenyum.
Ryan mengangguk, kemudian langsung pergi dan berjalan ke pelataran parkiran, menstrater motor sambil membawa motor dengan menancap gas penuh.
Berharap Devan bisa melihat Anya untuk terakhir kalinya sebelum mereka benar-benar di pisahkan oleh jarak dan waktu. Karena Ryan yakin Devan memang masih mencintai Anya maka akan ia perjuangkan cinta sahabatnya.
Tak butuh waktu lama akhirnya ia sudah sampai di halaman depan rumah Devan. Buru-buru Ryan melepaskan helm dan masuk ke dalam rumah Devan.
"Eh ada Ryan, ada urusan sama Devan ?". Ucap Femi yang sedang membaca majalah di ruang TV.
Ryan mengangguk, "Devan dimana tante ?".
"Di atas".
"Makasih tan". Ryan langsung melangkah lebar menaiki anak tangga menuju kamar Devan. Nafasnya sudah tersegal karena terlalu banyak berlari.
Ryan membuka lebar daun pintu dan di sana ia melihat jika Devan sedang bermain PS sendiri. Ingin rasanya memukul wajah sahabatnya ini tapi keadaan sedang tidak mendukung.
"Dev Anya bakal di bawa ke luar negri, katanya rumah sakit yang nanganinya udah gak bisa lagi". Ucapnya dengan nafas yang memburu.
"Terus ?".
Ryan melangkah masuk, "Lo gak mau lihat dia terakhir kalinya lagi gitu Dev ?".
"Maksud lo dia bakal mati". Ucapnya sambil mematikan ps.
Ryan tidak habis pikir dengan ucapan Devan, temannya ini memang terlalu gengsi atau menyumpahi orang lain mati.
Bugh
"Apa-apaan sih lo Yan". Teriaknya.
Devan memegang ujung bibirnya yang sobek akibat pukulan Ryan, "Gue tau Dev Lo masih sayang kan sama dia, terus kenapa Lo malah nyumpahin dia meninggal".
Devan terkekeh kecil, "Lo tau apa hubungan gue sama dia hah, lo aja dulu bersikap brengsek sama kayak gue sekarang".
__ADS_1
Ryan mengangguk, "Gue tau, tapi sekarang gue udah mikir dan minta maaf sama Anya. Sebagai sahabat gue cuman mau ngingetin lo Dev kalo penyesalan itu ada".
"Lo udah kayak orang gila kan gegara masalah penyakit Karen, coba deh sekarang lo belajar dari pengalaman apa lo bakal ngelakuin hal yang sama ke Anya, enggak men. Awas aja lo stress lagi masalah ini gue gak akan ikut campur Dev".
Devan terdiam, dari hati kecilnya tak bisa bohong jika Devan memang masih sangat mencintai Anya, tapi rasa keras kepala Anya selalu menutupi itu semua.
"Kesampingin dulu deh ego lo Dev, lo udah dewasa dan gue yakin lo udah bisa ngatasin masalah sendiri". Ryan menepuk bahu Devan pertanda ia yakin dengan sahabatnya ini.
Satu menit berlalu Devan masih berdiri di tempat, mulai sekarang mungkin Devan hanya akan mendengarkan apa kata hati. Persetan dengan Karen ia tidak peduli karena Devan sekarang mencintai Anya bukan masa lalunya.
Devan langsung mencari jaket dan kunci motor.
"Dimana Anya sekarang". Ucap Devan sambil mencengkram bahu Ryan.
Ryan tersenyum, ia sangat bersyukur karena Devan mau menurunkan ego dalam keadaan seperti ini.
"Dia masih di rumah sakit, lo cepet ke sana aja".
Jelas Ryan.
Devan langsung berlari ke bawah dengan langkah cepat, bahkan Femi bertanya pun tidak Devan hiraukan. Sambil berlari ke arah motor Devan tak melihat ada batu yang menghalangi jalannya.
Dagunya baret akibat badannya terjatuh di aspal, Devan tidak menghiraukan rasa sakit dan langsung naik ke atas motor, sama seperti Ryan ke rumah Devan. Ia pun menancap gas kencang ke arah rumah sakit, tak peduli dengan lampu merah Devan mencoba meliukkan motornya agar cepat sampai di rumah sakit.
"Pake macet segala lagi".
Jika begini terus ia yang mungkin tidak akan melihat Anya untuk selamanya, Jadi Devan memutuskan untuk berlari dan meninggalkan motornya.
Peluh keringat sudah membanjiri tubuh Devan, sekuat tenaga Devan berlari padahal nafasnya sudah sangat terengah-engah.
Akhirnya Devan telah sampai di rumah sakit, ia langsung melangkah ke arah resepsionis dan menanyakan kamar Anya.
"Kamar bernama Anya di nomor berapa mba ?".
Resepsionis itu mencoba mencari melalui komputer, "Maaf mas pasien bernama Anya sudah di bawa menuju bandara untuk di pindahkan ke luar negeri".
"Di bawanya kapan Mbak ?".
"10 menit yang lalu". Jawabnya.
Semoga Devan keburu menyusul Anya ia memilih untuk naik taksi menuju bandara.
__ADS_1