Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
75 MABA


__ADS_3

Hilmi langsung membawa Anya menuju rumahnya. Ia begitu khawatir akan keadaan Anya karena wajahnya terus mengeluarkan keringat. Hilmi juga tidak tahu apa penyebab Anya langsung pingsan.


"Cepetan dikit ya pa". Supir itu mengangguk dan langsung menancap gas lebih cepat.


Persetan dengan acara lagipula pak Darma akan mengerti situasi ini. Kepala Anya tengah bertumpu di paha Hilmi, matanya terpejam dengan rapat.


Apa yang terjadi


Sejak tadi pertanyaan itu menggantung di kepalanya. Tentang Anya yang seolah menyembunyikan sesuatu, tentang lelaki tadi yang membuat ekspresi Anya berubah pesat. Hilmi yakin mereka ada hubungan sebelumnya. Padahal ia tidak tahu dari mana Anya berasal, asal-usulnya ataupun rumahnya. Sengaja dirinya tidak ingin menanyakan hal seperti itu dulu tapi keadaan membuat dirinya harus bergerak.


Mobil yang mereka tumpangi telah sampai di rumahnya. Hilmi turun dan memutari mobilnya membuka pintu mobil dan membopong Anya kedalam rumah.


Tujuan utamanya adalah kamar tamu, Hilmi melangkah dan merebahkan tubuh Anya di kasur.


Riri masuk dan kaget melihat Anya dalam kondisi tidak sadar, "Anya kenapa Hilmi ?".


"Hilmi juga gak tau mah".


Riri membawa kotak P3K dan mencoba mendekatkan minyak hangat pada hidungnya. Hilmi terus memperhatikan gerak-gerik mamanya yang terlihat jelas jika ia sangat khawatir.


Riri membuka baju bagian depan sedikit agar Anya tidak merasa pengap. Hilmi yang melihat belahan dadanya langsung memalingkan wajah. Mamanya ini tidak paham atau bagaimana ? Sudah jelas jika di sini masih ada anaknya.

__ADS_1


Mata Anya mengerjap pertanda kalau dia sudah sadar. "Mi bawa air". Titah Riri.


Hilmi melangkah ke belakang atas perintah mamanya. Riri yang melihat kalau Anya sudah sadar membantunya untuk duduk dengan bersender pada bantal yang di dirikan.


"Ni mah". Anya meminum sedikit air yang di berikan padanya. Seketika kepalanya langsung terasa sangat berat, "Jangan banyak gerak dulu sayang". Anya menoleh ternyata ada Tante Riri.


Matanya beralih ke samping dan di sana juga ada Hilmi, kenapa dirinya bisa di sini ? Ah ia ingat. Devan, apakah dirinya pingsan karena bertemu dengan masa lalunya?.


"Kayaknya Anya harus banyak istirahat dulu mah".


Riri mengangguk, "Iya, kamu istirahat ya. Mama tinggal dulu, ayo mi".


"Ada hal yang harus Hilmi tanyain dulu ma". Sebenarnya itu hanya alibi Hilmi agar mamanya memberi ruang pada dirinya.


"Minum lagi", Titahnya.


"Makasih". Katanya.


"Lo masih bisa jawab apa yang gue tanya ?".


Sangat ambigu, pertanyaan Hilmi tentu tidak membuat Anya paham. Dirinya hanya pingsan bukan amnesia.

__ADS_1


"Ada apa di antara kalian ? Antara lo sama cowok tadi yang bernama Devan ?". Hilmi menanyakan ini secara to the poin, meskipun ia merasa ini bukan urusannya tapi Hilmi merasa kalau ia harus tahu.


Mendengar kata Devan jelas membuat Anya kaget, apakah dirinya sangat terlihat perubahan saat Devan menghampirinya ? Jika itu benar, tolong jangan sekarang.


Baru juga dirinya menemukan Hilmi orang yang mau menerima kehadiran dirinya. Masa sekarang ia harus di tendang lagi dari jalan hidupnya. Tolonglah, Anya sudah nyaman seperti ini.


Tangan Hilmi terulur untuk mengelus pipi Anya, "Gak usah takut".


Tanpa sadar satu bulir air matanya keluar, harus kemana lagi dirinya setelah ini ? Apakah dirinya akan menjadi orang yang tidak di inginkan dalam hidup orang lain ? Tuhan, dirinya sangat membutuhkan sosok Hilmi yang mengerti keadaan jika hidupnya tengah terpuruk. Percuma jika Anya membicarakan masalah kehamilannya, pasti Hilmi tidak akan nerima itu.


Hilmi yang melihat jawaban atas tangisan orang yang di cintainya langsung mendekat dan memeluk Anya. Mencoba menyalurkan rasa tenang kalau dirinya tetap di sampingnya.


Ini memang terdengar lucu, Hilmi mengakui kalau ia mencintai Anya dalam waktu yang cukup singkat. Ada rasa dalam hatinya untuk selalu melindungi wanita yang entah berasal dari mana.


"Kalaupun aku jawab pasti kamu bakal ninggalin aku". Lirihnya.


"Sutt, coba ceritain dulu". Jelas Hilmi pelan-pelan.


Anya menggeleng, ia sangat takut untuk melakukan ini. Semua hidupnya sudah ia pertaruhkan saat dirinya pergi dari rumah. Anya tidak mungkin untuk kembali karena pasti mamanya tidak akan menerima kehadiran dirinya.


Dengan satu tarikan nafas Anya mencoba memantapkan hatinya dan menceritakan kejadian apa yang menimpa dirinya. Mulai dari penyakit dirinya, hubungannya dengan Devan dan Farrel dan sampai ia bisa di usir dari rumahnya.

__ADS_1


Sepanjang Anya bercerita entah ekspresi apa yang harus Hilmi tunjukan. Anya tahu setelah ini tidak akan ada orang yang mau mendekati dirinya lagi termasuk Hilmi.


"Gitu Hil, gue tau gue gak pantes ada di dekat lo".


__ADS_2